Gerakan 30 september partai komunis Indonesia adalah suatu gerakan yang dimana yang bertujuan untuk melawan pemerintahan yang dianggap mereka sangat tidak sesuai dan penuh dengan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) serta ingin mengganti ideologi pancasila dengan ideologi NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan komunisme). Tentu hal ini sangat tidak sesuai dengan dasar Negara Indonesia yaitu ideologi  pancasila.

Dari keinginan besar orang-orang komunis yang ingin menjadikan ideologinya dikenal dan dipakai dinegara Indonesia yang baru merasakan kemerdekaan atas perang melawan para penjajah. Dan disini Indonesia mengalami pertumpahan darah kembali melawan para pemberontak dalam negeri yang tak lain didalamnya didalangi oleh orang-orang pemerintahan sendiri seperti, D.N Aidit, M.H. Lukman, dan Njoto dan masih banyak lainnya.

Orang-orang PKI terkenal sangat kejam dan keji serta terencana dan terorganisir dalam melakukan pemberontakan dan menentang pemerintah, selain itu secara bersamaan mereka melakukan perbuatan yang sangat tidak manusiawi yang sangat melanggar jauh dari nilai HAM (Hak Asasi Manusia), yang sejatinya manusia diperlakukan seperti hewan atau binatang yang mana kekejamannya sangat tidak punya hati dan pikiran normal yang mengakibatkan penderitaan yang mendalam bagi rakyat Indonesia.

Didalam tragedi yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia ini ada berita duka yang sangat mendalam dikarenakan ada tujuh jenderal yang meninggal secara bersamaan yaitu, jend. Ahmad Yani, M.T Haryono, D.I Panjaitan, Soeprapto, S. Parman, Sutoyo, dan Abdul haris. Ketujuh jenderal ini pada hari itu sedang jadi incaran pasukan PKI dan terbukti pada malam itu operasi yang dipimpin oleh letkol. Untung sutopo dan jenderal yang lain berhasil diamankan oleh para pasukan PKI didaerah lubang buaya.

Pada saat disandera disinilah kekejian PKI mulai terkuak, ketujuh jenderal disiksa dengan perlakuan-perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Yang mana hebatnya para jenderal walau merasakan sakit dan bahkan bercucuran darah tetap dalam pendiriannya untul mempertahankan NKRI dan sampai pada akhirnya ketujuh jenderal dibunuh dengan cara yang sangat tidak manusiawi dan jasad para jenderal dimasukkan didalam sebuah sumur didaerah lubang buaya yang mana diatas tanah timbunan sumur ditanami sebatang pohon pisang.

Dan kemudian ketujuh jenazah ditemukan pada tanggal 3 oktober 1965 dan pengangkatan jenazah dilakukan keesokan harinya pada 5 oktober 1965, seluruh jenazah dimakamkan ditaman makam pahlawan dan ketujuh jenderal diberi gelar pahlawan revolusi. Dan diabadikan pada monumen pancasila serta setiap 1 oktober diperingati sebagai hari kesaktian pancasila yang sangat penuh makna dan penuh nilai-nilai perjuangan yang telah dicontohkan oleh ke tujuh pahlawan revolusi nasional.

Menurut cendekiawan Franz Magnis-suseno dalam seminar diledalera, maumere pada 19 september 1965 menyatakan bahwa, dan rentetannya yang mengerikan itu tidak pernah benar-benar dibicarakan secara terbuka. Dan ini termasuk krisis HAM yang sangat berat diindonesia terbukti data menunjukkan, pembunuhan yang terjadi diindonesia setelah peristiwa G30S-PKI sebagai genosida terbesar ketiga didunia dalam kurun waktu 50 tahun terakhir dua lainnya terjadi dikamboja dan ruwanda.(Magnis-suseno, demokrasi agama, pancasila, 2021).

Korban peristiwa kelam waktu itu tak hanya itu, masih ditambah banyaknya orang yang ditahan tanpa pengadilan. Menurut Sudomo, Pangkopkamtib saat itu, seluruhnya ada total 1,9 juta orang yang ditahan. Banyak dari mereka yang diperlakukan seperti binatang, mendapatkan kekerasan, dan bahkan pemerkosaan. Yang dilepaskan pun tidak bisa kembali seperti manusia normal pada umumnya. Dan mirisnya mereka kehilangan semua hak asasi manusia seperti hilangnya hak kewarganegaraan dan hak yang lainnya.

Krisis yang terjadi pada era orde baru ini sangat menjadi perhatian masyarakat dalam negeri dan bahkan dunia. maka sejarah lampau yang kelam ini harus kita jadikan pelajaran dan mampu mengingatkan untuk seluruh anak bangsa bahwasannya Indonesia terlahir dari bangsa yang hebat dan besar, namun sayangnya masih saja ada oknum pemerintah yang enggan untuk membaca kembali betapa sulitnya bangsa ini berjuang sampai nyawapun menjadi taruhannya.

Sudah semestinya disini pemerintah pada era globalisasi ini lebih mengayomi rakyat dan mengutamakan kepentingan rakyat bukan sebaliknya mereka seenaknya merampas hak-hak rakyat untuk kepentingan dan kesejahteraan hidup nya masing-masing dengan maraknya melakukan KKN(Korupsi, kolusi dan nepotisme). Karena semestinya bangsa ini sudah menikmati dan meneruskan perjuangan para pendahulu bukan merasakan penjajahan lagi dengan tipu daya para penguasa negeri saat ini.

Pada kesimpulan dan manfaat tulisan kali ini diantaranya adalah, kita sebagai anak bangsa patut berbangga hati karena kita terlahir dari bangsa yang besar namun kita sebaliknya harus memikirkan bagaimana cara mengimplementasikan dalam kehidupan berbangsa bernegara dan pengamalan nilai-nilai pancasila, selain itu dengan adanya tulisan ini penulis berharap seluruh rakyat Indonesia mengetahui bahwasannya penting dalam mengulas kembali sejarah masa lampau perjuangan bangsa ini dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas cinta tanah air dan senantiasa menjaganya dengan baik.

Dan dengan adanya sejarah G30/SPKI ini, harapannya ini menjadi edukasi bagi para penguasa negeri terkhusus dibidang pemerintahan agar selalu mengedepankan hak-hak rakyat jangan sampai kita meneruskan tradisi buruk dari partai komunis yang selalu merampas hak-hak rakyat Indonesia. Pemerintah pada saat ini sudah seharusnya mengedepankan rakyat diatas kepentingan dan hajat pribadi jangan sampai tradisi-tradisi komunis hidup kembali dan berkembang seperti dahulu lagi sungguh ini sangat tidak diharapkan oleh siapapun dan bahkan bangsa ini.