Mahasiswa
1 bulan lalu · 35 view · 4 min baca menit baca · Budaya 95385_73989.jpg

Tradisi Unik Kota Semarang

Setiap negara, kota, maupun daerah pasti memiliki ciri khas atau budaya masing-masing. Seperti halnya tradisi di kota Semarang, Jawa Tengah yang membuat saya tertarik.

Tradisi “Dugderan” ini merupakan festival dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadan. Banyak sekali cara dan tradisi yang bisa warga lakukan dalam menyambut bulan puasa, salah satunya tradisi “Dugderan” yang dilakukan warga kota Semarang. Sayangnya masih banyak orang yang belum mengetahui tentang tradisi ini.

Nama “Dugderan” sendiri diambil dari kata “Dug”, artinya suara pukulan bedug, dan “Der” berarti suara ledakan meriam atau petasan. Perpaduan nama tersebut menggambarkan bulan suci Ramadan yang diawali dengan bedug dan diakhiri dengan meriam atau petasan.

Munculnya tradisi “Dugderan” berawal dari perbedaan penentuan awal Ramadan oleh umat Islam. Sehingga RMT. Aryo Purbaningrat, Bupati Semarang, berinisiatif menentukan awal Ramadan, yaitu setelah bedug Masjid Agung Jawa Tengah dan meriam di halaman pendapa kabupaten yang masing-masing dibunyikan tiga kali pada tahun 1881.

Sebelum memukul bedug dan menyalakan meriam atau petasan, dilaksanakan dahulu upacara di halaman pendapa kabupaten.

Suara bedug berbunyi “Dug Dug” dan meriam terdengar “Der Der” itulah yang menarik perhatian warga kota Semarang dan sekitarnya untuk berdatangan. Warga pun mengenal tradisi “Dugderan” untuk menandai awal dimulainya pelaksanaan ibadah puasa.

Walaupun telah berusia ratusan tahun, warga Semarang tetap melestarikan tradisi “Dugderan” sampai sekarang. Dugderan bermulai dari seminggu sebelum bulan puasa dan berakhir sehari sebelum bulan puasa. 


Selama seminggu tersebut, diadakan pasar kaget bernama “Dugderan” yang menjual beraneka ragam kebutuhan, seperti mainan tradisional, peralatan masak tradisional, mobil-mobilan dari kayu, truk kayu dengan berbagai ukuran, busana muslim, sampai beraneka macam makanan dan minuman.

“Acara ini unik, ramai. Setiap tahun pasti digelar menjelang Ramadan. Tak hanya untuk membeli mainan tradisional anak-anak, tapi juga sekaligus mengenalkan pada anak bahwa kita punya Warak Ngendhog,” kata seorang warga bernama Nurhaeni.

Puncak acara Dugderan adalah sehari sebelum bulan suci Ramadan. Puncak acara ini sering kali menyedot perhatian masyarakat, karena diisi dengan arak-arakan kirab budaya yang diikuti pasukan merah putih, drumband, pasukan pakaian adat berbagai daerah, meriam, serta berbagai kesenian di kota Semarang.

Di samping itu, yang membuat unik puncak acara Dugderan, karena di dalamnya terdapat maskot hewan khas Dugderan bernama Warak Ngendhog yang artinya Warak Bertelur. 

Secara bahasa, Warak Ngendhog berasal dari bahasa Arab “Wara’ah” yang berarti menahan dari sesuatu yang buruk. Sementara “Ngendhog” berasal dari bahasa Jawa, artinya bertelur. Warak Ngendhog merupakan makhluk fiktif yang menjadi maskot kota Semarang sejak dulu.

Saking antusiasnya menyambut bulan suci Ramadan, para warga biasanya sudah berjubel di jalanan sejak siang harinya ketika acara belum dimulai. Para warga akan berebutan mengambil hiasan mobil atau manggar yang dibawa peserta karnaval.

Arak-arakan Warak Ngendhog inilah yang berbeda dari tradisi lainnya, dan menjadi daya tarik bagi warga termasuk wisatawan yang sedang berkunjung ke kota Semarang pada saat itu. Arak-arakan tersebut akan melewati Balaikota sampai dengan Masjid Agung Jawa Tengah yang dulunya hanya sampai di Masjid Agung Semarang di Pasar Johar.

Salah satu hal menarik yang menjadi ciri khas tradisi “Dugderan” ini, yaitu adanya warna-warni Warak Ngendhog dan bentuknya yang sangat unik. Warak Ngendhog dibuat dari kertas warna-warni, sehingga terlihat paling mencolok dan menarik perhatian pengunjung.

Wujud Warak Ngendhog dengan kepala menyerupai kepala naga, sebagai ciri khas kebudayaan dari etnis Tionghoa. Sedangkan, badannya berbentuk seperti unta sebagai ciri khas dari etnis Arab. Sementara, keempat kakinya menyerupai kaki kambing yang melambangkan ciri khas kebudayaan dari etnis Jawa.


Dengan unsur Cina, Arab, dan Jawa yang menyatu harmonis dalam wujud Warak Ngendhog tersebut menjadikan pemersatu bagi warga kota Semarang, khususnya saat menyambut bulan suci Ramadan.

Ketika telah diumumkan tanggal 1 Ramadan oleh Masjid Agung Jawa Tengah, barulah bunyi “Der” yang menjadi penanda dimulainya bulan suci Ramadan. Acara tersebut berlangsung hingga azan Magrib berkumandang, dengan begitu menandai Pasar Dugderan secara resmi ditutup dan akan dibuka lagi tahun depan pada saat menyambut bulan suci Ramadan berikutnya.

Tradisi “Dugderan” masih tetap lestari meskipun pelaksanaannya sudah banyak berubah. Penyebab perubahan tradisi ini antara lain pindahnya pusat pemerintahan ke Balai Kota di Jalan Pemuda dan berkembangnya bangunan-bangunan pertokoan di sekitar pasar Johar.

Walau demikian, upacara tradisi “Dugderan” di halaman pendapa kabupaten tetap dilaksanakan pada waktu yang sama, tepatnya sehari sebelum menjalankan ibadah puasa.

“Dugderan sudah menjadi event nasional yang ditunggu masyarakat tidak hanya warga Semarang saja. Meski ada beberapa perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, Dugderan tak pernah berkurang maknanya,” jelas Hendrar Prihadi, Wali Kota Semarang.

Masih banyak tradisi-tradisi disetiap daerah yang memiliki ciri khas masing-masing. Dari tradisi “Dugderan”, dapat kita ambil maknanya antara lain, yaitu tetap melestarikan tradisi atau budaya yang sudah diwariskan secara turun-menurun dan juga dapat dijadikan sebagai pembelajaran untuk anak cucu kita.

Tradisi ini juga dapat sebagai pengenalan dan pembelajaran budaya bagi siswa-siswi mulai dari sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah atas (SMA). Selain itu juga, dapat dijadikan sebagai daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke kota Semarang.

Artikel Terkait