Tradisi atau yang biasa dikenal sebagai adat adalah suatu kebiasaan yang telah dilakukan dalam kehidupan masyarakat secara turun-temurun. Sebagian besar masyarakat Indonesia tentunya mengenal beberapa tradisi besar di Indonesia, antara lain: Upacara Ngaben di Bali, Ritual Riwah di Kalimantan Tengah, Tabuik di Sumatra Utara, dan berbagai tradisi lainnya.

Namun, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin kurang mengenal Riyaya Unduh-Unduh. Acara ini merupakan sebuah tradisi yang cukup terkenal di wilayah Jawa Timur, salah satunya adalah di Kecamatan Mojowarno, Jombang. 

Riyaya Unduh-Unduh merupakan sebuah tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh Umat Nasrani, yaitu jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW). Tradisi ini diselenggarakan sebagai ungkapan syukur atas kelimpahan berkat yang diberikan kepada Tuhan Yang Maha Esa berupa hasil panen yang telah mereka terima.

Munculnya Riyaya Unduh-Unduh menjadi sebuah bukti konkret bahwa manusia akan melakukan tindakan religi karena adanya getaran atau emosi yang ditimbulkan dalam jiwa dan juga adanya ajaran agama yang menimbulkan kekuatan bernafaskan religi sehingga manusia terdorong melakukan upacara keagamaan (Koentjaraningrat, 1987).

Tradisi Unduh-Unduh ini berasal dari kata "undhuh" atau "ngundhuh" yang artinya memetik, yaitu memetik atau memanen buah, hasil tani, dan juga hasil ternak. Tradisi ini merupakan sebuah akulturasi tradisi Jawa dengan ajaran Kristen.

Riyaya Unduh-Unduh ini diselenggarakan setiap tahun sekali oleh jemaat Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dalam bentuk arak-arakan atau biasa dikenal dengan pawai. Dalam kegiatannya, Unduh-Unduh tidak hanya menampilkan pawai saja, melainkan juga diawali dengan kegiatan tertentu di dalam gereja pada pagi harinya dan diakhiri dengan pagelaran budaya di malam hari.

Kegiatan pawai yang diselenggarakan dalam Unduh-Unduh adalah mengarak berbagai hasil bumi seperti padi, sayur-sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil panen berupa hewan ternak juga ikut serta diarak. 

Kegiatan pawai hasil panen ini menggunakan gerobak besar dengan berbagai hasil panen yang telah ditata serapi mungkin di atas gerobak tersebut. Beberapa gerobak tersebut juga diisi dengan bangunan-bangunan buatan yang besar disertai hasil panennya.

Dalam pawai tersebut, hasil panen yang telah dibawa kemudian dilelang secara bebas kepada masyarakat umum yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Sisa hasil panen dari kegiatan arak-arakan digunakan oleh jemaat untuk pelayanan gereja dan sebagian lainnya dibagikan kepada masyarakat yang sekitar yang sangat membutuhkan.

Dalam perayaan Unduh-Unduh, setiap rangkaian acara yang diselenggarakan tidak hanya sekadar perayaan dan bentuk syukur terhadap hasil panen. Tradisi ini juga mengandung makna toleransi dalam rangkaian acaranya. Toleransi yang terwujud dalam kegiatan ini adalah toleransi terhadap sesama masyarakat yang beragama.

Toleransi merupakan suatu bentuk sikap saling menghargai dan menghormati antarkelompok atau antarindividu dalam masyarakat atau lingkup lainnya. Sedangkan toleransi beragama bermakna bahwa adanya sikap menghargai perbedaan kepercayaan atau keyakinn yang dianut oleh setiap individu.

Dalam tradisi Unduh-Unduh, dapat ditemukan beragam bentuk toleransi yang dapat terjadi dalam interaksi masyarakat. Bentuk-bentuk toleransi tersebut berupa waktu pelaksanaan kegiatan, persiapan kegiatan, dan toleransi yang tampak saat acara berlangsung.

Toleransi berupa waktu pelaksanaan sangat berkaitan erat dengan toleransi agama. 

Meskipun tradisi ini diadakan oleh jemaat gereja, tetapi dalam pelaksanaannya tetap memperhatikan keadaan masyarakat sekitar yang sebagian besar adalah Muslim. Dalam hal ini, toleransi yang ditunjukkan berupa tidak melaksanakan serangkaian acara Unduh-Unduh yang mengganggu kegiatan keagamaan agama lain, terutama bagi masyarakat Muslim, yaitu saat ibadah salat.

Toleransi lainnya adalah saat persiapan kegiatan atau acara. Berdasarkan keterangan salah satu jemaat, diketahui bahwa serangkaian persiapan tidak sepenuhnya dilakukan oleh jemaat saja, tetapi ada bantuan dari masyarakat sekitar yang non-Nasrani. 

Dalam hal ini, masyarakat sekitar turut memberikan bantuan tenaga berupa bantuan dalam membuat bangunan-bangunan besar yang akan digunakan dalam acara arak-arakan serta membantu saat kegiatan pawai berlangsung.

Sedangkan toleransi yang tampak saat acara berlangsung adalah dengan hadirnya sejumlah tokoh masyarakat dengan beragam agama yang dianut, antara lain: Islam, Hindu, Buddha, sehingga menunjukkan "guyub" yang berarti bahwa meskipun memiliki perbedaan dalam hal kepercayaan atau keimanan, seluruh masyarakat tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu senantiasa untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah ada.

Tak jarang pula, para tamu undangan yang bukan merupakan jemaat gereja (berbeda agama) juga turut memberikan berbagai bentuk suguhan beragam kesenian seperti tarian maupun kesenian lainnya. 

Selain itu, rangkaian acara Unduh-Unduh juga menyajikan salah satu bentuk cinta budaya. Dalam hal ini, cinta budaya sendiri tampak dengan menggunakan tari-tarian dalam serangkaian acara dan ditampilkannya pagelaran wayang kulit sebagai penutup dari serangkaian acara Unduh-Unduh tersebut.

Serangkaian acara dalam Riyaya Unduh-Unduh ini tentunya memberikan makna khusus terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Makna tersebut antara lain menjelaskan bahwa sebuah toleransi dalam masyarakat mampu menguatkan persatuan bangsa ini. Dan dengan adanya toleransi, bangsa ini bisa menjadi berdaulat, sejahtera, aman, dan makmur.

Selain itu, berbagai bentuk kebudayaan yang ditampilkan dalam rangkaian acara Riyaya Unduh-Unduh dapat menjadi sebuah panutan bagi setiap masyarakat Indonesia untuk senantiasa mencintai budayanya. 

Hal ini dikarenakan, budaya yang dimiliki bangsa Indonesia juga merupakan sebuah identitas nasional yang harus dilestarikan, sehingga bangsa ini tidak akan kehilangan ciri khasnya sebagai sebuah dengan masyarakat yang majemuk.