Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah dan tradisi budayanya yang beragam, maka tidak salah jika Indonesia selalu dijuluki sebagai Tanah Surga. Keberagaman tradisi di Indonesia pastinya memiliki ciri khas yang berbeda di setiap daerahnya, salah satunya di Kota Pekalongan, Jawa Tengah.

Kota Pekalongan yang biasa dikenal sebagai Kota Batik ini memiliki tradisi yang unik, yaitu tradisi lopis raksasa. Tradisi ini biasa dilakukan sepekan setelah Hari Raya atau pada 7 Syawal. Tradisi Syawalan dengan pemotongan lopis raksasa ini dilakukan oleh masyarakat Kerapyak, Pekalongan, Jawa Tengah.

Tradisi Syawalan ini juga disebut “Krapyakan” atau disebut “lopisan” karena semua yang hadir akan menikmati lopis yang ditabur dengan kelapa.

Tradisi lopis raksasa ini dimanfaatkan sebagai media silaturahmi bagi para tamu-tamu yang hadir. Ribuan tamu hadir dari berbagai daerah berhasil memadati Desa Kerapyak setiap kali tradisi ini dilaksanakan. Bahkan, ada yang rela dari luar Jawa untuk ikut serta dalam tradisi ini.

Mengapa dimanfaatkan sebagai media silaturahmi? Sebab, pada saat yang bersamaan setelah pemotongan lopis masyarakat Kerapyak juga membuat acara open house untuk menerima para tamu yang hadir dari berbagai daerah, yang dikenal maupun tidak dengan sajian lupis ukuran biasa dan lotis (rujak buah).

Dilansir dari laman pekalongan.news, bahwa tradisi ini dalam teori fungsionalisme agama menurut Emil Durkheim, agama memiliki fungsi sosial, sebuah realitas sosial yang dapat diidentifikasikan sebagai kepentingan sosial.

Fungsi agama sendiri di antaranya mampu meningkatkan solidaritas, loyalitas, serta mampu mempererat hubungan yang harmonis bagi masyarakat melalui ritual-ritual keagamaan. Jadi, jika dikaitkan dengan tradisi lopis raksasa, ini menunjukkan bahwa suatu tradisi juga dapat meningkatkan loyalitas dan kesadaran masyarakatnya.

Tradisi ini juga menunjukkan bahwa yang dilihat dari sebuah agama dan tradisi ialah bagaimana seseorang mampu bertoleransi antara sesama, dengan perbedaan yang beragam. Mulai dari perbedaan agama, ras, sosial, dan ekonomi yang berkumpul menjadi satu dalam tradisi ini.

Asal Mula Tradisi Lopis Raksasa

Tradisi ini sudah turun temurun dilakukan setiap tahunnya, tradisi Syawalan ini dimulai sejak 130-an tahun yang lalu, tepatnya pada 1855 M. Pertama kali yang menggelar tradisi Syawalan ini ialah KH. Abdul Sirodj yang merupakan keturunan dari Kyai Bahu Rekso.

Mulanya KH. Abdul Sirodj melaksanakan puasa pada sehari setelah lebaran pertama tanggal 2 sampai 7 Syawal. Kemudian, puasa ini diikuti oleh masyarakat Kerapyak dan luar Kerapyak. Meskipun sebenarnya, tradisi ini tidak ada kaitannya dengan amalan puasa sunnah yang dilakukan oleh KH. Abdul Sirodj. 

Sebab, jarak waktu penetapan tradisi ini dan puasa sunnah yang dilakukan oleh KH. Abdul Sirodj sangat jauh yaitu tahun 1855, sementara lopis mulai dibuat sekitar tahun 1950 yang terinspirasi dari pidato Bung Karno saat itu.

Ketika itu Bung Karno datang dalam rapat akbar di Lapangan Rodjo tahun 1950, beliau berpesan agar masyarakat Pekalongan bersatu seperti lopis. Hal itu menjadi salah satu pencetus adanya tradisi ini. Tradisi sebelumnya pada acara Syawalan masyarakat hanya menyajikan lopis dengan ukuran yang biasa.

Pada zaman dahulu dibuatnya lopis untuk menjamu tamu, karena bagi mereka lopis adalah makanan yang tahan lama, selain lopis masyarakat Kerapyak juga menyuguhkan lotis (rujak buah) yang merupakan hasil tanaman masyarakat Kerapyak yang gemar menanam buah di halaman rumahnya.

Kemudian barulah upacara pemotongan lopis raksasa pertama kali dilakukan pada tahun 1956 oleh kepala desa daerah tersebut pada masa itu. Tradisi ini selalu rutin dilaksanakan setiap 7 Syawal atau H+7 lebaran.

Pemerintah Kota Pekalongan menjadikan tradisi lopis raksasa ini sebagai aset daerah yang perlu dilestarikan dan menjadikan lopis raksasa sebagai ikon Kota Pekalongan itu sendiri. Pada tahun 2019 prosesi pemotongan lopis ini dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Makna Tradisi Lopis Raksasa

Lopis terbuat dari ketan, tekstur ketan yang lengket dan tidak mudah buyar ini melambangkan suatu persatuan yang erat. Warna ketan yang putih juga dianggap melambangkan kesucian, artinya jika dikaitkan dengan pelaksanaanya yang masih dalam nuansa Hari Raya ini berarti kesucian (kembali fitri.

Tali yang melilit lopis tersebut ialah terbuat dari serat pelapah pisang yang memiliki makna kekuatan. Artinya, sesuatu yang sudah dicapai harus selalu dijaga. Sedangkan daun pisang sebagai pembungkus ketan melambangkan bahwa Islam yang selalu menumbuhkan kebaikan dan menjaga karunia Tuhan.

Pohon pisang dianggap oleh masyarakat Kerapyak memiliki makna agung dimana selalu meninggalkan kebaikan bagi makhluk lain. Pohon pisang mengalami kematian setelah ditebang atau setelah memberikan manfaat kepada manusia.

Filosofi ini yang diharapkan agar dapat ditiru oleh manusia dalam menjalani kehidupan yaitu dengan memberikan manfaat atau kebaikan kepada orang lain atau makhluk lainnya. 

Lopis raksasa ini juga dianggap sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. baik dalam hal usia, materi, dan kesehatan, sehingga masyarakat dapat menggelar tradisi ini.

Saat berlangsungnya acara lopis tersebut dipajang di panggung panitia dan kemudian dibagi-bagikan kepada tamu yang hadir dalam tradisi Syawalan ini. Hal yang menarik dari tradisi ini yaitu pembuatan lopis itu sendiri yang memakan waktu hingga 2-3 hari lamanya bahkan bisa lebih.

Berat lopis ini bisa mencapai 1 ton lebih dengan tinggi lebih kurang 2 meter. Hal tersebut yang menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk melihat tradisi lopis raksasa ini. Tradisi lopis raksasa ini juga pernah meraih rekor muri dari Museum Rekor Indonesia.

Sayangnya tradisi ini tidak dilakukan pada Syawal 1441H. Seperti yang kita tahu bahwa setiap tradisi selalu dihadiri oleh jumlah tamu yang banyak, hal itu menjadi suatu kekhawatiran bagi keselamatan banyak orang. Sebab, penularan wabah Covid-19 ini tidak dapat diprediksi tingkat penularannya

Maka, salah satu upaya dalam mengurangi penyebaran wabah covid-19 ini ialah dengan memberlakukan social distancing atau physical distancing. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memutus rantai penyebaran atau penularan wabah Covid-19.

Sumber

  • Gardjito Murdijati. Pekalongan Dendam Rindu Riuhnya Sari Bumbu. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Anggota IKAPI, 2015)
  • Cintapekalongan.com: “Sejarah Tradisi Lopis Raksasa Kota Pekalongan”
  • Pekalongan News: “Representasi Agama dalam Tradisi Syawalan Lopis Raksasa Krapyak Pekalongan”
  • Inibaru.id: “Lopis Raksasa, Sajian Khas Syawalan di Pekalongan”
  • Rosidin. Jurnal Al-Ulum Volume 16 Number 1 June 2016. “Tradisi Lopis Raksasa dalam Persfektif Kerukunan Umat Beragama di Kota Pekalongan”