Penulis
9 bulan lalu · 983 view · 3 min baca menit baca · Budaya 30947_63481.jpg
ANTARA Foto

Tradisi Sedekah Laut dan Kekerasan atas nama Tuhan

Tradisi adalah satu entitas tak terpisahkan dari kehidupan keseharian masyarakat kita yang majemuk. Dari masyarakat kita yang majemuk inilah terkandung varian tradisi yang tentunya menarik untuk terus kita bincangkan dan penting untuk kita rawat dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah tradisi sedekah laut atau lazim disebut petik laut.

Tradisi sedekah laut adalah tradisi turun-temurun masyarakat pesisir di Pulau Jawa untuk memohon keselamatan dari Maha Kuasa atas segala musibah dan marabahaya yang mengintainya setiap saat dan sebagai ekspresi rasa syukur atas limpahan nikmat yang Tuhan karuniakan melalui hasil laut yang melimpah ruah.

Tradisi sedekah laut ada jauh sebelum Islam datang ke tanah Jawa yang hingga hari ini tetap dilestarikan oleh generasi selanjutnya sebagai bentuk terima kasih kepada para leluhur, sebab mereka telah mengajarkan cara berlaut dn menangkap ikan yang baik.

Karena tradisi sedekah laut merupakan acara slametan, maka di dalamnya diisi dengan kegiatan keagamaan (baca: Islam) yang berupa pembacaan Alquran dan bacaan-bacaan sakral lainnya, seperti pemanjatan doa-doa untuk keselamatan masyarakat pesisir. Karena tradisi sedekah laut merupakan tradisi turun-temuran sejak pra-Islam, jadi, di dalamnya terdapat ritual yang kudus nan sakral.

Atas nama sakralitas inilah kemudian ritual itu tidak boleh dilewatkan dalam setiap pagelaran tradisi sedekah laut. Ritual itu berupa pelarungan sesaji ke tengah laut. Dulu, sebelum Islam datang, pelarungan sesaji ke tengah laut merupakan bentuk  penghaturan sesaji untuk penguasa laut yang diyakini bisa memberikan keselamatan dan kemudharatan.


Dalam pandangan Islam, jelas ritual ini merupakan kesyirikan karena telah menyekutukan Tuhan dengan yang lain, termasuk dengan makhluk penunggu laut. Tetapi seiring masuk dan berkembangnya Islam ke tanah Jawa, sedikit-demi sedikit tradisi sedekah laut tersebut diislamisasi.

Islamisasi yang dimaksud adalah mengislamkan segela bentuk adat dan ritual yang dinilai dan diyakini menyimpang dari ajaran Islam, seperti halnya pelarungan sesaji kepada penguasa laut. Hari ini, pelarungan sesaji tidak lagi dimaknai sebagai penghaturan sesaji kepada penunggu dan penguasa laut, melainkan tidak lebih hanya sebagai bentuk kaffahisme menjalankan tradisi ajaran nenek moyang.

Kaffahisme menjalankan tradisi dengan segala bentuk ritualnya merupakan ekspresi kecintaan terhadap tradisi-budaya warisan nenek moyang moyang. Jadi, sudah tidak lagi ada kepercayaan bahwa sesaji itu diperuntukkan untuk penguasa laut, sebagaimana diyakini oleh para leluhurnya terdahulu.

Sedekah laut yang sejak berpuluh-puluh tahun mentradisi dan dilestarikan oleh masyarakat pesisir, kini melahirkan pro-kontra. Sebenarnya sikap pro-kontra merupakan sesuatu yang absah di negara yang majmuk dan memiliki keaneragaman tradisi dan budaya ini. Tetapi menjadi tidak absah dan ilegal ketika pro-kontra tersebut malah direspons dengan kekerasan. Terlebih kekerasan tersebut mengatasnamakan Tuhan sebagaimana terjadi di Pantai Baru, Bantul.

Sebagaimana dilansir detikNews, bahwa persiapan tradisi sedekah laut di Pantai Baru, Bantul dibubarkan oleh sekelompok orang. Sambil mengobrak-abrik lokasi, mereka mengatakan bahwa tradisi sedekah laut syirik dan bertentangan dengan agama (detikNews/13/10/2018).

Peristiwa ini tidak hanya memilukan, tetapi juga memalukan. Bagaimana bisa kelompok yang merasa paling paham dan paling benar mengamalkan ajaran agamanya menyebut kelompok Islam yang lain syirik serta dengan pongahnya melakukan tindak kekerasan yang merugikan kelompok Islam yang lain? Bukankah tindakan kekerasan tidak dibenarkan di dalam Islam dengan alasan apa pun?


Sejatinya, Tuhan melalui ajaran agamanya mengajarkan tentang belas-kasih antarsesama, baik seagama, sepaham ataupun tidak. Agama itu selain memberikan petunjuk mengenai apa yang benar dan salah, ia juga memberikan rasa aman (Geertz, 1973). Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin.

Mau dicari di dalam literatur mana pun, kekerasan atas nama Tuhan tidak pernah dibenarkan. Ironis memang ketika Tuhan dijadikan alat pembenaran atas tindakan kekarasan yang dilakukan, bukan sebagai suatu kebenaran itu sendiri.

Tindakan kekerasan semacam ini lahir dari rahim klaim kebenaran absolut (absolute truth claim). Yaitu sebuah keyakinan yang menganggap yang lain salah dan hanya dirinya dan kelompoknya lah yang benar. Sehingga hanya dirinya dan kelompoknyalah yang berhak atas surga, sedangkan yang lain tidak.

Klaim semacam ini, menurut Al-Fayyadl, melahirkan penyesatan, kekerasan verbal, pemurtadan dan pengkafiran. Termasuk menyebut kelompok lain musyrik, sebagaimana terjadi di Bantul pada peristiwa perusakan dan kekerasan.

Sebaiknya, menurut saya, kekerasan atas nama apa pun, apalagi atas nama Tuhan tidak perlu terjadi karena itu malah menodai Tuhan yang kudus dan transenden, juga menodai Islam yang damai. Setiap perbedaan bisa kita selesaikan secara baik-baik, yaitu dengan dialog dan duduk bersama dalam satu majelis.

Dalam konteks kekerasan di bantul, jika tradisi sedekah laut dianggap sesat dan syirik, maka ingatkanlah mereka dengan baik (bil-hikmati wal maw’idhah hasanah), karena berdakwah itu mengajak bukan mengejek dengan menyebut mereka syirik.


Artikel Terkait