Politik sering kali dianggap “kotor”. Apalagi di kalangan anak-anak muda. Anak-anak muda banyak yang tidak mau bergelut dalam dunia politik. Lantaran katanya, “politik itu kotor”.

Sebenarnya bukan politiknya yang kotor tapi manusianya. Manusia yang berpolitik itulah yang kotor.

Kenapa kotor? Sebab mereka yang berpolitik sering kali melakukan hal-hal yang seharusnya mereka tidak lakukan, misalnya; korupsi, kolusi, dan nepotisme. Dan sekarang praktik-praktik itu telah menyebar dari tingkat desa sampai pusat. 

Sebenarnya hal-hal semacam ini sudah jadi rahasia umum. Semua orang sudah tau.

Kalau kita lihat, sekarang sudah mulai berdatangan, anak muda yang masuk politik. Entah mereka berada di eksekutif atau legislatif.

Tapi saya merasa kasihan sama mereka sebab masih muda tapi tidak punya prinsip. Kemarin bilang apa, sekarang beda lagi. Mungkin tidak semua. Mungkin juga ini gambaran yang membuat anak-anak muda yang lain enggan masuk politik, selain mereka melihat pendahulunya.

Ada sebuah ungkapan, “Kalau orang yang baik tidak masuk politik, maka orang yang tidak baik yang akan berkuasa”. Kurang lebih begitulah ungkapannya. Dalam hal ini saya setuju. Tapi terkadang, orang baik akan berubah, ketika dia sudah menjabat. Itu terjadi sebab alur perpolitikan memang begitu. Di mana-mana politik itu sama. Tidak ada bedanya.

Alur politik itulah yang bisa menjadikan mereka berubah. Politik selalu identik dengan kepentingan. Asal mereka untung, mereka bisa melakukan hal-hal yang seharusnya mereka tidak lakukan. Misalnya; Ada seorang calon kepala daerah (bupati), untuk melenggangkan jalannya menuju kursi bupati, ia memberikan uang dua ratus ribu per kepala, dan seterusnya.

Ada ungkapan yang sering kita dengar, “Politik itu dinamis”. Berarti tidak tetap. Misalnya; ia yang menjadi tim sukses capres, ia mengkritik keras kandidat seberang—padahal kritikanya tidak benar. 

Setelah dicalonkan sebagai cagub, dengan orang yang pernah ia kritik, ia mau. Kalau saya yang ada diposisinya, jelas saya tidak mau. Saya akan menolaknya. Sebab, ini bagian dari etika politik yang harus saya lakukan.

Hal-hal semacam itulah yang saya tolak. Bagi saya, hal semacam itu sangat fundamental. Saya tidak akan melihat hal-hal yang lain—dalam hal prestasi misalnya—kalau hal yang fundamental itu mereka langgar. Ini bagian dari etika politik. Dan ini yang hilang dari mereka. Tradisi politik kita “politik itu dinamis”. Jadi bisa loncat sana-sini.

Seperti apa yang saya utarakan di depan, dimana-mana politik sama. Bukan terjadi di negeri ini saja. Di amerika, eropa dan seterusnya juga begitu. Sama saja. Politik yang penuh dengan kepentingan. Yang membedakan itu semua, tergantung manusianya. Di dalam benak mereka hanya  tertanam satu ungkapan, bahwa “politik itu dinamis”.

Jadi itu sudah lumrah dan sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Dari itu mereka tidak merasa bersalah. Mungkin hanya dapat dihitung dengan jari orang yang tidak begitu. Atau mungkin malah sudah tidak ada.  Pasti ada saja orang yang bilang begini, “Yang namanya politik memang begitu, mengalir, banyak kepentingan, penuh intrik dan itu sah-sah saja”.

Ini yang keliru sebab hal-hal semacam itu sudah tertanam di kepala mereka. Mereka sudah terbiasa melakukannya. Dan itu sudah jadi tradisi dan susah untuk mengubahnya. Apakah hal-hal semacam itu bisa diubah? Bisa. Makin banyak orang yang menjaga etika politikya dalam berpolitik, nanti pada akhirnya akan banyak yang ikut. Tapi perlu waktu untuk mengubahnya.

Saya termasuk orang yang mengidolakan, Bung Hatta. Selain beliau cerdas, beliau adalah sosok yang sholeh, jujur dan sangat sederhana. Dan, kecintaan beliau pada bangsa ini. Seperti yang kita ketahui semua, beliau tidak mau menikah sebelum bangsa ini memperoleh kemerdekaannya.

Dan yang saya tahu, Gemala—putri Bung Hatta—pada saat kuliah di Australia. Gemala yang bekerja di kantor konsulat jenderal RI, suatu hari dia mau mengirim surat pada Bung Hatta. Tapi, karena amplop dia habis, dia memakai amplop milik konsulat. 

Dan, Bung Hatta mengingatkan dia, untuk jangan memakai amplop milik konsulat. Bagi Bung Hatta surat-surat dia itu surat pribadi bukan surat dinas. Jadi tidak baik memakai amplop milik konsulat. Begitulah balasan surat Bung Hatta.

Dan lagi, waktu Bung Karno ingin memberangkatkan Bung Hatta, untuk menunaikan ibadah haji, dengan gratis memakai uang negara. Beliau menolak. Beliau tidak mau memakai uang rakyat. 

Mungkin bagi Bung Hatta lebih baik tidak berangkat haji dari pada memakai uang rakyat. Dan pada akhirnya beliau berangkat juga dengan memakai uang pribadi—Dari hasil hononarium menulis buku.

Beliau sangat bersih. Saya rasa susah di zaman sekarang menemukan sosok seperti Bung Hatta. Kalau sekarang, susah membedakan antara pencitraan atau memang mereka betul-betul berempati pada masyarakat. Sepertinya, saya rasa mereka hanya sekadar pencitraan dan cari muka belaka. Demi mencari simpati masyarakat.

Bagi saya, Bung Hatta juga sosok yang romantis. Konon katanya, Bung Hatta memberikan mas kawin pada ibu Rahmi, sebuah buku yang berjudul “Alam Pikiran Yunani”. Banyak kisah Bung Hatta yang perlu kita contoh. Rasanya tidak akan ada habisnya kalau berbicara tentang Bung Hatta.

Saya cuma mau bilang begini, seandainya semua orang yang memangku jabatan di negeri ini, itu memiliki karakter seperti Bung Hatta. Mungkin hal-hal di depan tadi, yang saya utarakan tidak akan terjadi. Kepentingan dalam politik memang pasti ada tapi kita jangan terjerumus dalam kepentingan itu—yang membuat kita tidak memiliki etika dalam berpolitik dan merugikan banyak orang.

Kalau itu dilakukan tidak akan ada lagi ungkapan kalau “politik itu dinamis”. Dan, anak-anak muda yang tadi itu tidak beranggapan kalau “politik itu kotor”.