Mahasiswa
6 bulan lalu · 83 view · 3 menit baca · Agama 21943_55570.jpg

Tradisi Perkawinan Suku Sasak di Lombok

Kita ketahui bersama bahwa manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial. Mahluk yang diberikan akal dan perasaan yang bertujuan untuk berinteraksi dengan baik di mana pun dan dalam waktu kapan pun. 

Manusia sebagai makhluk sosial, dalam fitrahnya, saling membutuhkan satu sama lain. Di antara kebutuhan manusia yang paling urgen adalah kebutuhan terhadap pasangan hidup, membentuk keluarga yang bahagia, dan sejahtera.

Salah satu contoh dalam interaksi yang mampu membuat kesejahteraan keluarga maupun masyarakat adalah perkawinan. Dan tentunya setiap perkawinan di Indonesia khususnya mempunyai perbedaan antara daerah satu dan daerah lain. Perbedaan tersebut tidak lain dan tidak bukan karena disebabkan oleh kultur yang berbeda, seperti tradisi perkawinan suku Sasak di Lombok. 

Lombok memang terkenal dengan daerah seribu masjid dan banyak masyarakat yang menganut agama Islam. Perkembangan Islam di Lombok telah menjadikan alkulturasi budaya dalam resepsi perkawinan, khususnya di kalangan bangsawan suku Sasak.

Dalam budaya pernikahan suku Sasak Lombok, berkembang adat tradisi mengharuskan anak gadis bangsawannya menikah dengan laki-laki dari garis keturunan bangsawan dan tidak boleh menikah dengan laki-laki dari garis jajar karang. Dalam dogma yang berkembang, kalangan bangsawan adalah kalangan yang memiliki strata sosial yang lebih tinggi dari kalangan jajar karang.  

Upaya pencegahan pernikahan anak gadis dengan laki-laki non-bangsawan selalu diupayakan. Sanksi adat yang biasanya diberlakukan bagi pelanggar ketentuan adat ini cenderung bersifat sikap. Seperti bagi gadis bangsawan yang telah melarikan diri untuk menikah dengan pria di luar strata kebangsawanannya, maka sanksinya akan dibuang dan tidak diakui lagi sebagai bagian dari keluarganya serta pemutusan hak waris-mewaris.

Yang menjadi persoalan di sini adalah bagaimana tradisi tersebut bisa bertahan dan dapat berinteraksi dengan agama Islam. Kita ketahuhi di dalam Islam terdapat beberapa unsur di mana jika ada budaya yang tidak sesuai dengan syariat Islam, maka harus dihilangkan. 

Namun, jika kita melihat dari kacamata antropolgi, sebuah tradisi merupakan sebuah budaya. Budaya yang sudah mendarah daging dan menjadi sistem nilai, sistem tingkah laku, dan mengandung nilai-nilai luhur yang harus dipertahankan dan dilestarikan.

Dalam fenomena seperti ini, apakah adat tradisi Sasak yang sudah lama mengakar dan diperaktikkan harus dihapus karena tidak sesuai dengan Islam? Ataukah ada semacam rasionalitas kultural yang melahirkan beberapa alteratif yang bisa dipraktikkan dan menjadi budaya baru?

Istilah perkawinan dalam Islam disebut nikah atau ziwaj. Kedua istilah ini dilihat dari arti katanya dalam bahasa Indonesia ada perbedaan, sebab kata 'nikah' berarti hubungan seks antara suami-istri, sedangkan 'ziwaj' berarti kesepakatan antara seorang pria dan seorang wanita yang mengikatkan diri dalam hubungan suami-istri untuk mencapai tujuan hidup dalam melaksanakan ibadat kebaktian kepada Allah. Dan jika kita lihat di dalam Komplikasi Hukum Perkawinan, Pasal 2 berbunyi pernikahan adalah salah satu perintah Allah yang jika dilaksanakan maka memuat unsur ibadah.

Sedangkan tujuan perkawinan menurut hukum Islam adalah berbakti kepada Allah; memenuhi atau mencukupkan kodrat hidup manusia yang telah menjadi hukum antara pria dan wanita itu saling membutuhkan; mempertahankan keturunan umat manusia; melanjutkan perkembangan dan ketentraman hidup rohaniah antara pria dan wanita; mendekatkan dan saling menimbulkan pengertian antargolongan manusia untuk menjaga keselamatan hidup.

Seperti pada umumnya, sebuah resepsi perkawinan di masing-masing daerah mempunyai ciri khas masing-masing. Di dalam tradisi suku Sasak, hal tentang perkawinan pada umumnya dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu yang berdasarkan pada tuntunan adat. Proses tersebut meliputi di antaranya yaitu proses perkenalan, lari bersama untuk kawin, dan proses penyelesaiannya serta aqad perkawinan.

Masa perkenalan dan pemilihan jodoh melalui suatu lembaga adat yang disebut midang. Midang adalah kunjugan seorang laki-laki kepada seorang perempuan dengan maksud untuk mengadakan perkenalan, pendekatan, dan menjalin hubungan cinta.

Setelah beberapa kali midang dilakukan, barulah si pemuda menanyakan apakah perempuan pujaannya itu benar-benar mencintainya dan bersedia menjadi istrinya? Jika tawarannya diterima, barulah terjadi beberayean. Jika dua sejoli sudah sepakat untuk kawin, maka selanjutnya yang dilakukan adalah melarikan si gadis dari lingkungan orangtua serta keluarganya. Tidakan ini disebut merarik atau melaiang.

Proses tersebut adalah proses yang sudah mendarah daging dalam tradisi perkawinan di suku Sasak. Tidak heran jika banyak orang yang terkejut jika melihat tradisi seperti di Lombok. 

Setelah di merarik atau mealaing, selanjutnya ada bale panyeboan, yang mana kedua calon mempelai terikat dengan berbagai ketentuan adat yang ketat. Misalnya, mereka tidak boleh tidur bersama di satu tempat tidur sampai benar-benar telah menjadi pasangan suami istri yang sah.

Tradisi pernikahan suku Sasak telah ada sejak lama, dan sebelum Islam masuk pun suku sasak sudah mengenal perkawinan. Oleh karenanya, Islam datang dan menyebar di daerah Lombok melalui tradisi dan budaya, di mana terdapat keterhubungan antara tradisi budaya daerah dengan nilai-nilai Islam yang menjadikan sebuah tradisi yang utuh dan dapat dilestarikan sampai saat ini.