Researcher
1 minggu lalu · 38 view · 4 menit baca · Perempuan 25182_45849.jpg

Tradisi Merarik dan Perkawinan Anak Sasak

Masih lekat di ingatan saya tentang cerita teman perempuan dari Suku Sasak. Ia mengatakan bahwa kelak, ketika dia akan menikah, dia akan “diculik” oleh laki-laki. 

Spontan saya bertanya, “Kenapa harus diculik?”

Dia menjawab, "Begitulah tradisi perkawinan yang ada di daerah Lombok. Anak perempuan diculik oleh laki-laki, kemudian diserahkan kepada keluarga pihak laki-laki. Setelah diculik itu kami “dilindungi” oleh keluarga pihak laki-laki."

Besoknya, keluarga pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan dan dengan bangga mengatakan, “Kami telah menculik anak perempuanmu.”

Sebagai perempuan dari suku Madura, saya hanya bisa menyimak mendengar cerita teman kala itu. Karena menurut saya, perkawinan dengan model seperti itu adalah hal yang “baru” di telinga saya.

Hingga kini, tradisi kawin lari di Lombok NTB masih lestari. Masyarakat Lombok biasa menyebutnya dengan istilah "Kawin Merarik". 

Merarik adalah tradisi perkawinan masyarakat suku sasak di Lombok dengan cara melarikan anak perempuan untuk dinikahi. Dalam perkembangan selanjutnya, merarik lambat laun mengalami pergeseran.

Awal mulanya, merarik yang bertujuan untuk melindungi anak gadis sebelum terjadinya akad nikah yang sah yang dilakukan oleh pihak laki-laki justru tidak dilindungi oleh pihak laki-laki. Dalam kultur masyarakat Sasak, perempuan Sasak tidak memiliki peran sosial yang diperhitungkan dalam realitas kehidupan masyarakat.

Perempuan Sasak diatur dalam tata aturan sosial yang dampaknya banyak “merugikan” pihak perempuan Sasak sendiri. Salah satu contoh tata aturan tersebut adalah adanya aturan tidak tertulis bahwa perempuan Sasak “harus” menikah dengan laki-laki yang sekufu atau sama strata sosialnya atau sekelas dalam struktur sosial atau semarga.

Karena susahnya perempuan Sasak menikah dengan lelaki sekufu, maka tidak sedikit perempuan Sasak yang mendapat label “Moso”, yaitu perempuan perawan tua. 

Karena labeling dan stigma yang mencitrakan perempuan sebagai pihak yang negatif dalam kultur dan norma masyarakat Sasak, sehingga tidak sedikit perempuan Sasak yang dengan “sukarela” dilarikan oleh laki-laki yang sama-sama saling menyanyangi meskipun secara kultur tidak sekufu. 

Pada kasus kawin lari (merarik) yang demikian inilah yang kemudian menimbulkan dampak buruk yang berkepanjangan bagi perempuan.

Dampak-dampak buruk perkawinan merarik ini telah disampaikan oleh salah satu tokoh Fatayat NU yang berpengaruh di tanah Lombok, yaitu ustazah Baiq Mulianah Taqiudin dari Pondok Pesantren Al-Mansyuriyah Lombok dalam acara The International Young Muslim Women Forum pada 26 Oktober 2018 di Hotel Aryaduta Jakarta.

Meskipun perempuan Sasak dengan sukarela atau dengan kesepakatan bersama dengan pihak laki-laki untuk dilarikan (merarik), tapi dalam norma masyarakat Sasak, adalah aib manakala perempuan Sasak yang telah dilarikan oleh pihak laki-laki tapi tidak dinikahi.

Di sini terdapat “ambiguitas” pada diri perempuan Sasak dalam kultur masyarakat Lombok. Di satu sisi, ia harus mengikuti budaya agar tidak dicap sebagai “Moso” (perawan tua). Di sisi yang lain, ia akan diberi label (labeling) buruk manakala tidak menikah dengan laki-laki yang telah mengajaknya lari.

Stigma yang demikian inilah yang akan menjadikan diri pribadi perempuan Sasak terbelah. Akibatnya, perempuan Sasak tidak memiliki otoritas dan kedaulatan atas tubuhnya sendiri. Ia harus mengikuti apa yang dikehendaki oleh norma dan budaya setempat. 

Ustzah Baiq Mulianah juga memaparkan secara rinci beberapa kasus merarik yang anak perempuan Sasak ada pada posisi sebagai korban.

Pertama, kasus anak perempuan Sasak yang berusia 13 tahun, mendesak kepada pihak sekolah dan kepada orang tuanya untuk segera menikah karena telah dilarikan oleh laki-laki. Alasannya adalah ia takut jika nanti melahirkan seorang anak tanpa adanya bapak karena ketika dilarikan oleh laki-laki, si anak perempuan “dipaksa” untuk tidur bersama.

Kedua, anak perempuan Sasak memiliki orang tua yang bercerai dan ibunya kerja sebagai buruh migran di Hongkong dan telah lama putus komunikasi. Anak perempuan ini tinggal bersama neneknya yang setiap hari ia harus bekerja di ladang untuk membantu ekonomi sang nenek.

Di usianya ke-15 tahun, ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan ingin menikah dengan alasan untuk membantu ekonomi keluarga.

Ketiga, anak perempuan Sasak usia 12 tahun yang memiliki badan bongsor, lebih besar dari badan teman-temannya, dibawa lari dan diperkosa oleh seorang seorang bapak-bapak yang berprofesi sebagai sopir dan telah memiliki 3 orang anak.

Tiga kasus yang dipaparkan di atas memilukan hati siapa pun yang mendengar. Bagaimana tidak? Tradisi merarik telah menyisakan luka yang mendalam kepada anak perempuan. Atas nama “tradisi”, anak perempuan telah terperosok dengan “paksa” ke dalam jurang merarik yang akan mematikan sepanjang hidup anak perempuan tersebut.

Ironisnya, dengan berbagai alasan stigma, labeling, membantu ekonomi keluarga maupun alasan lainnya, semua itu telah menjadikan tradisi merarik tumbuh subur di Lombok. 

Pada contoh kasus yang demikian inilah ustazah Baiq Mulianah hadir dan mengeluarkan “jurus”-nya. Ia melakukan beberapa terobosan yang “mungkin” belum dilakukan perempuan-perempuan lain di Lombok.

Sebagai tokoh agama yang memiliki strata sosial tinggi, keluarga besarnya memiliki yayasan pondok pesantren dengan anak sekolah formal di bawahnya, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, hingga ke jenjang Perguruan Tinggi Al-Mansyuriyah.

Ustadzah Baiq melakukan strategi menyelamatkan anak perempuan Sasak dari tradisi perkawinan merarik melalui pintu pendidikan. Ia bersama keluarganya dan teman-temannya di Lombok menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak perempuan Sasak dari kelas ekonomi miskin.

Mereka memasukkan anak-anak perempuan dari kelas sosial menengah ke bawah ke pondok pesantren miliknya dan melanjutkan sekolah formal di pesantren tersebut. 

Ustazah Baiq juga memberikan bantuan beasiswa pendidikan gratis, memberikan bantuan gratis makan untuk santri miskin, memberikan motivasi kepada para santrinya untuk selalu memupuk dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Kemudian menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti orang tua, masyarakat, kepala desa, kepala camat, dan bupati untuk bergandeng tangan menuntaskan persoalan kawin merarik demi menyelamatkan anak-anak perempuan Sasak di masa yang akan datang.

Menurut saya, apa yang telah dilakukan oleh ustazah Baiq Mulianah merupakan contoh nyata, bagaimana anak perempuan menjadi korban dalam struktur sosial, tradisi, dan budaya masyarakat. Tradisi merarik menjadi bukti bahwa anak perempuan telah dimiskinkan secara struktural.

Anak perempuan Sasak Lombok telah “dininabobokkan” oleh tradisi dan budaya yang mendapat legitimasi dari tokoh agama setempat. Karenanya, menyelamatkan anak-anak perempuan melalui strategi pendidikan adalah cara yang lebih efektif dan paling ampuh untuk menolong anak-anak perempuan Sasak dari perkawinan anak.