Lahir dan besar di Palembang membuat saya punya pakem sendiri perihal hidangan lebaran. Karena masih berdarah Minang, tentu saja saat lebaran makanan yang yang tersaji tak jauh-jauh dari rendang daging, malbi, gulai ikan plus beberapa makanan khas lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan sambal tumis.

Yang saya ingat juga adalah kebiasaan nenek membuat sendiri beberapa jenis kue basah. Kue lapis, Maksuba, bahkan bolu Koja dan ketan sarikaya selalu tersedia.

Pindah ke Surabaya membuat hidangan yang saya temui menjadi sedikit berbeda. Embah putri saya juga jago masak, tak kalah dengan nenek di Palembang. Tapi menunya lain. 

Embah selalu memasak sambal goreng manisan (labu siam), opor ayam, telur bumbu petis dan lontong. Yang bila digabungkan sudah mirip sekali dengan lontong Cap Go Meh ala mandarin. Ditambah lagi es buah bikinan embah putri yang selalu kami nantikan karena khas dengan aroma kayu manisnya.

Setelah menikah tentu menu lebaran yang saya buat adalah perpaduan dari dua kebiasaan itu. Saya masak ketupat, rendang daging, opor ayam sampai ke es buahnya juga. Tapi semenjak menikah pulalah saya mengetahui satu kebiasaan unik di saat lebaran yang ternyata ada di beberapa daerah di Jawa Timur.

Awalnya saat kami mengunjungi kakak ipar saya yang tinggal di daerah Tapen, Jombang. Setelah saling bermaafan dan bercakap-cakap sebentar, kakak saya itu menawari kami untuk makan.

"Mau rujak cingur?" katanya.

Saya sempat berpikir, mungkin cuma kebetulan saja saat itu yang berjualan hanya penjual rujak cingur, mengingat kakak ipar saya ternyata juga tidak memasak makanan tertentu di rumahnya. Akhirnya kami iyakan tawaran tersebut. Sampai di situ saya belum berpikir bahwa hal itu adalah sebuah tradisi, saya hanya menganggapnya kebetulan.

Dua atau tiga tahun setelah itu, saya, suami, dan anak-anak berkesempatan untuk merayakan lebaran di Ambulu, Jember. Rumah ibu dan nenek dari suami saya. Kami sampai di Ambulu pada pagi hari kedua lebaran. 

Sama seperti yang terjadi di rumah kakak ipar saya, tidak ada makanan spesial lebaran yang terlihat. Setelah kami mandi dan beristirahat sejenak, ibu mertua saya menawari makan.

"Ibu bikinkan rujak cingur, ya?" katanya.

Dengdong! Saya mulai bertanya-tanya, "Ada apa antara lebaran dan rujak cingur?"

Saya tanyakan hal ini pada suami saya, dan karena dia juga sejak kecil ikut bersama bapaknya di Surabaya jadinya ya jarang pulang ke Jember saat lebaran, maka dia dia tidak tahu pasti apa alasannya rujak cingur yang disuguhkan. Saya bertanya pada ibu mertua dan katanya memang sudah tradisi bahwa setiap lebaran, rujak cingurlah bintang tamunya. 

Tapi berbeda dengan rujak cingur yang kami makan sehari-hari di Surabaya maupun di Jombang, rujak cingur versi Ambulu ini tidak menggunakan petis. Hanya campuran bawang putih, pisang kluthuk, cabai, dan kacang goreng yang diuleg. Tentu saja warnanya jadi pucat.

Bagi kami atau mungkin juga kalian yang tinggal di daerah Surabaya dan sekitarnya, rujak cingur bisa ditemukan di mana-mana setiap harinya. Makanan (yang katanya) khas Surabaya ini memang sudah tersohor. Maka tentu saja bila menemukan rujak cingur pada hidangan lebaran, rasanya sudah tidak istimewa lagi, tidak spesial. Malah aneh.

"Mosok wayah Bodho yo panggah mangan rujak cingur ae?"

Selama beberapa tahun belakangan kami memang tinggal di Sidoarjo, tapi rumah kami berada di tengah kota. Tradisi yang mungkin ada pun sudah tak pernah kami temui. 

Saat lebaran makanan yang ada di setiap rumah ya tentu adalah makanan lebaran pada umumnya. Ketupat dan bala kurawanya itu. Perihal rujak cingur itu pun sudah terlupakan dari pikiran saya sampai akhirnya saya dan anak-anak pindah ke rumah orang tua saya di daerah Tanggulangin, Sidoarjo.

Tanggulangin letaknya ada di pinggiran kota Sidoarjo, sudah hampir masuk wilayah Porong. Masyarakatnya masih memegang beberapa budaya setempat. Termasuk makan rujak cingur saat lebaran.

Rujak cingur maneh. Haish.

Tetangga kami banyak yang membuka usaha dadakan menjual rujak cingur di momen lebaran. Iseng, saat mencoba beli saya tanyakan pada penjualnya. Beliau (yang sudah cukup tua) bercerita:

"Dulunya rujak cingur itu makanan mewah bagi warga sini, Nduk. Cingur (mulut dan hidung) sapi adalah bagian yang agak susah ditemukan di pasaran sehingga harganya pun mahal. Belum lagi campuran lainnya seperti lontong, sayuran (kangkung, timun, krai, kecambah) juga petisnya yang bila harus dibeli berbarengan maka pasti butuh uang yang banyak. Jadinya ya tidak setiap hari kami bisa makan rujak cingur, dan diusahakan setiap lebaran saja makannya saat ada uang berlebih".

Hmm, now i know.

Sekarang pun sudah jarang sekali ada penjual yang benar-benar memakai cingur sapi untuk campuran rujaknya. Penyebabnya ya itu tadi, cukup susah ditemukan. Kalaupun ada ya harganya lumayan mahal. Solusinya ya mengganti dengan bagian lain dari sapi, seperti kaki, telinga, dll. 

Bagi yang paham benar dengan bedanya tentu akan merasa sedikit kecewa, tapi bila yang makan adalah orang yang jarang menemukan rujak cingur sebelumnya, perbedaan itu tak terlalu kentara.

Tradisi makan rujak cingur saat lebaran ini pun akhirnya mematahkan teori bahwa rujak cingur hanya bisa ditemukan di Surabaya. Tidak. Setelah bertanya pada beberapa teman yang berdomisili di Mojokerto, Nganjuk, Blitar dan Lawang pun ternyata tradisi ini juga ada di sana.

Jadi, jangan harap akan menemukan rendang atau sambal goreng di rumah penduduk warga, ya. Berharap saja untuk bisa makan rujak cingur dengan cingur yang tulen plus petis asli Sidoarjo yang maknyus.