Sebagai bagian dari kultur masyarakat, pesantren memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri dalam hal corak lingkungan dan sistem kehidupannya. Para kiai dan santri, sebagai subjek yang ada dalam lingkaran pesantren, menjalankan tata kelola kehidupan sehari-hari dengan aturan yang dibuat sendiri dan sepenuhnya wajib ditaati.

Dalam perkembangannya, seiring dengan dinamika kehidupan, lambat laun pesantren juga mulai banyak mengalami perubahan, baik dalam hal sistem tata kelola kepesantrenan maupun hal-hal lainnya. 

Faktor-faktor seperti berubahnya ranah sosial, ekonomi, budaya, dan juga teknologi dalam kehidupan masyarakat memang di antara hal yang menjadi pemicunya. Salah satu contoh berubahnya sistem tata kelola adalah dengan adanya lembaga pendidikan formal yang sudah mulai banyak didirikan di area pesantren.

Selain itu, perubahan yang terjadi dalam pesantren juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap tradisi budayanya. Pergeseran pemikiran kaum santri menjadi lebih up to date sehingga tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. 

Adanya lembaga-lembaga formal yang berkolaborasi dengan keilmuan khas pesantren seolah menunjukkan sebuah keunggulan yang berbeda dari lembaga formal lain non-pesantren, misalnya saja dalam hal tradisi bersastra.

Sastra dan santri merupakan dua istilah yang saling terkait. Keduanya berasal dari akar kata yang sama dari bahasa sanskerta, yaitu shastra atau sastra

Sastra mempunyai arti teks yang mengandung pedoman. Sedangkan shastri adalah orang yang mengkaji kitab suci dan keindahannya. Kalau dalam ilmu tata bahasa Arab, keduanya bisa dibedakan berdasarkan fungsinya. Sastra itu masdar, sementara shastri yang menjadi isim fa'il-nya.

Dalam perjalanannya, keterampilan bersastra menjadi sebuah tradisi para santri di pesantren, baik yang masih salaf maupun yang sudah modern. Dalam tradisi salaf, misalnya, awalnya kesusastraan mereka dapat dari proses pengajian kitab kuning yang biasanya banyak berisikan syair-syair yang mempunyai nilai sastra tinggi. 

Para santri menyimak arti dari syair-syair yang tersirat dalam kitab pengajian tersebut sebagai materi keilmuan. Namun seiring dengan kebiasaan yang terus-menerus, akhirnya mereka pun menjadi akrab juga dengan keindahan tata bahasa serta unsur-unsur sastra yang lain.  

Dahulu, jenis karya sastra yang banyak ditulis kiai ini kebanyakan berupa nadoman atau syi’iran. Biasanya berisikan selawat atau pujian kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Ada juga yang mengandung nasihat atau petuah bijak sebagai pedoman hidup manusia yang bersumber dari Alquran dan Hadis atau maqolah yang sudah digubah menjadi bahasa sastra.

Dari segi karakter pelaku sastra, para santri salaf juga mempunyai karakteristik yang tak kalah unik dan menarik. Mereka cenderung terlihat nyentrik dan nyeni dengan sendirinya. 

Hal ini terbentuk dari kehidupan mereka sehari-hari yang terkesan tidak suka formal, santai namun tetap berkarakter. Sehingga dalam prosesnya, para santri tidak akan kehabisan bahan bersastra karena sejatinya kehidupan mereka sendirilah sumber sastra yang terus bisa digali. 

Para santri juga akan lebih leluasa mengembangkan bentuk dan jenis sastra sesuai dengan penjiwaan mereka. Sehingga tak heran jika karya-karya mereka selalu saja, meskipun tidak semuanya, bernapaskan pengalaman spiritual yang sedang dijalaninya.

Sudah sejak dahulu, sejarah banyak mencatat para sastrawan dari kalangan muslim yang di dalamnya banyak juga yang berlatar belakang tidak jauh dari dunia pesantren. Sebut saja di antaranya Hamzah Fansuri, Nuruddin al-Raniri, Buya Hamka. 

Kemudian disambung rantai kepenyairan oleh generasi penerusnya seperti Emha Ainun Nadjib, Ahmad Tohari, Dzawai Imron, Acep Zamzam Noor, Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Candra Malik, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mereka inilah yang kemudian dikenal di dunia sastra Nusantara sebagai para penyair santri.

Dalam sebuah tulisannya, sastrawan Acep Zamzam Noor menyebutkan istilah sastra pesantren atau karya dari seorang sastrawan santri tidak harus selalu bertemakan dunia kaum santri dan kepesantrenan. Karena hal itu bisa menjadi beban dari para penulis serta menyempitkan ruang pengertian dan pemahaman mengenai sastra santri itu sendiri. 

Sastra santri tidak harus selalu bertemakan agama dan dakwah. Bagaimanapun genre sastra yang dibuat, yang lebih penting adalah ruh nilai-nilai luhur dari sang penulis tetap ada baik tersurat maupun tersirat.

Dalam hal ini, kita bisa mengambil satu contoh, Sebut saja salah satu karya novel yang fenomenal berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk”. 

Karya tersebut sekilas memang seperti sastra non-pesantren atau abangan karena novel tersebut bercerita bagaimana huru-hara yang berlangsung pada peralihan politik tahun 1965 di sebuah pedukuhan kecil dengan tokoh utamanya, Srinthil, seorang penari ronggeng yang jelita. Namun siapa yang menyangka bahwa penulis novel tersebut adalah dari kaum santri?

Ahmad Tohari, sang penulis yang novelnya menjadi salah satu tonggak perkembangan sastra di Indonesia itu, adalah seorang sastrawan yang merupakan pengasuh sebuah Pondok Pesantren Nahdatul Ulama Al Falah, Banyumas jawa Tengah.

Tampaknya beliau telah berhasil mendobrak pakem serta membuka luas cakrawala kasusastraan di Nusantara, khususnya dalam lingkup sastra santri. Ahmad Tohari lebih memosisikan karya sastra berdasarkan kemanfaatannya daripada hanya menonjolkan status penulisnya.

Di era milenial ini, banyak bermunculan bibit-bibit muda calon penerus para sastrawan santri pendahulunya. Di beberapa pesantren kini sudah mulai digeliatkan tradisi literasi sebagai wujud eksistensi keilmuan para santri. Karya sastra seperti novel, cerpen, puisi, nadhoman, dan sejenisnya pun tidak sulit lagi menemukannya. Para penulis, baik yang masih pemula maupun yang sudah mahir, pun banyak kita jumpai.

Tidak hanya itu, pesantren pun mempunyai peranan tersendiri dalam upayanya merevitalisasi fungsi sastra dalam membangun bangsa. Hal itu ditandai dengan diadakannya muktamar sastra untuk kali pertama di Indonesia yang bertempat di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada bulan Desember tahun 2018 lalu. 

Ratusan sastrawan dari seluruh Indonesia berkumpul dalam satu tujuan dan i’tikad yang sama. Event yang bertema “Menggali Kenusantaraan Membangun Kebangsaan” ini bertujuan menggali nilai-nilai kenusantaraan sebagai kekayaan dan keragaman budaya bangsa Indonesia dan menjadikan sastra sebagai media menguatkan dan mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.