Mahasiswa
2 bulan lalu · 61 view · 3 min baca menit baca · Budaya 75423_17833.jpg
sportourim.id

Tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas

Setiap daerah pasti memiliki kearifan lokal atau budaya khas masing-masing. Seperti di daerah asal saya yang berada di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, salah satu budaya lokal yang sangat terkenal atau khas dari daerah saya ini adalah “Tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas”.

Kyai upas adalah pusaka yang berbentuk tombak yang dipercaya oleh masyarakat Tulungagung sebagai awal mula berdirinya Kabupaten Tulungagung dan dianggap suci serta masih memiliki nilai luhur. 

Tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas dilaksanakan setiap tahun sekali pada hari Jumat setelah tanggal 10 pada bulan Sura dalam kalender Jawa. Ritual ini dilasanakan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tulungagung. Di tempat itu pula Pusaka Tombak Kyai Upas disimpan dan diamankan.

Pusaka Tombak Kyai Upas berasal dari Kerajaan Mataram yang dibawa oleh Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat ketika menjadi Bupati Ngrowo (sekarang Tulungagung). Pusaka tersebut dirawat dengan baik oleh Bupati Ngrowo secara turun-temurun hingga tercipta Tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas.

Tujuan dari ritual ini, selain untuk melestarikan budaya leluhur dan mengembangkan nilai tradisi budaya lokal, adalah untuk memelihara tombak kyai upas yang telah turun-temurun dirawat agar tidak karatan dan rusak.

Prosesi ritual Jamasan Kyai Upas adalah proses memandikan pusaka. Proses tersebut dapat berlangung hingga tiga hari. Dikarenakan banyak sekali rangkaian ritual yang harus dilaksanakan. Di antara rangkaiannya adalah Malam Tirakatan, Pagelaran Wayang Kulit, Jaranan dan Campursari. 


Malam Tirakatan dilaksanakan satu hari sebelum Tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas. Rangkaian acara ini dilaksanakan dengan menembangkan Macapat. 

Acara berjalan sakral ketika tokoh-tokoh yang mengembangkan macapat menjelaskan makna dan arti dari tembang macapat yang telah disampaikan. Dalam rangkaian ini, hadir pula beberapa sesepuh dari berbagai aliran kepercayaan yang ada di Kabupaten Tulungagung.

Keesokan harinya adalah Ritual Jamasan Kyai Upas. Masyarakat percaya jika ritual tersebut dapat memberikan berkah dalam kehidupan. Akibatnya, sejak pagi sekali masyarakat sudah memadati lokasi. Ritual tersebut diawali dengan membacakan asal-usul Pusaka Tombak Kyai Upas dengan versi aslinya.

Selanjutnya adalah prosesi serah terima sarana mulya, yaitu proses sesembahan dalam ritual jamasan. Sarana mulya terdiri dari ayam sapta dan Tirta Nawa. 

Ayam sapta adalah (ayam yang berjumah tujuh dengan berbagai jenis) diletakkan dalam ingkung yang disajikan secara utuh. Selanjutnya, tirta nawa biasa disebut banyu sanga adalah sembilan jenis air yang dikumpulkan dari sembilan sumber mata air, kemudian dicampur dan diletakkan dalam cawan besar yang digunakan untuk mencuci Tombak Kyai Upas.

Penjamasan diiringi dengan bacaan yasin tahlil, serta iringan karawitan yang dimulai sejak tombak keluar dari ruang penyimpanan. Dalam tempat penyimpanan tersebut, tidak sembarang orang boleh masuk, karena tempat tersebut dianggap keramat. Selanjutnya proses diawali dengan akad serah terima yang kemudian diserahkan kepada juru kunci Tombak Kyai Upas tersebut. 

Sebelum membuka pembungkus tombak, juru kunci yang didampingi oleh tiga orang melakukan sungkem dahulu. Kemudian sang juru kunci mencuci Tombak Kyai Upas dengan buah jeruk, tebu, campuran banyu sanga, dan minyak wangi.

Dalam ritual ini ada aturan khusus yaitu, laki-laki harus mengelilingi pusaka dan dilarang merokok, serta perempuan yang masih perawan dilarang melihat ritual ini secara langsung. Semua yang terlibat dalam acara ritual ini dilarang bercanda dan wajib mengikuti semua rangkaian dengan khidmat. 

Setelah semua rangkaian selesai, Tombak Kyai Upas dikembalikan ke tempat penyimpanan dan acara dilanjutkan dengan pemanjatan doa. Seusai doa para warga yang hadir berebut sesaji yang dianggap membawa keberkahan. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit, kesenian jaranan, dan campursari. 


Cerita di atas merupakan salah satu budaya lokal yang ada di daerah saya. Selain Tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas, di Tulungagung masih banyak budaya lokal lain, seperti Tiban, Reog Kendhang, Manten Kucing, Larung Sembonyo, Tayub, Cethe, dll. 

Di Indonesia, banyak sekali budaya kearifan lokal karena Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali suku, budaya, adat, dan kepercayaan. Akan tetapi, warga Negara Indonesia senantiasa hidup damai, toleransi, gotong royong, dan saling merangkul sesuai dengan semboyan bangsa kita, yaitu "Bhineka Tunggal Ika".

Banyak pembelajaran yang dapat diambil dari kegiatan Jamasan Tombak Kyai Upas tersebut, antara lain adalah melestarikan budaya yang sudah turun-temurun diwariskan, menjaga tali silaturrahmi antarmasyarakat, dan sebagai pembelajaran untuk anak cucu penerus kelak. 

Selain itu, tradisi ini juga dapat dijadikan sebagai dasar pembelajaran dan pengenalan untuk siswa-siswi sekolah dasar di Kabupaten Tulungagung sebagai ajang untuk memperkenalkan budaya asli daerah sehingga dapat melestarikan budaya daerah hingga dapat dinikmati oleh generasi penerus kelak.

Artikel Terkait