Di antara hal yang membuat manusia istemewa, di samping kemampuan berpikirnya tentang diri dan perilakunya, adalah kemampuannya untuk mereformasi perilaku ini sesuai dengan pertimbangan yang dinilainya cocok. 

Adat, yaitu hasil upaya manusia untuk memformulasikan berbagai bentuk pemikiran untuk membangun berbagai tradisi, kaidah-kaidah serta norma-norma di atasanya.

Dan, biasanya setelah itu mereka berupaya keras untuk menentang perubahan apa pun terhadap kaidah-kaidah dan tradisi-tradisi ini.

Sebagian tradisi ini datang melalui jalur formal, agama, serta prinsip-prinsip yang disepakati.

Namun, banyak pula di antaranya, yang muncul secara spontan dan tidak berdiri di atas pijakan konsepsi dan pikiran yang jelas.

Tabiat berbagai adat kebiasaan seperti ini terus mengalami perubahan, tetapi melalui proses yang lamban yang dalam jangka pendek seringkali luput dari pengamatan orang awan.

Perkawinan atau kehidupan rumah tangga adalah termasuk di antara praktik-praktik sosial yang banyak ditentukan oleh berbagai bentuk tradisi, kebiasaan dan norma-norma seperti ini.

Namun, yang penting adalah harus ada upaya untuk membedakan antara norma-norma yang memiliki asal dan akar yang jelas dengan tradisi-tradisi yang tidak dibangun di atas fondasi yang kokoh, yang biasanya sering mengalami perubahan waktu ke waktu, dan dari suatu tempat ke tempat yang lain, yang selanjutnya dapat menerima modifikasi dan perubahan. 

Di antara permaslahan sosial yang tampak mengalami perubahan seiring dengan perjalanan waktu ialah tabiat berbagai peran masing-masing dari dua jenis kelamin yang berbeda.

Untuk jangka waktu yang telah berlangsung lama, berbagai masyarakat hidup di bawah pengaruh peran nyata dan terbatas untuk masing-masing kaum pria maupun wanita.

Tak jarang individu yang coba-coba menentang perilaku yang terbatas ini harus menerima sanksi keras, dengan tujuan untuk menegakkan terjaminnya keberlangsungan model yang sama.

Banyak hal yang kita yakini tentang perkawinan, peran pasangan suami istri, apa yang bisa mereka kerjakan atau apa yang tidak, merupakan hasil pembelajaran yang kita dapatkan secara spontan dan tak terarah melalui pengamatan terhadap orang-orang sekitar kita yang terdiri dari kedua orang tua, kakek nenek, teman-teman sebaya, media massa, kabar-kabar dan kisah-kisah yang kita baca, dongeng-dongeng dan cerita-cerita rakyat yang kita dengar, doktrin-doktrin relijius yang tidak memiliki landasan valid dari agama yang kita terima, serta tidak jarang pula apa-apa yang di anggap baik oleh fantasi dan impian kita.

Media massa misalnya, seringkali menggambarkan  wanita hanya sebagai objek kesenangan kaum pria dan penghasil anak-anak.

Kaum wanita selamanya hanya dianggap pelengkap bagi kaum pria dan oleh karena itu kepandaian mereka Cuma bisa duduk-duduk, mengobrol serta menonton laki-laki yang sedang bekerja dan mencari nafkah!

Saya ingat betuk serial televisi yang tak pernah saya lewatkan tayangannya yang memvisualkan kehidupan Khulafaur Rasyidin yang kelima, Umar bin Abdul Aziz. 

Serial ini menggambarkan kaum wanita pada massa itu, kepandaiannya Cuma bisa bersolek, berambisi terhadap kedudukan khalifah dan berkonspirasi untuk merengkuh kekuasaan buat putranya.

Suatu gambaran dinamis yang berdiri di atas sikap saling pengertian dan penghargaan yang timbal balik terhadap kesanggupan kedua belah pihak yang berlainan jenis serta integritas keduanya, sekiranya dua-duanya dapat bekerja sama dalam melakukan berbagai kewajiban, memebrikan beragam perhatian serta mengambil sejumlah keputusan penting di dalam kehidupan mereka.

Perempuan Dan Tugas-Tugas Rumah Tangga 

Berbagai masyarakat mengharuskan anak perempuan mereka memilki perilaku tertentu lewat harapan-harapannya.

Anak perempuan hanya boleh bermain boneka berbentuk bayi kecil yang masih menyusui untuk diberi makan dan dibersihkan, disamping kewajiban membantu ibunya mencuci perabot, menghidangkan makanan dan menjaga kebersihan.

Perempuan tidak memiliki kesempatan untuk menentukan jati dirinya sebagai perempuan kecuali melalui statusnya sebagai istri atau ibu, dan tidak ada yang bisa keluar dari wilayah ini, kecuali melalui eksistensinya sebagai manusia di luar area berbagai tugas rumah tangga.

Laki-Laki Dan Pekerjaan Di Luar Rumah 

Sebaiknya dengan anak-anak laki-laki ia diharapkan pandai bermain senjata dan alat-alat perang, berperan sebagai prajurit, komandan dam pemimpin.

Mereka adalah para pemburu gagah berani yang tak kenal gentar.

Keadaan seperti  ini memberikan kesempatan bagi kaum laki-laki untuk menyatakan jati dirinya sebagai laki-laki atau sebagai manusia tanpa bergantung pada penetapan statusnya sebagai seorang suami atau seorang bapak. 

Perlu kita ingatkan bahwa melalui studi terhadap berbagai tradisi sosial di sebagaian besar masyarakat, kita mendapatkan bahwa laki-laki menikah dengan posisi “menurun” sedangkan perempuan menikah dengan posisi “menanjak”.

Biasanya, perempuan menikah dengan laki-laki yang “lebih tinggi” seperti lebih tua usianya, lebih tinggi status sosialnya, lebih kaya, bahkan barangkali lebih luas pengetahuannya.

Nah, stigma semacam inilah yang memberikan jaminan terhadap terus berlanjutnya dominasi kaum pria disebabkan perkawinan yang tanpa menghiraukan kesetaraan. 

Sekarang, tanpa mengurangi arti penting dari aktivitas reproduksi, pengasuhan, perhatian dan pendidikan terhadap anak-anak, perbedaan yang ada tidak berlangsung dalam bentuk ini.

Seiring dengan semakin meratanya kesempatan memperoleh pendidikan bagi kedua jenis kelamin yang berbeda ini, tidak ada jaraknya antara hasil yang di capai di bidang ilmu pengetahuan, seni dan budaya, seiring dengan semakin tidak ada bedanya antara tabiat berbagai jenis pekerjaan dan profesi keduanya secara umum. 

Seiring dengan kian menigkatnya lapangan pekerjaan di luar rumah, yang diyakini justru lebih cocok dengan karakter kaum wanita dari pada pria.

Kini kita dapat melihat meningkatnya presentase perkawinan berdasarkan kesetaraan gender, dimana kaum wanita tidak kalah dari kaum pria dalam menimba ilmu, meraih berbagai prestasi, meniti karir, mendapat peluang kerja, meningkatkan penghasilan, memahami karakter kehidupan sosial, politik dan budaya, serta kesempatan untuk terjun ke berbagai bidang itu.