Pemerintah Arab Saudi memutuskan tetap menggelar pelaksanaan haji tahun 2020 di tengah korban pandemi Covid-19 yang masih belum menunjukkan angka penurunan. Meskipun dibuka, keputusan ini diimbuhi dengan syarat; melakukan protokol kesehatan ketat dan hanya dibuka bagi internal Arab Saudi.

Keputusan penutupan akses berhaji tentu dirasakan seluruh warga muslim di seluruh dunia. Indonesia, sebagai ‘penyumbang’ jemaah haji terbesar bagi Negeri Petrodollar itu, suka tidak suka harus mengikuti ketentuan yang ditetapkan

Sekitar 8.000 (delapan ribu) jemaah asal Indonesia yang sedianya diberangkatkan ke tanah suci tahun ini batal. Kenyataan ini belum dihitung kerugian yang dirasakan pihak penyelenggara, baik dari dari  jasa travel, penyedia catering, sampai penjual cendera mata.

Di tengah kondisi haji seperti ini, menarik kiranya mengetahui khazanah unik “berhaji” yang sudah dimiliki masyarakat Nusantara sebelumnya. Ibadah Haji yang biasanya dilakukan di Tanah Suci, Makkah dan Madinah, menurut tradisi ini, dilakukan di Gunung Bawakaraeng.

Tradisi ‘berhaji lokal’ ini sebenarnya juga dimiliki beberapa masyarakat Nusantara lainnya. Di daerah Demak, Jawa Tengah, misalnya, terdapat keyakinan lokal bahwa dengan mengelilingi masjid Agung Demak sebanyak tujuh kali, maka sama saja ia telah melaksanakan haji.

“Berhaji” di atas Gunung

Lain di Jawa, lain pula di Sulawesi. Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Gowa, “berhaji” yang dimaksud adalah dengan menaiki gunung Bawakaraeng. Kawasan Gunung Bawakaraeng berada di lingkungan Lembanna, Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa.

Tradisi berhaji di gunung Bawakaraeng sudah dikenal turun-temurun. “Haji” yang dimaksud bukan seperti ibadah haji dengan rentetan tawaf, sa’I, tahallul sampai wuquf. Haji Bawakaraeng hanya dilakukan dengan mendaki puncak gunung dengan beberapa ketentuan setelahnya.

Masyarakat yang hendak menaiki gunung tersebut juga tidak diwajibkan memakai pakaian ihram atau dan bacaan talbiyah.. Adapun dinamakan ‘berhaji’ karena proses pendakian yang dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah, bertepatan dengan waktu Haji di Makkah.  

Setelah sampai di puncak, mereka melakukan salat Iduladha, ber-muhasabah (merenung/intropeksi diri) setelah itu kembali pulang. Beberapa ritual khusus dalam pelaksanaan adalah tidak boleh meludah dan berkata-kata buruk/kasar, baik selama pendakian maupun selama berada di puncak gunung.

Mereka juga tidak boleh membawa niat buruk dan melakukan hal-hal asusila selama "berhaji". Mereka juga tidak diperkenankan melakukan aktivitas lainnya kecuali telah menyelesaikan "ibadah"nya.

Dalam perjalanan menuju ke puncak, pelaku ‘haji’ biasanya membekali diri dengan makanan, ataupun membawa binatang ternak. Binatang ternak ini akan disembelih di atas puncak, dan dimasak untuk bisa dinikmati bersama-sama.

Dipilihnya Gunung Bawakaraeng bukan tanpa sebab. Gunung Bawakaraeng disakralkan masyarakat karena konon gunung tersebut adalah tempat bersemayamnya Tu Rie Arana atau Yang Maha Berkehendak. Tuhan bagi masyarakat adat sebelumnya.

Kisah lain menyebut, ‘berhaji’ di sana adalah bentuk penghormatan kepada Syekh Yusuf al-Makassari. Syekh Yusuf adalah salah satu ulama terkemuka di Nusantara pada abad 17. Sebab kealimannya, masyarakat memberinya julukan Tuanta Salamaka ri Gowa (Tuan Guru penyelamat kita dari Gowa).

Cerita ini bermula pada kisah Syekh Yusuf yang pernah diminta gurunya pergi ke Gunung Bawakaraeng. Sebagaimana Kaidah Titah guru adalah sabda bagi murid, berangkatlah Syekh Yusuf kesana.

Syekh Yusuf tidak sendiri, ia bersama dua orang sahabatnya, Datu Pagentungang dan I Lokmo ri Antang. Perintah sang guru ini sebagai wujud perjalanan spiritual dan proses pembelajaran rohani.

Setelah proses pembelajaran dirasa cukup, gurunya menyampaikan perintah berikutnya. Mereka diminta menuntut ilmu di tanah suci Mekkah. Perintah ini dinyatakan sebagai perintah terakhir sang guru, karena menurut sang Guru, ilmu yang mereka dapatkan akan mencapai titik yang paling sempurna di Tanah Suci.

Berbekal perintah dan nasihat guru dan keinginan memperdalam ajaran Islam, berangkatlah Syekh Yusuf al-Makassari berserta dua sahabatnya ke Tanah Suci . Karenanya, ajaran menyempatkan diri melakukan pendakian atau kunjungan ke Gunung Bawakaraeng sebelum berangkat ke Tanah Suci masih sempat dilakukan sebagian orang.

Akan tetapi, hal ini hanya sebagai penghormatan kepada para leluhur (kisah perjalanan spiritual Syekh Yusuf). Penghormatan itu juga disematkan kepada arwah para wali yang diyakini masih tinggal di sana.

Dari sekian penjelasan yang ada, tradisi ‘berhaji’ di Gunung Bawakaraeng kiranya menarik kita ketahui. Selain merupakan bagian dari Khazanah kebudayaan Nusantara, pemaknaan masyarakat akan suatu tradisi adalah bidang kajian yang dapat terus diulas.

Melihat dari Kacamata Budaya

Terlepas perdebatan persepsi yang terjadi di antara masyarakat terkait ‘berhaji’ di Gunung Bawakaraeng ini, melihat dengan kacamata budaya dirasa lebih menenangkan. Sebab melihat dengan dogma normatif, tentu akan bertabrakan dengan istilah syirik, melanggar syariat, atau tuduhan lainnya.

Sangat wajar persepsi seperti itu muncul, karena meski diwarisi dari kepercayaan lokal, konsep yang ditawarkan persis dengan ritual berhaji di tanah suci. Meskipun sebenarnya enggak persis banget.

Lantas, apakah tradisi dapat setara dengan pakem agama? Jawabnya tentu saja tidak.

Sebaliknya, apakah agama dapat diwakili melalui ranah budaya? Jawabnya, bisa.

Agama dan tradisi lahir tidak dalam ruang yang kosong. Keduanya telah melewati rentang waktu yang cukup lama.  Perjalanan akan penyebaran agama yang terkadang terselip diksi ‘bahasa Langit’ /Kitab Suci, perlu ada pemahaman pula dalam menelaahnya melalui ‘bahasa bumi’ /Pengetahuan realitas kemasyarakatan.

Bahkan, lebih jauh, tradisi bisa difungsikan sebagai pengisi ruang-ruang kosong keagamaan. Tradisi bisa bertugas sebagai media akomodasi masyarakat dalam memahami bahasa agama. Meminjam istilah Gus Dur, proses ini disebut sebagai “Mempribumisasikan Islam (agama)”.

“Berhaji” Bawakaraeng tidak saja mengajarkan kita untuk tetap menghargai alam di mana kita berasal. Tetapi juga berusaha menjaga etika selama bersinggungan dengannya. Apalagi diwarnai dengan media ibadah dan nilai-nilai agama.

Pada pembahasan ini, agama tidak saja berfungsi sebagai tali harmonitas manusia dengan Tuhannya, lebih dalam, ia merupakan ekpresi beragama yang menuntun kita kepada kedamaian bersama alam; "cerminan" Tuhan di bumi.

Sebagai penutup, saya menemukan potongan pandangan salah satu tokoh masyarakat setempat akan ‘haji’ Bawakaraeng yang didapat dalam suatu penelitian tugas akhir. Pesan yang sangat filosofis itu berbunyi:

“Bawakaraeng kalau bahasa Makassar itu Mulut Raja. Apa yang apa yang keluar di mulut dan apa yang terkandung di hati itu harus sesuai. Haji Bawakaraeng: kalau mau naik haji harus sesuai hati dan perkataan. Maksudnya mampu sesuaikan mulut dan hati baru bisa naik di tanah suci. Sekarangkan lain, orang sekarang haji karena materi. Sekarang kalau orang sudah berhaji, tidak menoleh kalau tidak dipanggil hajinya. Terus etikanya sebelum berangkat baik-baik, setelah pulang tambah menjadi-jadi..”