Etnis Cina di Indonesia

Panggilan  “cina”  atau  “cino”  terhadap  warga  keturunan  Tionghoa, seringkali kita  dengar  sebagai  bentuk  ejekan.  Menurut  Prof.  Gondomono,  seorang  pakar antropologi dan sinologi, sepanjang sejarah selama kurang lebih empat ribu tahun, sebenarnya orang Cina tidak  pernah menciptakan  sebutan  “Cina” untuk diri  mereka. 

Sebutan ini baru muncul dan diterapkan oleh orang-orang Eropa berdasarkan nama dinasti Qin (Chin, 225-206 SM). Dinasti itu menjadi besar pada masa itu sejak dipimpin oleh Qin Shi Huangdi (Chin She Huangti) (221-210 SM) sebagai raja (wang) sekaligus kaisar (huangli) yang berhasil menguasai seperdelapan RRT sekarang. 

Pada abad ke 17 hingga pertengahan abad 19 orang-orang Cina banyak bermigrasi ke Asia Tenggara termasuk ke Indonesia dengan maksud untuk berdagang atau sebagai pekerja. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang pedesaan yang mengalami kesulitan hidup akibat bencana alam, kerusuhan politik dan pertambahan penduduk. 

Mereka  menyebut  dirinya  sebagai  orang  Kanton (atau  Kwitang), Teociu, Hoklo, Hinghua, Hokcia, Hainan, Hakka, Hokkian, terutama berdasarkan bahasa yang mereka pergunakan. Sedangkan kata Tionghoa berasal dari dialek Hokkien (zhōnghuá) yang berarti “Bangsa Tengah”. Kata ini merujuk pada orang-orang keturunan Cina yang tinggal di luar Republik Rakyat Tiongkok.

Para imigran Cina meninggalkan tanah airnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki yang tidak membawa istri dari negeri asalnya, sehingga banyak dari mereka yang memilih untuk berkeluarga dengan perempuan setempat. Kemudian mereka menetap dan tinggal sampai dengan generasi-generasi berikutnya.

Persinggungan dengan budaya setempat seringkali menimbulkan gejolak yang tidak jarang menimbulkan perseteruan, namun tidak sedikit pula yang dapat hidup rukun dan damai. Kedatangan kolonialis Belanda menciptakan perseteruan baru antara warga Tionghoa dengan warga Pribumi yang semata-mata diatur untuk melancarkan upaya kolonisasi. 

Ujung dari peristiwa tersebut adalah pembantaian massal warga Tionghoa pada tahun 1740, oleh kolonialis Belanda  yang  dikenal  dengan  tragedi  Angke. Perseteruan  lain  yang  hingga  saat  ini  masih membekas adalah peristiwa kelabu Mei 1998.

Pada tahun 1967-an di masa Orde Baru, pemerintah menutup sekolah-sekolah yang menggunakan  kurikulum  dan  bahasa  pengantar Cina, sehingga menimbulkan  anak-anak keturunan Tionghoa kesulitan atau bahkan tidak bisa lagi berbahasa Cina (Mandarin, Hokkian, Hakka, Kwongfu, Teociu, atau bahasa Cina yang lain). 

Hal ini mempengaruhi pula perkembangan kebudayaan mereka yang lebih banyak mulai berbaur dengan budaya setempat maupun budaya dari luar Indonesia. Walaupun begitu masih ada dari antara mereka yang masih lekat dengan kebudayaan Cina yang sama dengan leluhurnya dan menjadikannya sebagai jati diri.

Tanah Harapan di Bagansiapiapi

Bagansiapiapi terletak di Kabupaten Rokan Hilir yang adalah kabupaten pemekaran di provinsi Riau. Secara geografis provinsi Riau memiliki letak yang sangat strategis dan kaya akan kandungan Sumber Daya Alam, sehingga banyak investor dari dalam maupun luar negeri yang berdatangan. Lancarnya arus transportasi melalui darat maupun laut yang dikenal dengan lintas timur  Sumatera  yang  menghubungkan  antara  Sumatra  dan  Jawa,  juga  membuat  migrasi penduduk semakin pesat. 

Bagansiapiapi sendiri  merupakan daerah  yang dikembangkan oleh perantau Cina menjelang tahun 1820. Menurut versi warga etnis Tionghoa di sana, Bagansiapiapi berasal dari kata “Bagan Api”, hal ini berkaitan dengan kisah kedatangan mereka yang pertama di tanah tersebut ketika melihat api menyala dari kejauhan. Api tersebut setelah didekati ternyata adalah kunang-kunang, dan ditempat mereka mendarat itulah mereka membuka kehidupan baru dengan membangun perkampungan dan mengembangkan kebudayaan.

Asal mula dari tradisi bakar tongkang seperti dilansir dari mediaindonesia.com, sangat berhubungan dengan kisah orang-orang Tionghoa yang bermigrasi ke Riau. Pada sekitar tahun 1820-an tiga tongkang (kapal) kayu berlayar dari Xiamen, Provinsi Fujian, Tiongkok untuk mencari tempat baru dan memulai kehidupan yang lebih baik.  Mereka mendarat di Songkhla, Thailand, pada 1825, tetapi mereka segera meninggalkan tempat itu karena adanya wabah penyakit. 

Perjalanan ke selatan terus dilanjutkan dengan medan yang berat hingga membuat dua kapal tenggelam dihantam badai. Satu kapal yang tersisa berisi 18 orang penumpang, baik laki- laki maupun perempuan, dan semuanya bermarga Ang dengan Ang Nie Kie sebagai pemimpin mereka.

Ketika masih bimbang berada di tengah lautan, mereka berdoa memohon bantuan Dewa Kie Ong Ya agar diberi petunjuk menuju daratan. Tak berselang lama, mereka melihat cahaya api dalam kegelapan malam yang artinya menandakan adanya daratan di tempat tersebut. Ketika itu tepat tanggal 16 bulan 5 penanggalan Imlek pada tahun 1826 Masehi. Tempat mereka akhirnya berlabuh adalah Kuala Sungai Rokan, dimana terdapat bagan (tempat penampungan ikan) yang diatasnya berterbangan kunang-kunang. 

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menetap di tempat yang tanahnya subur dan ikannya melimpah tersebut dengan harapan akan adanya kehidupan yang lebih baik. Mereka memutuskan untuk membakar tongkang agar tidak pernah kembali ke Fujian yang menjadi awal mula tradisi bakar tongkang. Sejak tahun 1826, upacara bakar tongkang yang dalam bahasa Hokkien disebut Go GeCap Lak, diadakan setiap tanggal 16 bulan ke-5 sebagai ucapan terima kasih kepada Dewa Kie Ong Ya.

Melihat Tradisi Bakar Tongkang

Proses tradisi bakar tongkang di Bagansiapiapi dimulai dengan berkumpulnya banyak orang di kelenteng In Kok Kiong yang berpusat di tengah kota. Tradisi ini berupa festival yang diikuti oleh 100 kelenteng yang ada di sana dengan peserta dari berbagai tingkatan usia. Biasanya badan jalan menjadi sesak dipenuhi oleh warga Tionghoa yang melakukan ritual. Setiap kelompok membawa sejumlah peralatan ibadah yang mereka panggul. Jalan-jalan sudah dihiasi dengan berbagai ornamen Tionghoa. 

Para peserta karnaval berjalan beriringan memanjang hingga 200 meter, kemudian barulah muncul replika tongkang dengan panjang sekitar 8 meter, lebar 2 meter dan berat sekitar 400 kg (bervariasi setiap tahunnya). Replika kapal ini dihiasi bendera, orang-orangan dan tiang layar dengan kontruksi dari kayu. Dinding kapal tongkang ini hanya dilapisi oleh kertas berwarna-warni. Di bagian  depan  tongkang  terdapat  gambar  kepala  naga  yang  adalah  simbol  dewa  dengan kedudukan tertinggi.

Tongkang   ini   dipanggul   oleh   beberapa   pria   dan   diarak   bersama-sama   ditengah kerumunan orang menuju ke tempat pembakaran yang berjarak sekitar 2 km dalam waktu sekitar 1 jam. Selama perjalanan, para peserta membawa hio yang dibakar ujungnya. Di tempat pembakaran yang dipercaya sebagai tempat awal kapal warga Tionghoa pertama kali mendarat di Riau, tongkang dialasi dengan kim cua, kertas berwarna merah emas yang digunakan untuk sembahyang. Kemudian api dinyalakan dan mulai menyambar tongkang dengan ganas diiringi dengan suara tambur, tong-tong dan ceng-ceng. 

Ketika api sedang membara, seluruh peserta melemparkan hio yang mereka bawa. Momen yang paling ditunggu oleh warga Tionghoa ketika itu ialah jatuhnya tiang penyangga layar. Mereka percaya bahwa araah jatuhnya tiang memberi tahu asal rezeki mereka di tahun berikutnya. Jika arah jatuhnya ke laut, maka rezeki akan lebih banyak didapat dari laut dan jika arah jatuhnya ke darat, maka rezeki akan lebih banyak dari darat.

Penutup

Sukarno dalam pidatonya di Kongres Baperki 1963, mengatakan bahwa: ”bangsa Indonesia terdiri dari pelbagai suku, yaitu suku Jawa, suku Batak, suku Minang.... dan suku peranakan Tionghoa”. Identitas kebangsaan Indonesia tidak dapat dimaknai dalam dominasi suku tertentu bukan kebangsaan Jawa, kebangsaan Sumatra, Kebangsaan Borneo, Bali, atau yang lainnya. Kebangsaan dalam masyarakat Indonesia adalah kebangsaan yang menyatu dalam satu keutuhan, sesuai dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. 

Kebangsaan ini ada karena adanya pengakuan terhadap perbedaan tanpa menghilangkan identitas. Persatuan bukan berarti penyeragaman, melainkan dengan prinsip persatuan, keanekaragaman tetap dibiarkan hidup dan berkembang. Kebudayaan masyarakat Tionghoa di Indonesia ialah juga bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia.