Menjalin hubungan dengan pasangan yang kamu cintai, tidak seindah cerita fiksi yang ada di novel maupun di film romantis lainnya. Ada banyak hal yang dihadapi sepasang kekasih dalam membangun sebuah hubungan yang sehat dan harmonis termasuk karakter pasangan. Suatu hubungan yang sehat adalah ketika saling terbuka dan bersikap jujur kepada pasangan. Hubungan yang sehat juga tidak melakukan kekerasan dengan pasangan walaupun atas dasar cemburu.

Jika hubungan yang kamu jalani membuat kamu tidak nyaman bahkan, ada unsur kekerasan selama kamu menjalin hubungan dengannya. Maka, kamu harus mengakhiri hubungan tersebut. Hubungan yang tidak sehat akan membentuk mental yang tidak sehat pula.

Istilah lain dari hubungan tidak sehat adalah toxic relationship. Istilah tersebut sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang dan banyak juga yang terjebak dalam toxic relationship. Toxic relationship atau hubungan yang beracun adalah istilah untuk menggambarkan suatu hubungan tidak sehat yang dapat berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun mental seseorang.

Lilian Glass yang merupakan seorang pakar psikologi mengatakan toxic relationship adalah suatu hubungan yang terdapat pasangan yang saling bersaing, tidak menghargai, dan berusaha melemahkan satu sama lain.

Kebanyakan orang berpikir bahwa sikap posesif dan cemburu adalah ungkapan cinta kepada pasangannya. Mungkin, kedua hal tersebut terlihat indah pada awal hubungan. Tetapi, jika kedua hal tersebut menjadi berlebihan dapat memberikan dampak negatif bagi salah satu pihak. Ingatlah bahwa dunia pasanganmu tidak hanya berpusat pada dirimu saja sebab setiap orang mempunyai kehidupannya masing - masing. 

Melihat dari beberapa kasus yang sering terjadi, kebanyakan perempuan menjadi korban dari toxic relationship. Namun, tidak menutup kemungkinan laki – laki juga menjadi korban.

Meskipun hubungan asmara tersebut membawa dampak negatif bagi kondisi korban tetapi, sebagian korban justru memilih untuk bertahan atau bahkan kembali kepada pasangannya. Sebanyak 40% sampai 70% perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam toxic relationship mempertahankan atau kembali ke dalam hubungan tersebut selama kurun waktu tertentu.

Banyak teori yang digunakan untuk memahami secara psikologis mengapa perempuan memilih bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan, salah satunya teori stockholm syndrome. Stockholm syndrome adalah suatu kondisi psikologis yang timbul karena adanya ikatan yang kuat antara korban terhadap pelaku. Ikatan tersebut meliputi rasa cinta korban terhadap pelaku, melindungi pelaku yang telah menganiayanya dan menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kekerasan, menyangkal atau meminimalisir kekerasan yang terjadi.

Stockholm syndrome melibatkan adanya sisi baik pelaku pada korbannya dan korban akan memiliki harapan bahwa pelaku akan merubah perilakunya menjadi lebih baik. Sehingga menjadi alasan korban untuk tidak melepaskan diri dari hubungan tersebut.

Sebagian orang terutama perempuan suka membaca cerita romantis. Tokoh yang ditonjolkan penulis biasanya laki – laki “ Bad boy “ . Kemudian, berubah menjadi pribadi yang dinilai baik karena bertemu dengan perempuan yang dicintai. Klise memang tetapi, cerita seperti ini menjadi favorit sebagian perempuan.

Nah, kebanyakan perempuan merasa bahwa hubungan percintaanya akan seindah cerita yang mereka baca dan biasanya memilih untuk bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Tetapi, kenyataanya hubungan percintaan itu tidak semulus dan seindah cerita romantis yang ada di novel. Ketika seorang perempuan merasa kisah cintanya tidak seindah yang dibayangkan, mereka cenderung menyalahkan laki – laki. Sebagian perempuan juga menyamaratakan kepribadian laki – laki bahwa laki itu jahat, tukang selingkuh, kasar dan sebagainya.

Padahal, kepribadian seseorang itu berbeda – beda dan tidak bisa disamakan hanya karena mereka berasal dari gender yang sama yaitu laki – laki.

Selain itu, korban merasa trauma untuk memulai kembali hubungan percintaan. Atas trauma yang dialami korban terutama perempuan, memicu rasa benci terhadap laki – laki. Kebencian atau ketidaksukaan kepada laki – laki disebut misandria dan pembenci laki – laki disebut misandrist. Misandria dapat diwujudkan dalam bentuk diskriminasi, objektifikasi seksual dan tindak kejahatan terhadap laki- laki.

Penggunaan istilah “ Misandria “  telah ada sejak abad ke - 19 dan telah berlaku sejak awal tahun 1800. Aktivis pertama yang menyelidiki istilah ini adalah Warren Farrell, yang menulis sebuah buku berjudul Mitos Kekuatan Pria. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa manusia sepanjang sejarah telah ditetapkan sebagai orang yang dapat ditiadakan dalam suatu masyarakat. Pekerjaan paling berisiko dilakukan oleh anggota laki-laki di dalam masyarakat.

Nah, banyaknya kasus yang berhubungan dengan tindak kekerasan terhadap pasangan dan kebanyakan dari korban adalah perempuan membentuk rasa kebencian perempuan terhadap laki – laki.  Sebagian perempuan mengatakan bahwa semua laki – laki memiliki sifat yang sama yaitu jahat terhadap perempuan. Padahal gender dengan kepribadian seseorang tidak berkaitan melainkan faktor keturunan dan lingkungan lah yang mempengaruhi kepribadian seseorang.

Terjebak dalam toxic relationship ini kemungkinan menjadi salah satu penyebab misandrist itu terbentuk dan kini, semakin bertambah jumlahnya. Hal ini didasari karena sebagian dari kita terutama perempuan cenderung memberikan standarisasi kepada laki – laki. Laki – laki yang disukai sebagian perempuan haruslah maskulin dan bertingkah layaknya tokoh bad boy yang ada di novel. Ketika disakiti, perempuan malah menyalahkan laki – laki dan memberikan label bahwa laki – laki itu sama.

Selain itu, pengaruh maskulinitas yang masih dangkal juga berperan besar dengan adanya toxic relationship sehingga membentuk misandrist. Laki – laki akan dinilai maskulin jika bersikap agresif dan mendominasi terhadap perempuan apalagi dikaitkan dengan urusan “ Ranjang “. Jika perempuan yang mendominasi dalam sebuah hubungan maka, laki – laki tersebut akan disebut banci.

Standarisasi gender sudah ada sejak lama dan turun temurun hingga sekarang. Ketika perempuan menjadi misandrist, biasanya mereka akan menganggap remeh hal tersebut karena perempuan adalah sosok yang perasa dan mudah menangis. Padahal, itu hanyalah standarisasi gender yang kolot.

Sangat disayangkan, sebagian orang menganggap remeh toxic relationship. Banyak yang menyalahkan korban dan memuji sikap pelaku. Ada juga yang beranggapan sikap pelaku merupakan tanda cinta untuk korban. Untuk keluar dari toxic relationship bagi sebagian orang sangat sulit. Mereka yang memilih bertahan juga merasa bingung bagaimana mengakhiri hubungan tersebut

Namun, Kita semua berhak menjalin hubungan yang sehat dan mengembangkan hubungan tersebut menuju lebih baik. Meskipun terjebak dalam hubungan yang toxic meninggalkan luka yang begitu dalam, kita mempunyai harapan untuk menjalin hubungan yang sehat. Selain itu, jangan membenci lalu, menyalahkan gendernya. Belajarlah bersikap objektif dan tidak berfokus pada satu hal.

Menghadapi masa lalu adalah langkah pertama dalam perjalanan menuju masa depan yang lebih bahagia. Tidak mudah menghadapi rasa takut dan trauma tetapi, percayalah waktu yang akan menjawabnya.