Hampir semua orang pernah menemukan atau membaca mengenai istilah toxic masculinity yang mana berkaitan erat dengan isu kesetaraan gender. Menyinggung mengenai kesetaraan gender, masyarakat Indonesia sendiri merasa hal itu merupakan sesuatu yang kurang penting atau sepele.

Toxic masculinity jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti maskulintas beracun. Secara istilah, toxic masculinity merupakan perilaku sempit yang mengenai gender dan sifat laki-laki yang kaku, cenderung melebih-lebihkan standar maskulinitas pada laki-laki.

Laki-laki sering kali diberikan label oleh masyarakat awam untuk menjadi figur yang terkesan maskulin sedangkan perempuan dilabeli sebagai figur yang feminim. Hal tersebut dapat berujung kepada adanya pembedaan dalam pembagian tugas maupun peran dalam masyarakat itu sendiri

Maskulinitas dalam konsep toxic sering ditandai dengan adanya kekerasan, keagresifan, dan tidak boleh menunjukkan emosi yang bisa dianggap lemah.

Anggapan-anggapan mengenai seorang laki-laki harus bisa sepak bola, tidak boleh memasak, dan bahkan sering terdengar bahwa terdapat larangan bahwa laki-laki tidak boleh menangis yang jika dipikir dengan akal sehat menangis adalah hal yang sangat wajar dilakukan oleh siapapun.

Sebuah penelitian oleh Silver (2018), menuliskan empat hal umum terkait dengan konsep maskulinitas di masyarakat Amerika yakni laki-laki harus menghindari apapun yang bersifat feminin atau yang berhubungan dengan wanita, Kewajiban laki-laki harus berjuang untuk sukses dan berprestasi, laki-laki tidak diperbolehkan menunjukkan kelemahan dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, dan yang terakhir berjiwa petualang, dan diharuskan untuk mengambil risiko sekalipun menggunakan kekerasan

Akibat dari toxic masculinity ini, banyak laki-laki di luaran sana yang secara terpaksa harus menyembunyikan rasa emosionalnya dan menutup diri agar dirinya bisa diterima masyarakat dan lingkungan.

Ditinjau dari sisi psikologis, toxic masculinity ini dapat memberikan dampak negative bagi laki-laki, Kebanyakan sedari kecil lingkungan mereka secara tidak langsung mengajarkan laki-laki diharapkan dapat memenuhi ekspektasi-ekspektasi seperti hal-hal yang maskulin tersebut.

Pada akhirnya, jika laki-laki tidak dapat memenuhi ekspektasi tersebut, maka ia akan disebut sebagai “bukan laki-laki sejati” karena sifat-sifat maskulinitas tersebut tidak dapat dipenuhinya. Hal lainnya juga dapat semakin banyak korban bullying yang terkait dengan toxic masculinity ini.

Sebenarnya ada banyak hal yang disayangkan dengan adanya toxic masculinity dan pemikiran-pemikiran yang salah mengenai seorang pria. Seperti contohnya, laki-laki yang memiliki keahlian di bidang tata rias, bahkan memasak, justru akan lebih memilih untuk memendam keahliannya. 

Mereka juga akan menyembunyikan rasa sedih dan menangis yang dianggap sebagai karakteristik feminim yang hanya boleh dilakukan kaum wanita.

Salah satu hasil riset dari WHO menyebutkan bahwa 80% pria melakukan bunuh diri di Amerika, atau 2,9% orang dari 100.000 orang melakukan bunuh diri (di mana pria mendominasi angka tersebut) disebabkan oleh rasa tidak mampunya pria menjalani peran sosial sebagai pria yang dibebankan oleh masyarakat kepadanya. Sifat pria yang lebih impulsif membuat dorongan emosional untuk melakukan tindakan bunuh diri lebih kuat dibandingkan pada Wanita

 Hal ini tentunya tidak hanya berdampak pada pria itu sendiri melainkan juga orang lain dan akhirnya menjadi korban  kekerasan pria. Pada tahun 2018 dan 2019, Komisi Perlindungan Anak Indonesia mencatat beberapa kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan dan anak laki-laki yang dilakukan oleh laki-laki. Ironisnya, 123  korban kekerasan seksual  terjadi di lembaga Pendidikan.

Perubahan Statement

Butuh waktu yang lama untuk mengubah pandangan mengenai maskulinitas dan yang  berurusan dengan toxic masculinity. Keduanya merupakan nilai budaya yang sudah lama tertanam di masyarakat, sehingga sangat sulit untuk mengubahnya dengan satu jari.

Selain itu, mencoba mengubah pandangan tentang maskulinitas destruktif membutuhkan upaya yang lambat untuk menghindari terlalu berbahaya atau menyebabkan konflik antar kelompok.

Cara menghadapi toxic masculinity bagi laki-laki yakni dengan cara kita dapat mendorong mereka untuk mencoba mengungkapkan perasaan mereka secara lebih terbuka. Orang tua juga bisa membuat anak mengerti sejak dini bahwa tidak ada salahnya menangis atau bersedih dan membicarakan apa yang mereka rasakan.

Langkah  penting adalah mencoba membicarakan perasaan dengan laki-laki, dan tidak mempermalukan mereka, jika apa yang ada dalam diri mereka tidak sesuai dengan karakteristik maskulinitas dalam masyarakat.  

Mengurangi  kekerasan toxic masculinity dapat dilakukan dengan mengajarkan anak-anak sejak usia dini untuk saling menghormati, juga dengan menjelaskan kepada mereka bahwa setiap orang memiliki batasan pribadi yang tidak dapat dilanggar dengan cara yang sewenang-wenang.

Selain itu, perlu dibentuk media hiburan yang dilihat anak-anak, sehingga anak-anak dapat memahami bahwa unsur-unsur yang terkait dengan maskulinitas beracun tidak layak untuk ditiru.

So, toxic masculinity ini memang sebuah tindakan yang tidak bisa untuk dibenarkan dan untuk laki-laki yang memiliki maskulinitas ini sebenarnya mereka tidak salah, tetapi menjadi salah ketika dia terlalu menganggap yang lainnya rendah dan berakibat toxic masculinity tadi.

Toxic masculinity ini bukanlah budaya yang harus terus dipertahankan, namun perlu ditangani secara serius dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak Bahaya dari toxic masculinity ini juga juga dapat merusak mental seorang yang berakibat depresi hingga bunuh diri.