Belum lama ini saya bergabung dengan sebuah komunitas yang sangat eksklusif di Facebook, LIKE Indonesia –Lingkar Inspirasi Keluarga Edukatif. Komunitas ini digawangi oleh Michael Yamin, Ric Erica dan Nana Padmosaputro, serta beberapa orang yang peduli terhadap isu pendidikan, terutama pendidikan bagi anak-anak, yang merupakan generasi penerus berdirinya bangsa ini di masa yang akan datang. 

Cukup ketat screening yang dilakukan para admin di komunitas ini untuk bisa “mendarat” dan diterima dalam komunitas tersebut. Intinya orang yang open minded dan mau belajarlah yang akan diterima di komunitas tersebut.

Saya masuk dalam komunitas ini melalui salah satu program yang mereka buat, yaitu CCC (Chit Chat & Chew), yaitu program edukasi berbasis daring melalui aplikasi Zoom. Topik yang diangkat pada acara CCC saat itu adalah Toxic Marriage (pernikahan beracun). 

Di sana saya mendengar beberapa narasumber yang menceritakan pengalaman hidupnya yang mengalami toxic marriage dengan pasangannya atau anak yang besar dari pasangan toxic marriage tersebut. Masalah-masalah yang diangkat tersebut lalu dibahas oleh pakar, yang pada acara tersebut adalah Ratih Ibrahim, seorang psikolog professional.

Sebenarnya masalah Toxic Marriage ini adalah masalah yang banyak terjadi di sekitar kita. Hanya saja, soal ini biasanya tidak muncul ke permukaan, seperti fenomena gunung es. Hal ini terjadi karena orang yang mengalaminya malu, belum lagi jika dibenturkan dengan aspek agama atau budaya, sehingga kebanyakan orang memilih untuk berdamai dengan racun di biduk rumah tangga ini.

Hal ini sebenarnya akan meracuni atau memberikan dampak negatif terhadap siapa pun yang mengalami toxic relationship. Racun tersebut bisa berupa perkataan, sikap, perlakuan kasar atau apapun juga, dampak racun ini bisa membuat orang tidak produktif dan tidak bahagia dengan hidupnya, padahal setiap orang berhak untuk bahagia. 

Indikatornya untuk mengetahui apakah seseorang sedang berada dalam hubungan yang beracun atau tidak sebenarnya mudah saja; apakah Anda tidak merasa aman dan nyaman di dekat pasangan? apakah Anda merasa tertekan saat berinteraksi? apakah Anda merasa pasangan sangat keterlaluan dan terakhir, apakah Anda merasa pasangan itu menambah masalah dalam hidup?

Jika jawaban dari ke empat pertanyaan tersebut semuanya iya, maka mungkin memang Anda sedang berada dalam hubungan yang beracun dengan pasangan Anda. Tapi pertanyaan tersebut harus Anda jawab dalam kondisi yang stabil dan tidak sedang emosional. Jadi harus dilihat komprehensif dalam jangka waktu yang cukup lama.

Demikian dijelaskan oleh Ratih Ibrahim, seorang psikolog klinis yang merupakan CEO dari Personal Growth Indonesia –Organisasi yang menyediakan layanan psikologis professional dengan spesialisasi dalam bidang konseling dan pengembangan sumber daya manusia, didirikan tahun 2003.

Kalau mau jujur, di Indonesia sebenarnya banyak sekali kasus toxic marriage yang berlanjut dengan toxic relationship, hasilnya membuat pasangan tidak bahagia dan tidak produktif. 

Berdasarkan catatan tahunan Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan Terhadap Perempuan 2019, dari 13.568 kasus kekerasan yang tercatat, 9.637 kasus berada di ranah privat (71%). Jumlah ini meningkat dari tahun 2018. Dari jumlah tersebut, jumlah kekerasan dalam pacaran mencapai 2.073 kasus, dan jumah kekerasan terhadap istri mencapai 5.114 kasus, dikutip dari Unair News Desember 2019.

Korban dari toxic relationship ini biasanya adalah wanita dan anak-anak. Dr. Primatia Yogi Wulandari, M.Si., psikolog Universitas Airlangga (UNAIR) menyebut toxic relationship paling berbahaya bila terjadi pada kalangan remaja atau pasangan yang menjadi orang tua dari anak-anaknya. Hal ini karena toxic relationship memiliki dampak yang bermacam-macam. 

Sebagian besar mungkin diawali dari dampak yang bersifat psikologis. Orang yang menjadi pihak yang dirugikan dalam toxic relationship dapat menjadi rendah diri dan pesimis. “Bahkan bisa saja ia membenci dirinya sendiri akibat perlakuan ataupun perkataan negatif yang diberikan teman atau pasangannya tentang dirinya,” ungkapnya.

Tidak banyak orang yang berani mengambil keputusan untuk mengakhiri toxic relationship. Kebanyakan malah menjadikan agama sebagai dasar untuk tidak mengakhiri hubungan yang beracun ini. Seperti dogma bahwa seorang istri harus mengabdi kepada suami atau bahwa segala yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia terkadang justru membuat kondisi korban semakin bertambah depresi. Tuhan menganugerahkan akal sehat kepada setiap manusia untuk dipergunakan dengan bijaksana.

Aspek budaya juga terkadang memberikan andil yang cukup besar untuk membuat seseorang tidak mengakhiri toxic relationship. Status janda masih dianggap sangat negatif dalam budaya umum kita di Indonesia. Padahal apa bedanya dengan duda? Itu hanya status saja. Tidak ada yang salah dengan janda ataupun duda. 

Kalau hubungan yang beracun itu memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi, maka menyandang status janda jauh lebih baik ketimbang terus bertahan dalam toxic relationship. Yang harus dipikirkan untuk mengakhiri hubungan yang beracun ini bukan aspek agama atau budaya, tapi lebih pada kemandirian finansial. Itu yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan masak-masak.

Jadi apa sebenarnya yang harus dilakukan kalau kita berada dalam hubungan yang beracun? Mungkin sebagai langkah awal adalah mencoba untuk memperbaikinya dengan konseling pada pakar tentunya. Kalau berhasil, bersyukurlah bahwa masih diberikan kesempatan untuk hidup bahagia. 

Lalu apa yang harus dilakukan kalau ternyata setelah melakukan serangkaian konseling ternyata hubungannya tidak bisa dilanjutkan lagi? Tentu di sini akal sehat yang dianugerahkan Tuhanlah yang harus dipergunakan. Jangan terjebak dalam doktrin agama ataupun doktrin budaya. Setiap orang berhak untuk hidup bahagia… maka berbahagialah…