Waktu semakin bergulir dengan atau tanpa kita sadari. Peran kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini tentu saja untuk bertumbuh menjadi lebih baik dari hari ke hari sehingga bisa menyebar banyak manfaat di sekitar. Minimal banget tentu saja bermanfaat buat diri sendiri. Jangan sampai kita yang lima tahun lalu sama aja atau bahkan lebih buruk dari kita yang sekarang.

Nah, hayo coba ukur-ukur lagi, dalam waktu lima tahun ke belakang sudah berapa banyak kamu bertumbuh jadi lebih baik? Dari sisi keilmuan, pekerjaan, hubungan sosial, intrapersonal kamu, attitude, dan sebagainya. Jangan-jangan tetap sama aja, ilmu tidak nambah, finansial begitu-begitu aja, ibadah juga enggak ada peningkatan hanya sebatas sholat lima waktu, dan yang utama sifat serta perilaku juga g bertambah dewasa! Amit-amit deh. Jangan sampai kejadian dalam hidup kita yah genks.

Riset punya riset, ternyata yang menyebabkan kenapa hidup kita itu enggak improve salah satunya karena toxic habits yang seringnya kita nggak sadar! Jadi walaupun kita udah berusaha membangun hidup yang lebih produktif seperti bangun lebih pagi, lebih rajin baca buku dan beribadah, dan sebagainya, tetapi kalau kita masih terjebak dalam toxic habits jangan heran kalau hidup kita jadi enggak maju-maju. Stagnan!

Karena itu, udah saatnya kita lebih aware dengan toxic habits dalam hidup kita dan perlahan-lahan meninggalkannya. Seperti yang sering kita dengarkan di ceramah, “Mematuhi Perintah-Nya dan Menjauhi Larangan-Nya” yang berarti melakukan kebiasaan baik saja tidak cukup jika yang buruk tidak ditinggalkan. Makanya, yuk dicek nih, kira-kira toxic habits mana yang masih sering kita lakuin.

  • Terlalu Memikirkan Pendapat Orang Lain

Consider others’ thought atau mempertimbangkan pikiran orang lain hingga pada level tertentu benar adanya. Tapi kalau kita udah berada dalam tahapan sampai merasa sedih karena pendapat orang lain, hati-hati bisa jadi kita udah masuk toxic habits ini. Pada level yang lebih serius, kita dikatain terlalu mikirin pendapat orang saat yang diomongin itu benar-bener hit to the point dengan masalah yang kita alami. Semisal, diomongin udah umur segini kok belum nikah, atau diceletukin udah 6 semester kok enggak lulus-lulus sih. Kezel kan? Apalagi kalau itu bener-bener sesuatu yang sedang kita upayakan.

Nah so what you can do? Pass it out! Enggak usah dipikirin, yang harus kita upayakan terus adalah usaha kita. Biarin aja orang ngomongin gimana gegara perkara belum nikah, yang harus terus kita upayakan sibuk memperbaiki diri, menambah amal shalih dan ilmu. Jangan malah hanyut bahkan bete sampai-sampai kita salah mengambil keputusan dalam hidup kita! Ini bahaya banget guys. Jangan karena pendapat orang lain, kita jadi goyah dengan prinsip dan melencong dari life goals kita.

Jadi mulai sekarang nih, saring-saring lagi pendapat orang lain buat hidup kita. Kalau enggak faedah, udah lupain aja. Terus semangat meningkatkan kapasitas diri.

  • Living for A Weekend

Apa kamu termasuk monday haters? Atau weekend fans? Kalau dalam sehari-hari kamu termasuk orang yang hanya menyusun rencana untuk weekend, welcome to the club! Berarti kamu udah terjebak dalam toxic habits kategori ini. Dalam seminggu kita punya tujuh hari lho, jika kamu hanya fokus untuk membangun rencana saat weekend, maka seumur hidup kamu cuman bakal memanfaatkan kurang dari separuh umurmu!

Yang harus diubah yaitu mindset tentang weekday versus weekend ini. All days are worthed! Semua hari itu sama yah, tinggal bagaimana kita manfaatkan saja. Kebanyakan korban toxic habits ini adalah pekerja formal yang mesti kerja di weekday atau mungkin kamu-kamu yang masih sekolah. Ya nggak? Coba perhatiin lagi, sebenarnya yang kalian tidak sukai itu harinya atau kegiatan di hari itu? Tolong dipisahkan, jangan dipukul rata membenci hari-hari tertentu.

Let say, kita bosen nih di tempat kerja, jangan jadikan itu beban untuk membuat your whole weekdays dari senin sampai jumat sia-sia. Try to plan something new. Misal coba menyusun playlist lagu yang berbeda untuk didengarkan saat work hours. Atau coba rencanakan jalan-jalan kecil di tengah weekdays kamu. Intinya, don’t wait until weekend! You can plan it everyday.

  • Berusaha Selalu Menyenangkan Semua Orang

Emang bener sih, hidup mesti selalu terlibat dengan orang lain, sebisa mungkin berguna buat sesama. Tetapi bukan berarti juga kamu harus menyenangkan semua orang sampai-sampai enggak mengindahkan diri kamu sendiri. No no no! Ingat donk, you cannot please everyone. Jadi coba buat daftar prioritas.

Teman saya pernah cerita, dia baru saja punya satu anak, kebetulan ia juga bekerja kantoran sebagai staf ahli. Di sisi lain, keluarganya sangat menjunjung tinggi prioritas keluarga diatas segalanya. Sampai pada suatu waktu, teman saya hampir depresi. Setelah diusut mungkin doi kelelahan jiwa raga karena harus bekerja optimal di kantor, setelah itu pulangnya harus mengurus anak dan suami, sampai-sampai tidak punya waktu untuk diri sendiri. Dalam pandangan orang lain, dia ini keren banget deh, eh ternyata dia sendiri tidak merasa begitu. Iya, soalnya yang selama ini ia lakukan adalah berusaha memenuhi tuntutan orang di sekitarnya, di tempat kerja dan di rumah.

Jadi coba cek lagi nih, jangan-jangan kita juga sering begitu? Karena perasaan “enggak enakan” malah membuat kita jadi down, tidak termotivasi, dan pastinya unhappy.

  • Hidup untuk Cicilan ke Cicilan

No offend! Tetapi jelas banget kalau hidup kita cuman dikejar-kejar dangan cicilan, kita jadi tidak bisa berpikir maju. Pasti yang ada di otak kita, gimana ngumpulin cuan lagi buat bayar hutang. Alih-alih bekerja dengan passion, berkarya dengan maksimal, yang kita kejar hanyalah upahnya belaka. Sumpah deh, enggak enak banget hidup cuman buat ngejar setoran.

Kalau kamu udah terlanjur terjebak dalam ritme kejar setoran tiap bulan ke bank atau kemanalah, maka udah saatnya Tidak nambah hutang lagi! Kalau perlu nih ekstrimnya, benahin dan sisihkan barang-barang yang bisa dijual untuk nutupin hutang. Jangan merasa sudah punya pekerjaan tetap jadi bisa santai tak terjerat toxic habits ini. No way! Seberapa besar penghasilannya tetapi jika mesti selalu terkejar membayar hutang, tetap saja kamu bakal sulit maju.

Kalau kalian masih di sisi aman tidak berhutang. Bersyukur men! Alhamdulillah. Dan jangan kejebak gaya hidup hendonisme sampai-sampai kamu mesti kredit kanan kiri. Demi apa coba? Demi tampilan yang menurut orang keren? Demi kendaran yang lebih aduhai? Atau sekedar untuk punya rumah sepetak? Udahan lah guys. Sadari toxic habits ini, dan cobalah untuk hidup lebih sederhana.

Ada yang bilang kalau enggak ngutang enggak akan pernah bisa kebeli harta benda duniawi seperti motor, mobil, atau rumah. All I can say, please men, kayak kamu enggak percaya aja Tuhan Maha Kaya. Itu jebakan kaum kapitalis doank. Dan kita mesti sadar banget dengan bahayanya.

Nah kira-kira itu tadi beberapa toxic habits yang sering banget tidak kita sadari dan menghambat hidup kita. Ayo pelan-pelan sadar dan tinggalkan toxic habits itu semua agar hidup kita bisa lebih baik lagi hari ke hari. Bukankah, orang yang beruntung adalah yang bisa lebih baik dibanding kemarin?