Sebuah julukan baru untuk teman yang membawa pengaruh buruk kepada teman lainnya. Tidak hanya itu, toxic friendship bisa dikatakan ketika kita salah masuk dalam suatu pergaulan yang menjadikan diri ini tidak apa adanya, alias bukan menjadi diri sendiri saat berada di lingkup pergaulan tersebut. 

Bentuk lain dari toxic friendship adalah ketika kita dipaksa melakukan sesuatu yang tidak kita sukai atau tidak kita inginkan. Bisa juga karena kita tidak bisa menolak teman yang meminta bantuan kita padahal diri kita sendiri sedang banyak kegiatan juga pikiran. Dan masih banyak lagi bentuk toxic friendship yang ada di dunia pertemanan ini.

Saya ataupun teman-teman pasti pernah mengalami toxic friendship, hanya saja kita belum menyadari bahwa hubungan pertemanan tersebut termasuk ke dalam kategori toxic friendship. Saya sendiri baru menyadari bahwa saya pernah berada di lingkup pertemanan yang toxic.

Bermula saat saya masih di bangku sekolah menengah atas. Sebenarnya saya tidak memiliki banyak teman dekat, namun saya bisa akrab dengan banyak teman di sekolah. Masa putih abu-abu merupakan masa yang sangat bahagia dan membuat nyaman karena mendapat banyak teman yang menyenangkan. 

saat itu saya mendapatkan beberapa teman yang satu frekuensi dengan saya. Bercanda, tertawa, dan mengerjakan tugas bersama-sama. Kami juga sering pergi bersama untuk melepaskan penat setelah sekolah. Setidaknya sekali dalam seminggu saat hari Sabtu ataupun Minggu. Namun, pertemanan ini semakin lama menjadi tidak sehat.

Dulu memang saya merasa itu hal yang wajar bagi remaja seusia kami. Pergi berbelanja ke mall, nongkrong di coffee shop, makan di MCD, dan semacamnya. Kami menghabiskan waktu, tenaga, dan materi dalam sehari, bahkan bisa saja berlanjut sampai dua hari. Padahal masih ada tugas yang senantiasa menunggu kepulangan kami untuk mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk.

Memang terlihat sangat menyenangkan saat melakukannya, tapi tidak dengan perasaan yang ada dalam diri ini. Rasanya ingin pulang, istirahat, mengerjakan tugas dan terlelap dalam selimut. Namun, hal itu tidak bisa saya lakukan karena ajakan yang tidak bisa saya tolak. 

Tidak enak menolak ajakan teman juga merupakan salah satu penyesalan saya dalam sebuah pertemanan. Saya bisa membatalkan janji bersama orang lain hanya untuk bermain bersama teman-teman saya. Perasaan bersalah kepada orang lain tentu ada, tetapi saya akan lebih merasa bersalah jika menolak ajakan bermain bersama teman dekat saya. 

Selain itu, dalam seminggu saya bisa menghabiskan uang ratusan ribu hanya untuk bersenang-senang bersama teman-teman dalam toxic friendship ini. Terkadang saya merasa bersalah kepada diri sendiri karena membeli barang bukan karena kebutuhan, tetapi karena bentuknya yang menarik atau karena dorongan dari teman-teman saya. 

Salah satu teman saya ada yang pernah mengatakan bahwa kami sebagai teman dalam satu perkumpulan harus bersiap-siap dengan uang yang banyak jika ingin bermain bersama. Padahal beberapa dari kami masih tergolong masyarakat menengah ke bawah yang tidak bisa semena-mena dalam mengeluarkan uang.

Tugas yang seharusnya selesai selama hari libur malah jadi tidak selesai karena kami bermain sampai larut. tugas dikerjakan ketika mendekati deadline atau waktu pengumpulan. Bahkan beberapa dari kami pernah telat mengumpulkan tugas dengan alasan yang sama.  

Saat ini saya baru merasakan kerugian yang saya alami karena waktu, materi, dan tenaga yang pernah saya buang untuk hal-hal yang tidak baik. Pertemanan yang berjalan sampai kami lulus dan saya tidak bisa mencari bahkan menemukan teman lain yang bisa mengerti saya karena pengaruh dari toxic friendship tersebut.

Dengan mereka, saya tidak bisa menjadi diri sendiri. dengan mereka saya tidak bisa mengutarakan perasaan yang sedang saya alami. dengan mereka saya harus terlihat baik-baik saja. Mereka tidak pernah mengetahui apa yang saya rasakan dan tidak pernah menanyakan keadaan yang sedang saya alami. 

Pertemanan yang seperti ini lah yang seharusnya bisa kita hindari.  Pertemanan yang merugikan diri kita sendiri. Dan sebenarnya masih banyak lagi bentuk pertemanan tidak sehat yang seharusnya bisa dihindari sejak awal. 

Mencari lingkup pertemanan yang bisa menuntun kita karena hal-hal baik, membuat kita nyaman, dan menjadi diri sendiri memang sangat susah. Namun, kita bisa menjadi teman yang membawa hal baik, membuat teman nyaman dengan kita, dan tentunya tidak merugikan orang lain. Sehingga, kita bisa mendapat teman yang baik pula.

Jangan pernah takut menolak orang lain, meskipun itu teman kita. Kita bisa keluar dari lingkup pertemanan yang tidak sehat jika kita bisa mengendalikan diri sendiri dan tidak terbawa oleh pengaruh buruk yang diberikan oleh toxic friendship. Jangan sampai masuk di lubang pertemanan yang salah.