Pernahkah anda melihat topeng? Pernahkah anda melihat orang memakainya, atau mungkin anda pernah memakainya? Menurut KBBI topeng adalah penutup muka dari kayu, kertas, atau bahan lainnya. 

Ada berbagai jenis topeng, ada yang berbentuk muka manusia, ada yang hewan, atau bahkan ada yang menyerupai wajah hantu atau iblis. Namun dapat dikatakan fungsi semuanya sama, untuk menutupi wajah yang dibaliknya.

Sadar tidak sadar, normalnya kita semua memakai topeng topeng tak kasat mata. Topeng tersebut kita kenakan setiap hari dan hampir setiap saat, terutama ketika berelasi dengan orang lain. 

Contoh sederhananya ketika bertemu guru atau orang yang lebih tua, kita akan berusaha terlihat sopan. Ketika berelasi, kita akan menunjukan wajah dan sikap yang berbeda tergentung dengan siapa kita berbicara.

Topeng VS “Topeng”

Sebelum kita melangkah lebih jauh, kita perlu mengetahui apa itu topeng tak kasat mata yang kita dibicarakan. Sebelumnya kita telah mengetahui apa itu ‘topeng’. 

Topeng-topeng tak kasat mata sangat mirip dengan topeng yang telah kita bahas sebelumnya. Sesuai dengan topeng pada umumnya, topeng-topeng tak kasat mata juga memiliki fungsi yang kurang lebih sama. Fungsi tersebut adalah untuk menutupi wajah sang pemilik.

Seorang ahli psikologi, Carl Gustav Jung, pernah mengatakan bahwa manusia memiliki 4 lapisan bawaan. Lapisan pertama dan terluar adalah kepribadian yang kita tunjukan pada orang-orang di sekeliling kita/public face, lapisan inilah yang merupakan ‘topeng’ yang kita kenakan. Topeng tersebut selalu kita kenakan terutama saat berinteraksi dengan sesama manusia.

Topeng dan Diri Sendiri

Satu pertanyaan yang sering kali diajukan orang-orang yang menyadari hal tersebut, apakah salah mengenakan topeng topeng tak kasat mata ini? Sering kali kita juga mendengarkan perkataan perkataan seperti: jadilah dirimu sendiri, be yourself, Jangan menjadi orang munafik. 

Pernyataan pernyataan tersebut sering ‘menyerang’ penggunaan topeng topeng tak kasat mata. Oleh karena itu, perlu kita lihat lebih lanjut mengenai pernyataan-pernyataan tersebut.

Pertama, apa itu menjadi diri sendiri? Kita perlu kritis terhadap pernyataan ini. Apakah menjadi diri sendiri itu berarti melepas topeng topeng atau, menurut Jung, lapisan lapisan dalam diri manusia? 

Jika memang demikian, apakah ketika anda bertemu orang asing anda akan mengatakan nomor pin anda? Atau mengatakan masalah-masalah anda dalam keluarga? Atau bahkan, anda akan mengatakan tentang warna pakaian dalam anda? Tentunya tidak, bahkan dalam kasus tertentu anda akan mencurigai dan menjaga jarak. Inilah topeng-topeng yang kita kenakan dalam keseharian kita.

Lebih ekstrim lagi, apakah menjadi diri sendiri berarti melepaskan segala yang ada di dalam diri kita? Tidak menahan diri dan melakukan segala sesuatu seenaknya? Jika pemahaman tentang ‘menjadi diri sendiri’ seperti itu, ketika semua orang menjadi diri sendiri maka dunia sudah lama hancur. 

Dalam berelasi dengan sesama manusia, kita perlu membatasi diri kita dengan sesuatu agar tidak meledak dan mengacaukan segala yang ada di sekitar kita, dan hal itu adalah ‘topeng-topeng tak kasat mata’ yang kita kenakan.

Menjadi diri sendiri bukan berarti melepaskan topeng-topeng yang kita kenakan. Tidaklah masuk akal jika menjadi diri sendiri bermakna agar kita melakukan apapun yang kita inginkan. Lebih masuk akal jika ‘menjadi diri sendiri’ dikaitkan dengan bagaimana cara kita mengenakan ‘topeng-topeng’ tersebut.

Topeng yang Khas

Pernahkah anda melihat teman baik anda mengenakan topeng yang menutupi seluruh wajahnya? Apakah anda tidak dapat mengenali teman baik anda? Bukankah anda dapat mengenalinya meski wajahnya tertutupi topeng? Anda dapat mengenalinya tidak dari wajahnya tetapi dari caranya menggerakkan tubuh dan kebiasaan kebiasaannya. 

Sama halnya dengan mengenakan ‘topeng tak kasat mata’. Ada berbagai macam bentuk topeng, tak jarang topeng yang dikenakkan sama dengan topeng milik orang lain, tetapi orang yang mengenakkannya berbeda-beda. 

Ada berbagai macam ‘topeng’ yang kita miliki, topeng seorang teman, topeng seorang anak, topeng seorang pelajar, topeng seorang politikus, dan masih banyak lagi. Meski demikian orang yang memakainya berbeda-beda. 

Dalam mengenakan topeng tak kasat mata ini kita tidak boleh meniru cara orang lain, melainkan kita perlu menggunakan cara kita sendiri. Inilah yang dimaksudkan dengan menjadi diri sendiri.

Kesimpulan

Maka dari itu, kita perlu menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan kita tak pernah terlepas dari ‘topeng-topeng tak kasat mata’ ini. Banyak topeng yang perlu kita kenakkan, dan ‘topeng’ itulah yang mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain. 

Namun perlu kita ingat, ‘topeng’ bukanlah alat untuk bersembunyi atau bahkan alat untuk menipu orang lain, sebaliknya topeng adalah bagian dari diri kita sendiri. Oleh karenanya kita perlu mengenakkannya dengan cara kita sendiri, bukannya ‘menjiplak’ cara orang lain memakainya. 

Jadilah dirimu sendiri, pakailah ‘topeng-topeng’mu dengan caramu sendiri, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa yang mengenakkan topeng tersebut adalah dirimu.