Topeng Ayu adalah tabir yang indah dan menawan untuk menutupi sesuatu yang ada di dalam atau di baliknya. Dan sebuah tarian, sebenarnya adalah topengnya itu sendiri.

Membayangkan berada di kaki gunung Telomoyo, yang terlintas dalam ingatan adalah kisah tentang Jaka Tarub dan betapa cantiknya bidadari Nawang Wulan turun dari Kahyangan pada hari Anggoro Kasih, menari dengan gemulai di sebuah air terjun nan jernih dan indah, yang berada di kaki Telomoyo.

Legenda Jaka Tarub, memang melekat dengan yang namanya air terjun dan gunung Telomoyo. Maka, mendengar ada kampung menari di kaki gunung Telomoyo, yang pertama terbayang adalah keindahan bidadari-bidadari yang sedang menari dengan gemulai dan memberikan aura bahagia bagi yang menari maupun yang menyaksikannya.

Kampung menari yang berada di kaki gunung Telomoyo ini, tepat berada di Dusun Tanon, Desa Ngrawan, masuk ke dalam wilayah administratif Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Dusun ini tak hanya menyajikan wisata tarian lokal, namun penduduk setempat pun juga menggiring para pelancong untuk melakukan wisata keliling desa (outbound ndeso), sebuah kegiatan yang tak kalah menarik.

Konsep penyambutan tamu/wisatawan memang sudah dikemas dengan sangat baik, seperti adanya welcome drink maupun welcome dance. Tari Topeng Ayu, Kuda Debog, Kuda Kiprah dan Warok Kreasi adalah tarian yang biasa disuguhkan. Menariknya, tarian ini pun dibawakan sendiri oleh warga asli Dusun Tanon, mulai dari anak-anak hingga orang tua.

Banyak hal menarik, yang bisa kita dapatkan bila berkunjung ke kampung menari ini. Datanglah ke sana, selain dapat sejenak menghibur hati yang penat dengan rutinitas hidup, berwisata di dusun ini juga dapat membuka mata kita untuk melihat sisi lain kehidupan desa yang telah dikemas dengan apik. Tak hanya untuk orang dewasa, wisata ini otomatis sangat mendidik untuk anak-anak.

Selain disuguhi tarian yang indah dan menawan, pengunjung di Dusun Tanon ini biasanya akan dihibur dengan permainan rakyat tradisional (Gobaksodor dan Egrang), serta juga akan diberi kesempatan menjajal pengalaman menjadi seorang petani atau peternak sapi perah, yang merupakan mata pencaharian sebagian masyarakat di dusun ini. 

Menurut sumber yang pernah berkunjung ke dusun ini, adanya pasar (jual beli) sayur organik untuk tamu/wisatawan yang datang, juga tak kalah memikat.

Baca Juga: Tarian Asap

Di Balik Keindahan Kampung Menari

Sebelum menjelma menjadi kampung menari dan menjadi salah satu destinasi wisata di Semarang, baik untuk wisatawan lokal maupun mancanegara, desa ini termasuk desa yang tertinggal. Jalan belum diaspal dan penghasilan penduduk terbilang rendah.

Untuk menjadi desa yang memikat dan menarik seperti sekarang ini, tentu semua tak lepas dari berkah karunia dan perkenan Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memunculkan sosok pelopor di desa tersebut. Keikhlasan Mas Trisno dan orang-orang didekatnyalah, yang memelopori munculnya sebuah desa, dari yang tertinggal menjadi maju, yang otomatis meningkatkan penghasilan penduduknya.

Tak hanya peran sang pelopor dan orang-orang di dekatnya, kekompakan warga justru sangat berperan penting. Menari sebenarnya tak selalu membutuhkan keahlian, tapi ketulusan dan kegembiraan di kala menarikannyalah, yang membuat sebuah tarian menjadi lebih menarik dan dapat mengeluarkan aura indahnya. 

Penduduk dusun ini pun akan terus menari dan menyambut ramah tamu/wisatawan yang datang, seperti semangat yang ada dalam tarian Kuda Kiprah yang biasa disuguhkan, dimana kiprah yang berarti berkarya, maka penduduk dusun ini akan terus menari dengan sebuah makna yang ada di dalam atau di balik nama tariannya. 

Dan keramahan penduduk dusun dalam menyambut setiap tamu yang datang ini, tentu juga memiliki makna yang sangat dalam. Disadari atau tidak, sebenarnya mereka telah menunjukkan jati diri bangsanya yang sejati, yang sampai saat ini masih terjaga. Yakni sebuah bangsa dengan masyarakatnya ramah dan selalu guyub rukun.

Kisah Jaka Tarub yang melekat pada gunung Telomoyo, tentu menyiratkan pesan luhur bagi masyarakat yang mendiaminya. Seperti arti dari asal kata Tarub yang dalam bahasa Jawa berarti ditata supaya katon murub, yang dalam bahasa Indonesia berarti ditata supaya semakin bersinar, maka desa ini pun akhirnya memang bisa bersinar, yang membuat namanya mencuat indah sebagai desa menari. 

Ya, Tanon telah menjadi dusun yang maju dan bersinar gemilang, karena dusun ini telah berani dan mampu menata diri, yang tentunya patut menjadi teladan bagi daerah lainnya, untuk dapat menggali dan menemukan potensinya masing-masing, dengan tidak mengabaikan pesan-pesan luhur dari para leluhur yang kadang tersimpan dalam sebuah mitologi atau dongeng.

Desa Menari

Sudah selayaknya desa ini menjadi julukan kampung menari atau desa menari. Bukan saja, karena dalam penyambutan tamu/wisatawan, diikuti oleh seluruh warga asli kampung ini, mulai dari anak-anak sampai kakek nenek yang seluruhnya bisa menari. Tapi kesadaran menjaga tradisi menari yang dilakukan secara turun-temurun dengan otodidak ini, menjadikan kampung ini memiliki masa depan yang gemilang untuk tetap beregenerasi. Anak-anak di kampung ini pun otomatis mendapatkan pendidikan menari sejak dini.

Mereka, anak-anak, remaja putra maupun putri sampai yang dewasa, memang dapat menarikan tarian khas tradisional mereka dengan gemulai, diiringi gending gamelan dengan ritme yang rancak. Menari dengan kostum dan aksesoris yang tidak ringan yang melekat pada tubuh mereka pun, tentu menunjukkan adanya sebuah proses pembelajaran dan pelatihan yang tidak instan. Dari senyum dan kegembiraan yang tersirat, memperlihatkan bahwa mereka tak sekedar menari untuk tamu, tapi mereka pun tampak menikmati setiap gerak tariannya, seolah mengisi jiwa mereka dengan sebuah keindahan yang hakiki.

Seperti Tari Warok yang dibawakan anak-anak di desa ini, yang merupakan sebuah tarian yang diadopsi dari reog Ponorogo yang menggambarkan tentang semangat perjuangan dari laskar Warok untuk mempertahankan tanah airnya, anak-anak di dusun ini pun tampak pula menikmati setiap gerak tariannya. Tak sekedar menari untuk menyambut tamu atau pengunjung, tarian ini pun akhirnya menjadi penyemangat desa ini untuk tetap melangkah maju. Dan untuk bisa menari dengan indah, bagi anak-anak ini dibutuhkan waktu latihan paling tidak satu tahun. 

Tari Kuda Kiprah yang biasa dibawakan remaja putra di desa ini dalam menyambut tamu, menceritakan tentang simbol kegagahan prajurit berkuda di medan laga. Gerakan demi gerakan dan hentakan demi hentakan yang harmoni dengan iringan gending, menunjukkan kegagahan mereka layaknya prajurit berkuda. Seperti arti kata kiprah yang berarti berkarya, maka desa ini pun diharapkan akan terus berkarya seni. 

Kepiawaian remaja putri dusun ini dalam membawakan Tari Topeng Ayu yang diadopsi dari Tari Topeng Ireng, dengan gemulai dan anggun pun tak kalah memikat, dan sanggup memberikan atmosfer indah tersendiri. Tak hanya tariannya yang rancak dan penuh semangat, atribut dan aksesoris yang dikenakan untuk tarian tradisional khas pegunungan ini pun sangat menarik. Atribut yang dikenakan memang sangatlah indah, tapi tidaklah ringan, maka untuk penari pemula, tentu membutuhkan waktu latihan khusus untuk mengenakannya.

Perhatian dan dukungan dari berbagai pihak, baik dari pemerintah maupun swasta seperti Astra pada Desa Menari ini pun juga patut diapresiasi, apakah bantuan tersebut dalam bentuk material dan non material, dalam upaya meningkatkan kualitas manajemen atau pun konsep desa wisata yang semakin matang.

Semoga komitmen dukungan dari berbagai pihak pada Desa Menari seperti ini dapat terus berlanjut, untuk dapat menjaga keberlangsungan masa depan bangsa melalui seni dan budaya. Karena nilai suatu bangsa dan peradabannya, memang hanya dapat dilihat dari keluhungan budi pekerti seni dan budayanya.

Tentang Topeng Ayu

Kalau kita membuka kamus, arti dari topeng adalah penutup muka dari kayu, kertas, dan sebagainya, yang menyerupai muka orang, binatang, dan sebagainya;  dan juga sekaligus memiliki arti kepura-puraan untuk menutupi maksud sebenarnya atau kedok. Sedangkan ayu sendiri memiliki pengertian cantik dan menawan; cantik dan anggun.

Jadi secara harfiah, topeng ayu adalah sebuah penutup muka, yang cantik dan menawan, yang menutupi sesuatu di baliknya. Apakah sesuatu itu lebih indah? Atau sebaliknya? Bagi penulis, menari adalah sebuah proses perjalanan hidup. Seperti halnya kehidupan, setiap gerakan memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. Bahkan setiap gerakan tarian, seolah bisa hidup dan bisa mengatakan banyak hal tentang apa yang ada di dalam atau di baliknya.

Maka tarian itu sendiri apapun tariannya adalah sebuah topeng ayu atau tabir yang indah dan menawan dari apa ada di baliknya. Baik dari gerak tarian yang lembut dan tenang, maupun yang rancak, sebuah tarian mampu menyampaikan kondisi atau suasana hati yang ada di baliknya (sang penarinya). Sang penari bisa saja sedang benar-benar dalam kondisi penuh kegembiraan/kebahagiaan, atau bahkan bisa juga dalam kondisi yang sebaliknya. 

Tarian sebagai topeng ayu sendiri merupakan pengendali diri yang indah anugerah dari Sang Pencipta. Terlalu bahagia memang tak harus diekspresikan ke permukaan, karena belum tentu harmoni dan menjadi lebih indah. Demikian pula sebaliknya, kesedihan tak seharusnya berlarut-larut, dan tarian sebagai topeng ayu bisa pula menjadi terapi yang tepat untuk memulihkan suasana hati menjadi lebih tenang.

Maka topeng ayu merupakan kepatutan dan kepantasan.  Dan sangat tepat bila topeng ayu dijadikan sebagai simbol penghormatan dan penghargaan terhadap tamu/pengunjung/wisatawan yang datang. Tuan rumah sepatutnya memang menyambut tamu dengan tulus dan suka cita apa pun kondisi atau suasana hatinya. 

Karena memiliki filosofi yang dalam, maka Topeng Ayu bagai busana yang kita kenakan, dan bila pilihan motif busana dapat menunjukkan jati diri siapa yang mengenakannya, maka busana yang ayu (indah dan menawan) tentu dapat memikat hati siapa pun yang melihatnya. 

Demikian pula dengan cahaya keilahian yang ada pada diri setiap manusia, sudah sepatut dan sepantasnyalah kita menjunjung tinggi, memberikan penghargaan dan penghormatan kepadanya, pengunjung/tamu/wisatawan yang datang. Karena yang ada di balik topeng (di dalam jiwa) setiap manusia (pengunjung/tamu) itulah, yang sepatut dan sepantasnya kita hormati.

Maka, penduduk dusun ini pun akan terus menari dan menyambut ramah tamu/wisatawan yang datang. Dan menunjukkan jati diri bangsanya sejati, yang sampai saat ini masih terjaga. Bangsa dengan masyarakatnya ramah dan selalu guyub rukun.

Topeng Ayu adalah tabir yang indah dan menawan untuk menutupi sesuatu yang ada di dalam atau di baliknya, yang bisa jadi, lebih indah dari yang terlihat. Dan bila tarian adalah topengnya itu sendiri, maka topeng ayu sudahlah tepat menyambut setiap hati yang datang berkunjung ke Desa Menari. 

Baca Juga: Tari Kepergian