Saya merasa kaget dan terhenyak saat membaca cuitan mbak Nong Darol Mahmada (@nongandah) 23 Mei 2017 pukul 00.45 GMT+7 silam. “Twit2 yg fitnah & ngebully aku keliatan bgt mereka ngga mengenalku,ngga spt @alobatnic yg menulis keren ini https://adibrs.blogspot.co.id/2017/03/nongdarolmahmada.html” begitu cuitannya.

Setelah saya telusuri sejenak melalui pencarian tweets dengan kata ‘Nong Darol Mahmada’ kemudian ‘@nongandah’, baru saya tahu latar peristiwa saat itu. Gara-gara cuitan yang menyerang mbak Nong dengan fitnah, cacian, dan hujatan.

Langsung saja saya speechless membaca cuitan-cuitan lain pada saat itu. Tentu speechless-nya beda dengan ketika kali pertama berjumpa mbak Nong. Kalau saat berjumpa pada 26 Desember 2015 silam rasanya sangat bahagia, tatkala membaca cuitan-cuitan tersebut, saya merasa marah, juga sedih.

Rasanya wajar ketika seorang yang begitu dikagumi, sosok yang langkahnya diikuti, ucapannya dimaknai, hingga kehadirannya disyukuri, diserang dengan kabar tanpa konfirmasi yang tak pernah terbukti. Sedih juga rasanya karena ungkapan fitnah seperti itu kok bisa-bisanya ramai dibahas.

Walau demikian, ada rasa bahagia juga. Tentu saya bahagia karena mbak Nong tampak suka dengan catatan saya tentangnya. Bahkan mbak Nong menganggap bahwa saya cukup mengenalnya sembari menyebut catatan itu keren. Who is her? Who am I?

Namun, rasa bahagia yang lebih besar ialah kenyataan kalau mbak Nong masih menarik perhatian orang lain. Saking begitu diperhatikan, sampai-sampai fitnah yang dialamatkan padanya perlu diimbuhi dengan cuplikan layar (screenshot) cuitan lawas mbak Nong.

Saya sendiri tak perlu membaca bantahan terhadap fitnah tersebut. Sejauh yang saya tahu, mbak Nong merupakan pribadi yang berupaya terus-menerus untuk tawadhu’ dan tunduk kepada Allah. Tidak mungkin dirinya memiliki niat, apalagi sampai melakukan, tindakan keji dan kotor yang melawan larangan Allah.

Meskipun barangkali mbak Nong bukan seorang muslim yang telah sempurna dalam menjalankan semua syariat, dirinya berupaya untuk tetap takzim. Kalaupun mbak Nong akhirnya memberi bantahan, itu dalam kerangka memberi informasi yang sebanding sehingga masyarakat dapat mencerna secara proporsional dan fair.

“Catatan Mbak Nong tak terlampau megah dalam hal pembaruan gagasan, tetapi dapat dilihat keterkaitan pengalaman personal dan pergaulan sosial dengan wawasan keilmuan.” Perkataan itu saya tulis dalam artikel Mbak Nong yang saya terbitkan melalui blog pribadi Kirana Azalea (Setiawan, 2017a).

Artikel itu saya tulis sebagai ucapan ‘sugeng ambal warso’ (selamat tambah umur) ke-42 buat mbak Nong pada 23 Maret 2017, 08.09 GMT+7. Isinya receh, sekadar bercerita tentang arti mbak Nong dalam perjalanan pribadi saya.

Saya adalah penggemar berat mbak Nong sejak lama. Buat saya, mbak Nong adalah manusia yang laras, sehingga bisa menjadi panutan yang pantas. Memang mbak Nong hanya melangkah sesuai kehendaknya saja tanpa pernah meminta saya untuk mengikutinya. Namun, tanpa permintaan apalagi pemaksaan saya merasa ingin mengikutinya.

Dalam perjalanannya, kami tak selalu sependapat. Ada masanya ketika saya memiliki pandangan berbeda bahkan berlawanan dengannya. Bagusnya, mbak Nong yang seakan membuat saya merasa sebagai temannya tak risau dengan hal ini. Biasa saja.

Karena itulah catatan tentang cuplikan perjalanan pribadi mbak Nong saya juduli Guru yang Menyapih. Seorang yang di-gugu (memotivasi) dan di-tiru (menginspirasi) sekaligus tak pernah memaksa orang yang merasa termotivasi dan terinspirasi untuk menjadi duplikasi dirinya.

Cuplikan perkataan tersebut menjadi sejenis cara saya memandang karya mbak Nong. Meskipun saya adalah penggemar beratnya, tapi tidak menganggap mbak Nong sebagai sosok yang sempurna (insan kamil, kamil bukan tam).

Dari peta cerdik-cendekia Indonesia, jelas Siti Musdah Mulia lebih popular. Tentunya karena selain Musdah fokus pada topik perempuan saat peta kajian keilmuan sedang didominiasi lelaki seperti Nurcholis Madjid dan Abdurrahman Wahid, dirinya juga memiliki gelar akademis yang tinggi (Mulia, 2005, hlm. xiii). Itu yang tidak dimiliki oleh mbak Nong. Karena faktor gelar akademis pula belakangan mbak Nong dibayangi oleh Neng Dara Affiah, kakak kandungnya, maupun Lanny Octavia, rekannya.

Memang topik perempuan bukan hanya diminati oleh Musdah seorang, Husein Muhammad dan Nasaruddin Umar serta belakangan Syafiq Hasyim juga sangat perhatian (Umar, 1998; Mahmada, 2001). Perempuan yang fokus pada topik tersebut juga tidak hanya Musdah, ada nama Saparinah Sadli, N.H. Dini, bahkan Sinta Nuriyah istri Gus Dur pun dapat dimasukkan ke dalam peta. Hanya saja dibanding orang lain, Musdah terbilang paling mudah dijamah, baik melalui karya tulis maupun ucapan lisan.

Faktor lain yang menenggelamkan mbak Nong dari peta kajian keilmuan juga tidak ada buku yang ditulis. Banyak penulis dan penerbit buku menggunakan jasanya sebagai editor dalam proses penulisan (Setiawan, 2017b). Namun, sebagai penulis mbak Nong tidak seperti Neng Dara yang menulis Islam, Kepemimpinan, dan Seksualitas maupun Lanny dengan karya agung berjudul Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren.

Mbak Nong sendiri lahir dari lingkungan santri, tepatnya Pondok Pesantren An-Nidzomiyyah Labuan, Pandeglang, Banten. Syafe’i Ali, yang merupakan pengasuh pesantren tersebut adalah ayahnya. Pasangan Syafe’i Ali dan Siti Sutihat termasuk orangtua hebat, yang bisa melahirkan kemudian mendidik anak-anaknya agar menjadi orang berkarakter kuat.

Selain Neng Dara Affiah dan mbak Nong, saudara kandung mbak Nong yang yang turut dikenal lebih luas adalah Ace Hasan Syadzilly. Ace adalah politikus Partai Golkar. Selain itu, Agus Khotibul Umam sekarang melanjutkan perjuangan Syafe’i Ali sebagai pengasuh pesantren.

Dari keempat bersaudara, Agus terbilang paling kurang populer. Bahkan sempat terjadi peristiwa lucu tatkala Indra Jaya Piliang, rekan mbak Nong sejak di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sempat mengeluarkan perkataan yang terkesan meremehkan Agus. Belakangan Indra menganulir perkataan tersebut setelah tahu bahwa Agus adalah adiknya mbak Nong.

“Alhamdulillah selama sekolah dia terus-terusan dapat rangking,” tutur Syafe’i Ali mengenai prestasti mbak Nong di sekolah. Cerita tersebut disampaikan oleh Luthfi Effendi, Dwi Budiman, dan Abdul Hadi, tiga pewarta dari majalah Suara Hidayatullah.

Melalui artikel Dulu Tertutup, Sekarang Melepas Jilbab yang diterbitkan pada 4 Mei 2009, Suara Hidayatullah menuliskan profil mbak Nong sebagai ‘koki dapur’ Jaringan Islam Liberal (JIL) sembari meminta tanggapan dari Syafe’i Ali, ayahnya, terkait putrinya ini (Effendi, dkk., 2009).

“Yang penting bagi saya, Nong menjadi anak yang shalih, bisa membawa diri.” tutur Syafe’i Ali mengenai keterlibatan putrinya dengan JIL, “Tapi bagi saya nggak jadi masalah sepanjang dia bener. Paling juga ada perbedaan di dalam masalah-masalah syariah, itu lumrah,” lanjutnya (Effendi, dkk., 2009).

Di lingkungan JIL sendiri, mbak Nong memiliki peran penting. “Kalau tak ada saya, ya tidak ada JIL. Ulil itu hanya bagian luarnya saja. Di dalam JIL, bukan sombong ya, saya yang mengatur semuanya,” aku mbak Nong (Effendi, dkk., 2009).

Walau keberadaannya penting, dirinya merasa tidak menarik untuk diekpos. “Saya tidak suka diekspos. Saya ini tak menarik. Biasa-biasa saja,” tukasnya saat ditemui oleh pewarta di kantor Freedom Institute di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (Effendi, dkk., 2009).

Mbak Nong adalah salah satu pendiri JIL, bersama dengan Ulil Abshar-Abdalla dan Luthfi Assyaukanie. Ketika bercerita pada saya mengenai peran ketiganya terhadap JIL, mbak Nong menyebut dirinya sebagai pemain lapangan. “Kalau mas Ulil itu lebih fokus di gagasan, mas Lutfi di media, aku yang di lapangan,” kisahnya.

Wajar kalau kemudian dirinya tampak lebih banyak beraksi di lapangan daripada berada dalam kesendirian guna menghasilkan catatan. Alhasil, jumlah karya tulis mbak Nong pun tidak sebanyak milik Ulil dan Lutfi. Mbak Nong juga bukanlah Indra, yang kalau tidak menulis, merasa tidak lengkap menjadi manusia, hingga menjadikannya sebagai kegiatan harian (Piliang, 2008).

Mbak Nong bukannya tanpa alasan lebih memilih bermain di lapangan. Menurutnya, perjuangan mewujudkan lingkungan yang harmonis tak cukup kalau disampaikan secara tertulis. Memang menyampaikan secara tertulis itu perlu, tetapi kudu diimbangi dengan aksi konkret yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara langsung.

Peran di lapangan membuat mbak Nong mendapat kesempatan, antara lain mendapat kesempatan menghadiri ‘Global Youth Exchange’ (GYE) 2003, program tahunan yang diadakan Kementerian Luar Negeri Jepang, pada Januari 2003. Pada waktu itu, topik yang dibahas ialah Asia-ASEAN and International Community, sejalan dengan Tahun Kerja Sama Jepang-ASEAN yang dicanangkan oleh Jepang untuk tahun 2003 (Mahmada, 2003).

Dalam diskusi antara 35 peserta dari 26 negara selama dua pekan, mbak Nong memilih kelompok yang membahas wacana keamanan dengan tema spesifiknya tentang terorisme. Buat mbak Nong, perlu dipisahkan secara tegas antara terorisme dan Islam, bahkan kudu diperjelas cakupan dan batasan antara radikal, fundamentalis, dan militan, yang merupakan lahan persemaian bibit terorisme (Mahmada, 2003).

Cara mbak Nong memandang terorisme sebagai sebuah masalah dapat dilihat melalui catatan refleksi yang dilakukan terhadap Invasi Irak oleh Amerika Serikat mulai 20 Maret sampai 1 Mei 2003. “After the experience of the previous twenty, this century should be devoted to perfecting the humanity of all people; it should bring us greater consciousness that we are all bound together in one great humanity; and it should demonstrate the logic of cooperation, not confrontation, between the inhabitants of our earth.” tutur mbak Nong dalam Moderate Indonesian Muslim Rejection of the US Attack on Iraq (Mahmada, 2004).

Melalui artikel yang diterbitkan melalui Kyoto Review of Southeast Asia pada Maret 2004, dapat dilihat betapa mbak Nong ingin agar lingkungan dapat berlangsung harmonis. Seperti itulah mbak Nong, harapan dan perbuatannya.

Mbak Nong senantiasa berusaha untuk dapat berbuat mewujudkan lingkungan yang harmonis. Lingkungan yang memandang manusia dari sisi martabatnya sebagai orang, bukan manfaatnya sebagai barang. Lingkungan yang juga turut menjalin persaudaraan dengan alam.

Walau perbuatannya layak diapresiasi, mbak Nong tak ingin terus dipuji. “Karena anak saya perempuan, dan bukan ingin berlagak heroik,” ucap mbak Nong, “Gimana nih masa depan anak dan cucuku yang perempuan,” lanjutnya. Ucapan tersebut disampaikan oleh N Jacques Umam & Ezra Sihite, dua pewarta dari Koran Jakarta (Umam dan Sihite, 2009).

Melalui artikel Demi Masa Depan Anak yang diterbitkan pada 12 April 2009, Koran Jakarta bukan sekadar menuliskan ucapan mbak Nong dalam menguraikan alasan kekeuh memprotes UU Anti-Pornografi dan Pornoaksi, juga perda yang mengatur soal perempuan. Lebih lanjut, edisi 303 itu juga mengulas mbak Nong Darol Mahmada sebagai perempuan seutuhnya.


Versi lengkap artikel ini dapat dilihat di blog pribadi Alobatnic [lihat]


References

Cerita yang disampaikan oleh Nong Darol Mahmada secara pribadi dalam beberapa kesempatan.

— Bibliography

Effendi, Lutfi, dkk. (2009). Dulu Tertutup, Sekarang Melepas Jilbab. Suara Hidayatullah, 4 Mei. [luring: arsip]

Mahmada, Nong Darol. (2001). Membangun Fikih yang Pro-Perempuan. Majalah TEMPO, 30 Juli. [luring: arsip]

Mahmada, Nong Darol. (2003). Menjawab Terorisme dengan Islam Warna-Warni. IslamLib, 9 Februari. [daring: lihat]

Mahmada, Nong Darol. (2004). Moderate Indonesian Muslim Rejection of the US Attack on Iraq. Kyoto Review of Southeast Asia, Issue 5 (March 2004). [daring: lihat]

Mulia, Siti Musdah. (2005). Muslimah Reformis: Perempuan Pembaru Keagamaan. Mizan. [luring]

Piliang, Indra Jaya. (2008). Menulis. Catatan Harian, 8 Juni. [luring: arsip]

Setiawan, Adib Rifqi. (2017a). Mbak Nong. Kirana Azalea, 23 Maret. [daring: lihat]

Setiawan, Adib Rifqi. (2017b). Guru yang Menyapih. Kirana Azalea, 30 Maret. [daring: lihat]

Umam, N Jacques dan Sihite, Ezra. (2009). Demi Masa Depan Anak. Koran Jakarta, 12 April. [luring: arsip]

Umar, Nasaruddin. (1998). Perspektif Jender dalam Islam. Jurnal Paramadina, 1(1). [daring: lihat]