1 minggu lalu · 151 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 73874_16179.jpg
Ilustrasi: Omah Aksoro

Tong Kosong Nyaring Bunyinya

Peribahasa “tong kosong nyaring bunyinya” ternyata memang benar dan telah terbukti secara ilmiah. Para peneliti telah membuktikannya lewat studi baru yang dipublikasikan dalam The Journal of Positive Psychology. 

Dalam psikologi, dikenal konsep kerendahan hati intelektual yang artinya adalah kemampuan seseorang orang menerima kekurangan intelektualnya secara terbuka dan tenang. Sebaliknya, orang yang tidak bisa menerima hal tersebut dan meyakini bahwa dirinya selalu benar disebut kelewat percaya diri secara intelektual (intellectual overconfidence).

Tim peneliti yang dipimpin oleh psikolog Elizabeth J Krumrei-Mancuso dari Pepperdine University menulis dalam makalah, penelitian menunjukkan bahwa mereka yang percaya bahwa pengetahuan mereka pasti benar lebih mungkin untuk mengambil konklusi dari bukti yang ambigu. 

“Artinya, individu-individu ini biasanya membelokkan informasi untuk menyesuaikan kepercayaan epistemologis mereka, yang bisa memengaruhi interpretasi informasi dan pengumpulan pengetahuan mereka,” tulisnya.

Para peneliti ingin mengetahui korelasi dari kerendahhatian intelektual dengan kemampuan belajar. Untuk itu, mereka melaksanakan lima eksperimen terpisah yang melibatkan 1.200 partisipan. Para partisipan diberi survei berisi berbagai pertanyaan, dan diminta untuk menilai diri mereka berdasarkan skala kerendahatian intelektual yang dibuat oleh para peneliti.

Hasilnya sangat menarik. Kerendahhatian intelektual ternyata memiliki efek campuran terhadap kemampuan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan. Orang yang rendah hati secara intelektual ditemukan memiliki nilai yang lebih baik dalam tes pengetahuan umum. Namun, para peneliti tidak menemukan hubungan antara kerendahhatian intelektual dengan kemampuan kognitif seseorang.

Menurut para peneliti, hal ini menunjukkan bahwa kerendahhatian intelektual adalah kecerdasan kristal, seperti keahlian atau pengetahuan yang dipelajari, tetapi bukan kecerdasan cair, seperti kemampuan untuk memecahkan masalah. 


Diwawancarai oleh Psypost, Krumrei-Mancuso berkata bahwa kerendahhatian intelektual diasosiasikan dengan pengukuran pengetahuan umum yang lebih akurat. “Mengetahui (dan kemauan untuk mengakui) apa yang tidak Anda tahu adalah langkah pertama untuk mencari pengetahuan baru,” ujarnya seperti dilansir dari Sciencealert.

Dalam konteks komunikasi, risiko berbicara berlebihan sangatlah besar, karena semua hal mudah dilakukan dengan berbicara, tapi melakukannya yang sulit. Jangan sampai tong kosong.

Jadi, pada intinya, seseorang berbicara sesuai dengan isinya, sesuai dengan kapasitasnya. Segala sesuatu yang dilakukan dengan porsinya akan mendapatkan hasil yang jauh lebih baik dibanding melebih-lebihkan.

Jangan terlalu banyak bicara padahal kenyataannya belum ada apa-apa. Inilah yang terkadang menjadi salah satu hal yang menurunkan nilai seseorang. Orang-orang akan melihat apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda bicarakan. Jika hanya bermodalkan pembicaraan saja, tidak akan merubah apa pun. 

Mungkin akan ada orang yang percaya, tapi tidak semuanya dan tidak akan bertahan lama. Pembicaraan sebesar apa pun tidak akan bisa sedikit mengubah dunia, tetapi tindakan sekecil apa pun akan terjadi perubahan.

Banyak bicara tidak selamanya baik. Bagaikan tong kosong nyaring bunyinya, orang yang belum bisa berbuat apa-apa tetapi sudah terlalu banyak bicara, ini justru akan menurunkan kepercayaan orang. 

Jika tujuan Anda adalah membuat orang percaya dengan perkataan Anda, maka berbicaralah sesuai dengan kenyataan, sesuai dengan kapasitas Anda. Dengan demikian, Anda akan terlihat lebih berkualitas.

Tong kosong nyaring bunyinya, arti pentingnya bertindak sesuai kapasitas, berbicara sesuai kenyataan. Jika Anda memang belum memahami tentang suatu hal, Anda tidak harus membicarakannya. Jangan malah sebaliknya, belum mengerti, tetapi mengaku sudah paham. 

Semua orang akan menilai pembicaraan Anda, bukan hanya dari apa yang Anda katakan, tetapi isi dari perkataan Anda. Lalu orang-orang akan menilai apakah yang Anda katakan adalah benar, apakah yang Anda katakan benar-benar akan Anda lakukan atau benar-benar terjadi.

Sayangnya, saat ini justru banyak orang yang lebih bangga menjadi tong kosong nyaring bunyinya. Pasti setiap orang pernah melakukan hal yang baik, tetapi tidak semuanya harus dibicarakan. 


Jangan sampai Anda baru melakukan sedikit hal baik, tetapi berbicara seolah Anda sudah mampu mengubah dunia. Anda perlu ingat bahwa orang-orang tidak akan mudah percaya dengan apa yang Anda katakan, tetapi orang-orang tidak perlu diyakinkan jika melihat apa yang terjadi sebenarnya.

Dalam semua perkara, seseorang yang terlalu besar berbicara justru lama kelamaan akan menurunkan dirinya sendiri. Seseorang akan mendapatkan penilaian dari apa yang dibicarakannya, seseorang akan benar-benar bernilai jika hanya berbicara sesuai kenyataan yang ada. Bahkan sekalipun sesuai kenyataan, tidak semuanya harus dibicarakan, apalagi jika mengada-ada.

Di sekitar Anda pasti ada orang yang demikian, orang yang pantas diumpamakan selayaknya tong kosong, dan tong kosong nyaring bunyinya. Menghadapi orang seperti ini, Anda hanya perlu menghargai pembicaraannya saja, tidak harus memercayainya. 

Tetapi Anda harus memahami hal lain, orang-orang tidak akan mudah percaya dengan apa yang Anda katakan. Orang-orang akan menilai apakah yang Anda katakan benar atau tidak. Di sini justru yang akan berperan penting untuk menjaga harkat dan martabat Anda dalam hidup bersosial.

Oleh sebab itu, berbicaralah sesuai isinya. Jika Anda benar-benar memahami suatu hal, Anda pasti akan menemukan cara yang lebih baik dibandingkan mengumbar pembicaraan. 

Inilah bedanya orang yang sok tahu dan orang yang benar-benar memahaminya. Orang-orang yang paham tentang suatu hal justru akan membuatnya lebih tenang, tidak banyak bicara, tetapi dia tahu harus berbuat apa. Sebaliknya, orang-orang yang sok tahu akan berbicara banyak hal dari sedikit hal yang dia tahu.

Hidup mengandalkan pembicaraan tidak akan mendapatkan hasil yang diinginkan. Justru kekuatan pembicaraan ada pada saat pembicaraan itu bisa dibuktikan, entah dalam hal apa pun. Banyak bicara itu tidak baik, karena melakukan tindakan tidak semudah berucap dengan kata-kata. Jangan sampai orang menilai Anda selayaknya tong kosong yang nyaring bunyinya.

Karena sudah seperti hukum alam, orang yang memahami banyak hal justru akan terkesan lebih diam, lebih tenang, dan lebih merendah. Tapi, sebaiknya orang pintar, paham dan ahli  harus banyak berbicara. Iya, harus! Supaya ilmunya bisa ditransformasikan kepada yang lain.

Artikel Terkait