Pernahkah kamu merasa menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya? Kemudian, tak selang berapa lama kamu menyadarinya. Atau mungkin beberapa saat berikut pasca begitu nyaring dan mengganggu sekitar, kamu ditegur oleh sahabat terdekatmu?

Beberapa hari ini saya merasa sebagai orang tersebut. Orang yang banyak omong tapi padahal ilmu, pengetahuan, bahkan pengalaman saya sepertinya masih dangkal di topik tersebut. Lalu tiba-tiba saya pun perlu mengisi tong yang kosong tersebut. Saya perlu memetik ilmu padi yang makin berisi makin merunduk.

Sikap sombong yang sepatutnya tidaklah saya miliki. Sikap menggampangkan sesuatu yang sebenarnya saya sendiri kurang mendalami apa yang saya utarakan. Terlebih, kejadian tersebut saya lakukan di sebuah forum publik yang disaksikan secara daring, bahkan ada di YouTube.

Bisa kebayangkan, betapa bodoh dan over percaya dirinya saya. Ternyata apa yang saya jawab atau sampaikan kurang tepat dan tidak pada forumnya untuk menyampaikan jawaban non teknis atau tidak ilmiah. Inilah cara Sang Pencipta menegurku yang terlalu sombong bak tong kosong nyaring bunyinya.

Jadi teringat lirik lagunya Slank, saya petik 2 baris liriknya:

Sedikit ngerti ngaku udah paham
Kerja sedikit maunya kelihatan

Kebiasaan saya yang suka tampil, acapkali menjadikan orang menaruh harapan yang tinggi. Walhasil, tatkala saya tampil over percaya diri, menggampangkan, dan memilih kata atau kalimat yang tidak tepat disampaikan, maka wajar jika orang tersebut akan kecewa berat. Itulah yang terjadi, saya mengecewakan.

Merasa sudah mengerti, mengaku sudah paham terhadap materi yang akan dibawakan. Tidak meluangkan waktu untuk sekadar bertanya lebih detail terhadap tiap poin atau item yang akan saya bawakan. Ya balik lagi ke hal yang mendasar bahwa saya sombong dan malu mengakui kalau saya kurang paham.

Sepertinya pula, saya adalah tipe orang yang tidak mau mendengarkan orang lain terlebih dahulu. Bahkan, bisa jadi saya juga termasuk orang yang anti kritik. Padahal di sisi lain, saya termasuk sosok yang suka mengkritik pendapat orang lain, baik di dalam forum diskusi maupun saat pertemuan ringan.

Saya juga kerap mengajak orang untuk mencoba memahami posisi orang lain, tetapi parahnya saya juga belum bisa melakukan hal tersebut. Saya merasa bahwa saya adalah orang yang belum dapat mengenali dengan baik diri sendiri.

Saya masih ingat awal mula menulis menjadi bagian dari melepaskan beban dan cerita perjalanan saya ke publik. Kritik demi kritik kerap saya sangkal, padahal masukan tersebut tentunya akan menjadi perbaikan bagi saya. Perlahan pun akhirnya saya menyadari bahwa kritik pedas tersebut karena saya masih kurang.

Ya...saya masih kurang memahami dengan baik sisi positif dan betapa pedulinya mereka terhadap coretan yang saya tuangkan secara sederhana.

Saat menuangkan rangkaian kata yang berlalu dalam pikiran dan kegundahan hati ini pun saya masih terus merenung, dapatkah saya menjadi lebih baik. Setidaknya tak lagi menjadi tong kosong yang nyaring bunyinya?

Upaya apa saja yang mesti saya tempuh untuk menuju perbaikan diri ini. Seberapa lamakah saya memendam rasa dan memperbaiki kebodohan ini agar tak lagi berulang dan merugikan orang terdekat. Adakah rekan-rekan pembaca yang pernah merasakan hal serupa?

Saya merasakan bahwa inilah saatnya saya melakukan introspeksi diri dan merenungkan dengan baik langkah apa saja yang dapat saya lakukan. Tentunya langkah-langkah yang menjauhkan saya dari kesombongan, percaya diri berlebihan.

Kemudian saya perlu berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mulai mengisi tong ilmu, pengetahuan, dan pengalaman terhadap topik yang akan saya ceritakan. Mengisi pandemi dengan hal yang lebih bermanfaat dan lebih baik, di antaranya dengan membaca dan keberanian menerima masukan.

Di detik ini pun, saya masih meragu apakah cara yang saya lakukan dengan menuliskan koreksi terhadap diri dalam bentuk tulisan adalah cara tepat? Sebagian dari diri ini merasa bahwa menulis adalah bagian dari pengobatan atas tingkah saya yang bak tong kosong nyaring bunyinya.

Apakah dengan menuliskannya dan meletakannya pada Topik Filsafat akan menjadi hal yang diterima dan menarik untuk dibaca?

Tidak ada yang pasti sampai kita benar-benar mencobanya. Setidaknya yang saya tuliskan ini bukanlah tulisan yang menjelekkan orang lain. Ini kisah yang saya alami.

Seorang kawan pernah bercerita bahwa dia kerap kali kesusahan menemukan sahabat yang mampu mendengarkan ceritanya dengan baik. Bahkan, kerap kali dia memilih untuk sekadar menikmati me time dengan melakukan perjalanan tak kenal arah dan berhenti menikmati segelas es teh manis.

Kawan saya lainnya menyampaikan pula bahwa salah satu cara dia melakukan introspeksi adalah pasca beribadah. Dia menyempatkan dirinya dalam posisi sujud dan merenungi tiap jengkal hari yang dilaluinya.

Kita sebagai sosok manusia yang dibekali cipta, rasa, dan karsa serta sadar akan keberadaan Sang Maha Pencipta tentunya menjadikan kita memiliki berbagai pilihan untuk ditempuh dengan baik sebagai cara menjadi tong yang tak lagi kosong. Menjadi tong yang tak sekadar nyaring, tapi menjadi tong yang nyaman.

Nyaman untuk dipukul dan disatukan iramanya dengan berbagai suara alat musik atau perkakas lainnya. Semoga kita semua dapat menjadi sebaik-baiknya manusia yang bermanfaat bagi orang lain, termasuk segera melakukan perbaikan diri agar tak berlama-lama menjadi tong kosong nyaring bunyinya.

Filsafat kehidupan yang kita jalani pastinya berbeda-beda dan terbentuk dari apa yang kita yakini dan lingkungan sekitar kita, termasuk referensi kehidupan kita. Satu hal yang sepertinya kita sepakati bahwa tong kosong jika dipukul acapkali nyaring bunyinya dan itulah yang cukup mengganggu kita.

Saatnya mengisi tong dengan bekal yang cukup agar kita tak lagi lantang bicara tanpa isi di dalamnya. Inilah renunganku yang mengalami fase menjadi tong kosong yang kenyaringan suaranye menyakiti orang terdekat. Semoga tak berulang dan menjadi momen perbaikan untuk diri.

Terima Kasih sudah membaca dan menjadi penikmat celoteh ala fulan.