2 tahun lalu · 462 view · 3 min baca menit baca · Agama foto_cover.jpg
Sumber: www.cisdem.com

Tolong Jangan Gembok Pintu Masjid, Pak!

Di pertengahan tahun 2016 lalu, sebuah pekerjaan membawa langkah kaki ini ke suatu kota kecil dipinggiran Purwakarta bernama Plered. Beragam aktifitasnya membuat saya harus berkeliling kota tersebut selama tiga hari, dan mendapatkan kesimpulan bahwa Plered memiliki masyarakat yang sangat islami, setidaknya, itu terlihat dari pandangan mata selama disana.

Betapa tidak? Seperti saat beberapa menit menjelang adzan sholat Jum’at, nyaris seluruh toko tutup. Seketika aktifitas terhenti. Tampaknya, seluruh orang tengah bersiap-siap untuk menjalani ritus mingguan tersebut, dan jujur saja, di kota saya tinggal, Bandung, suasana serupa tidak akan di dapati saat Jum’atan—meskipun jalanan akan sepi,beragam aktifitas semisal perdagangan masih bisa di temui.

Waktu telah menunjukan pukul delapan malam. Selepas Isya, waktu yang mepet mengharuskan saya menyelesaikan setumpuk pekerjaan dengan segera. Masjid besar di jantung kota Plered menjadi pilihan sebagai tempat untuk merampungkan tugas tersebut. Suasana yang bersih, tenang, dan damai, memang ampuh untuk membantu otak berkonsentrasi. Tapi kenyamanan itu tidak berlangsung lama... 

Saat jam telah tiba di tengah malam dan kondisi sudah sepi sepenuhnya, saya bertanya pada seorang bapak-bapak yang tampaknya pengurus masjid tersebut. Ketika itu, dia tampak tergesa-gesa.

“Pak, masjid ini buka dua puluh empat jam, kan?” Tanya saya.

“Engga, dek, ini juga mau dikunci,” ucapnya sembari melangkah keluar.

Ah, dasar nasib sial, tadinya, pertanyaan barusan hanya basa-basi untuk membuka obrolan karena saya menyangka pasti Plered yang islami akan menyediakan masjid dua puluh empat jam untuk warganya beribadah, berdiskusi, atau bahkan beristirahat bagi para musafir, dan membiarkan pekerja seperti saya menyelesaikan tugasnya disana.

Apa boleh buat, keputusannya sudah bulat. Dengan langkah gontai, saya melangkah kewarung sate maranggi didepan masjid itu, dan menghabiskan satu porsi sate dengan sangat cepat karena lapar, atau mungkin juga karena kecewa.

Itu menjadi salah satu kegusaran saya hari ini. Kenapa masjid harus di gembok? Apa yang salah dengan begadang menghabiskan hari di rumah Allah tersebut? Masalah serupa tidak terjadi di Plered saja, Masjid Raya Unpad Jatinangor, misalnya, yang posisinya berada di dalam komplek institusi pendidikan, juga demikian adanya.

“Mesjid Raya Unpad Jatinangor juga dikunci kalo tengah malem, heran,” ucap seorang rekan bernama Diva, seorang aktivis dari organisasi baru bernama Relawan Pembersih Mesjid yang tumbuh kembang di universitas tersebut. Sungguh, menerapkan jam malam pada masjid menjadikannya seperti sedang darurat militer saja.

Para pengunci pintu itu mestinya paham, bahwa malam hari memiliki keistimewaannya tersendiri. Dari hadist riwayat Tirmidzi dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berkata; “Saat yang paling dekat bagi Allah dengan hamba-Nya adalah pada penghujung akhir malam. Maka, jika engkau bisa menjadi orang yang berdzikir mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah.” Bagaimana masjid bisa memfasilitasi hal tersebut bila pintu akan dikunci rapat-rapat pada malam hari?

Belum lagi para reformis atau revolusioner pengemban ide new world order nan cemerlang yang gemar sekali berdiskusi hingga pagi buta. Harusnya mereka bisa menggelar rapat aksi lapangan disana bila masjid memfasilitasi mereka dengan membuka pintu selama dua puluh empat jam. Harus kita pahami, mereka sangat dibutuhkan untuk setidaknya menurunkan harga cabai hari ini yang sudah mencapai delapan puluh puluh ribu per kilo, karena sambel adalah denyut nadi rakyat.

Perlu diketahui, ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, beliau membangun Masjid Quba yang sederhana dengan berlantaikan tanah, dan dinding serta atapnya terbuat dari pelepah kurma. Meski begitu, masjid tersebut memainkan peranan multi guna sehingga berpengaruh secara signifikan dalam keberhasilan pembinaan umat, sehingga kota tempat beliau membangun masjid sederhana itu benar-benar menjadi Madinah, yang arti harfiahnya adalah ‘tempat peradaban’, karena dari tempat tersebut telah lahir benih peradaban baru umat manusia.

Beliau memfungsikan mesjidnya tidak hanya untuk ibadah mahdah saja, melainkan menjadikannya pusat kegiatan umat dengan pintu yang selalu terbuka sepanjang hari.

Faktor keamanan mungkin menjadi pertimbangan pengurus masjid yang memilih menggembok daun pintunya. Memang itu perlu disesali, kita pastinya sudah tidak asing dengan berita kehilangan di masjid, mulai dari sandal, hingga isi celengan infaq. Tapi, tolong lah! Jangan merasa mapan dengan kondisi seperti itu! Apa kehilangan hal-hal bersifat material tersebut lebih tinggi urgensinya dibandingkan kehilangan nyawa? Ya, nyawa dari masjid itu sendiri, yaitu dzikir dari para pendamba surgaNya yang harusnya bergulir tanpa henti.

Artikel Terkait