Konsultan
2 tahun lalu · 2010 view · 6 min baca · Politik trump_ahok.jpg
Kiri: Donald Trump (Getty Images), Kanan: Ahok (Republika)

Tolong Jangan Bandingkan Donald Trump dengan Ahok!

Banyak orang Indonesia yang salah menilai mengenai kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam pilpres Amerika Serikat. Ada yang mengira Trump adalah korban media bias yang menguntungkan Hillary Clinton (justru sebaliknya—false equivalence from the media normalized Trump, and demonized Hillary). Ada juga yang mengira Trump memenangkan suara mayoritas dan menggambarkan keinginan warga Amerika—TIDAK!

Presiden AS tidak dipilih oleh mayoritas popular votes (seperti di Indonesia), tetapi oleh Electoral Votes (EV) atau Electoral College dari setiap negara bagian (plus Washington, D.C.) pada 19 Desember nanti. Proporsi EV tergantung jumlah populasi masing-masing negara bagian (total EV 538, minimal 270 untuk terpilih).

Pemilu 8 November kemarin pada dasarnya adalah pemilihan jumlah EV yang akan dialokasikan kepada masing-masing kandidat. Itu pun masih sebatas prediksi, sebab perhitungan suara belum selesai, dan di beberapa negara bagian EV boleh tidak memilih kandidat yang dialokasikan kepadanya.

So, kemenangan Trump adalah representasi keinginan mayoritas warga AS—adalah sebuah narasi yang sangat misleading. Sebab, justru sebaliknya, by popular votes, Hillary Clinton-lah yang menang (ini kali keempat seorang kandidat menang popular votes tapi kalah EV).

Dan mayoritas warga AS memang masih “WARAS” karena tidak ingin direpresentasikan oleh seorang racist, bigot, demagogue, misogynist, homophobic, xenophobic, dan sexual abuser seperti Trump (and by the way, banyak juga orang Indonesia yang mengira semua itu hanyalah label—NO. Itu semua adalah kenyataan objektif yang bisa kalian FACT-CHECK sendiri—right now if you want to!)

Lima paragraf itu adalah sentimen yang harus saya tegaskan dalam memulai tulisan ini, sebab ternyata ada banyak orang Indonesia yang saya sebut sebagai blank readers—hobinya hanya bisa mengikuti arus pemberitaan, tetapi tidak mengetahui substansi apa-apa dari berita itu.

Semua orang SHOCK dengan kemenangan Trump, namun para blank readers seolah lebih tertarik dengan euforia “puitis” yang keliru, bahwa Trump bisa mengalahkan ekspektasi populer—dan katanya itu mengagumkan. Saya mengerti sense yang mereka maksud—but NO, kemenangan Trump justru adalah tragedi yang memalukan Amerika!

See, kalau komedian Ellen DeGeneres, yang sama halnya seperti Trump—tidak punya background politik apa-apa—memenangkan pemilu melawan politisi seperti Ted Cruz, Jeb Bush, atau Marco Rubio, mungkin SHOCK WAVE yang akan muncul di semua halaman depan media masa dunia tidak akan seperti dalam kasus Trump. Sebab seperti yang sudah saya bilang dalam tulisan saya sebelumnya, Trump is not a “normal” candidate—in a BAD way.

Dan yang membuat saya lebih miris—yang merupakan alasan utama saya menulis ini—adalah mulai bermunculan para blank readers yang justru ingin membandingkan sosok Donald Trump dengan—saya bahkan tidak percaya akan hal ini—AHOK. (Oh my lord. Are you freaking kidding me? How did you even end up there? Come on, man!)

Seriously, saya luar biasa terkejut—in a horror way—ketika salah seorang rekan saya di Jakarta memberikan tip (dan saya punya bukti konkretnya), bahwa ada beberapa pihak di dunia maya, yang sudah mulai membangun semacam narasi mengenai kesuksesan Donald Trump dan Ahok, baik dalam konteks mereka sebagai individu, maupun sebagai pemimpin. Rekan saya belum bisa mengkonfirmasi apakah bentuk strategi media building itu berasal dari Tim Ahok sendiri (which is BEYOND CRAZY), atau justru dari lawan Ahok.

Awalnya hal itu menyadarkan saya bahwa political operatives juga hanyalah manusia yang bisa latah. Ketika Obama membuat sejarah sebagai Presiden Kulit Hitam AS pertama pada tahun 2008, tim kampanye SBY-Boediono pun mencoba membangun narasi kesuksesan yang sama antara Obama dan SBY. But Trump—OH MY GOODNESS—is the EXACT opposite of Obama: white majority, rich, narcissistic, anti-immigrant, a bully, and a fearmonger!

So, yang kemudian terpikirkan oleh saya adalah, “Do those people even ACTUALLY know who Donald Trump is, and who Ahok is? Heck, do they even know WHAT THEY’RE THINKING?” 

Inilah yang saya maksud sebagai bentuk “efuoria puitis” yang keliru. Ya, memang mengagumkan Trump bisa menang, but in the sense that literally almost nobody else (including his own pollsters team) thought he would win, BUKAN karena sosoknya mengagumkan. Sebab jika melihat siapa Donald Trump, maka IRONIS—adalah kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kemenangannya itu.

I mean, saya bahkan bisa me-listing lebih dari seratus hal-hal publik mengerikan yang dilakukan Trump, serta berbagai laporan investigasi media (liberal, konservatif, maupun independen) yang muncul selama hampir 18 BULAN LEBIH musim pemilu AS ini (tidak seperti blank readers, 11 BULAN di antaranya saya ikuti secara langsung)—yang akan membuat setiap orang “WARAS” tidak akan mau menyandingkan kandidat yang mereka dukung dengan sosok kontroversial seperti Donald J. Trump. And yes, baik dalam konteks individual mereka maupun dalam hal leadership.

Mulai dari Trump yang membuka kampanyenya dengan mengkriminalisasi imigran hispanic. Trump yang menghina Megyn Kelly (news anchor FOX NEWS) dengan sindiran sexist dan misogynistic dalam debat pertama kandidat Partai Republik.

Trump yang menghina wajah kandidat perempuan Partai Republik, Carly Fiorina, di hadapan jutaan penonton debat nasional, tetapi tidak mampu menjabarkan apa-apa tentang visi-misinya. Trump yang sesumbar mengenai ukuran alat kelaminnya di atas panggung debat yang sama. Trump yang melarang muslim masuk ke Amerika.

Trump yang menghina wajah Hillary Clinton dan menuduh justru dia yang selingkuh dari Bill Clinton (yes, you read that right)—padahal Trump sendiri adalah tukang selingkuh dengan tiga istri.

Trump yang membenci illegal immigrants padahal Associated Press melaporkan bahwa istrinya, Melania Trump, masuk ke AS dan bekerja sebagai model dengan dokumen ilegal.

Trump yang mengaku “cerdas” karena melakukan “manipulasi pajak” selama hampir 20 tahun. Dan tentu saja Trump yang sesumbar melakukan pelecehan seksual kepada perempuan dan bisa aman melakukannya hanya karena ia seorang publik figur.

I can go on with the list, namun saya yakin kalian bisa “melacaknya” sendiri di internet. So, apakah Anda benar-benar mau mengasosiasikan Ahok dengan sosok seperti itu?

Sure, Trump adalah businessman yang sukses. Tapi tahukah Anda bahwa akuntan Trump sendiri mengakui bahwa Trump hanya tahu sebatas “soal tanda tangan” dan bukan soal strategi bisnisnya? Tahukah Anda bagaimana skema penipuan bisnis dari Trump University?

Tahukah Anda bagaimana Trump membangun bisnisnya dari pinjaman “kecil” US$1 JUTA yang diberikan oleh ayahnya yang juga adalah seorang racist?

Atau mengenai para imigran ilegal asal Polandia yang Trump pekerjakan tanpa bayaran? Para kontraktor bangunan dan pebisnis kecil yang tidak dibayar oleh Trump? Atau tentang yayasannya yang sudah dinyatakan ilegal oleh Kejaksaan Tinggi New York?

Wajar memang jika Anda ingin mengasosiasikan kesuksesan kandidat yang Anda dukung dengan seseorang yang baru saja memenangkan pertarungan dari panggung politik terbesar di dunia. Sah dan normal-normal saja jika Anda ingin membuat kandidat Anda terlihat inspiratif dengan menyandingkannya dengan pemenang pemilu dari negara adidaya yang merupakan kiblat peradaban dan demokrasi dunia.

Namun tidak normal jika sosok yang diasosiasikan itu adalah Donald Trump, karena Trump sendiri bukanlah sosok yang “normal”. Any SANE person that you know waking up at 3 A.M. ONLY TO DO A TWEET-WAR—asking people to check out a former Miss Universe’s sex tapes that don’t even exist? Trump DID. The U.S. President-elect DID—when he was still campaigning!

Seriously, folks, saya pernah menuliskan bahwa, demokrasi hanya akan berhasil, jika—DAN HANYA JIKA—para pemilih mendapatkan informasi yang benar. Kemenangan Trump adalah karena dukungan pemilih yang tidak well-informed. Lebih dari 2/3 pendukung Trump (untuk fact-check silahkan google semua exit polls pemilu AS kemarin) adalah warga dengan tingkat pendidikan rendah, yang juga secara rasial dan kultural, anti-imigran.

Kemenangan Trump adalah kemenangan kaum white supremacy, kemenangan para fascists, xenophobes, dan isolationists. Kemenangan Trump adalah kemenangan para Climate Deniers yang percaya Climate Change itu adalah hoax yang ditemukan oleh Cina. Trump menang bukan karena dia inspiratif—in the normal genuine way—seperti Obama, tetapi karena dia adalah seorang con artist yang memang ahli dalam menjual kebohongan.

Dan saya yakin, Ahok, pemimpin yang selama ini telah membenahi Jakarta arguably dengan cukup baik, tidak perlu disandingkan dengan orang yang berpengetahuan rendah seperti Donald Trump (he thought Belgium was a CITY!)—hanya untuk membangun image inspiratif baginya. So, siapa pun itu di luar sana yang sedang membangun Trump-Ahok-Equal narrative—you might wanna THINK AGAIN!

Lastly, di saat 400 ilmuan dan 370 ekonom top dunia (termasuk 8 pemenang Nobel), lalu orang-orang cerdas seperti Stephen King, Stephen Hawking, bahkan The Pope—semuanya tidak “merayakan” Kemenangan Trump—biarkanlah orang-orang “norak” seperti Fadli Zon atau Setya Novanto yang mengaku bangga bisa diasosiasikan dengan seseorang seperti Donald Trump. Ahok masih WARAS—he’s WAY much better than that!

Artikel Terkait