Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar Gay dan Lesbian? Jijik? Geli? Atau bahkan benci? Ya, itu adalah pemikiran pertama yang biasa akan terbesit di pikiran kita. Apalagi kita tinggal di Indonesia, dimana hubungan sesama jenis merupakan hal yang sangat tabu dan bisa dikatakan dilarang di negeri kita ini. Mata kita sudah biasa memandang pasangan yang kita katakan ‘normal’ alias pasangan antara pria dan wanita sehingga ketika kita melihat pasangan antara sesama wanita dan sesama pria kita langsung menganggapnya pasangan ‘abnormal’.

Ketika kita melihat pasangan sesama jenis, banyak dari kita yang takut dan buru-buru beringsut mundur dan menjauh seolah-olah mereka bisa menular. Tak sedikit yang langsung mencemooh atau mengejek pasangan ini di depan mata mereka. Cacian dan ejekan kasar seolah-olah pantas dilontarkan kepada seseorang jika dia adalah gay atau lesbian.

Sebenarnya apa sih arti sebuah pasangan itu sendiri? Apakah sebutan pasangan hanya dibatasi untuk orang yang memiliki jenis kelamin berbeda? Bukankah cinta merupakan sumber dari rasa ketertarikan dan terbentuknya sebuah hubungan antara dua insan manusia sehingga mereka bisa disebut sebagai sebuah pasangan. Lucunya, kenyataan di masyarakan kita menganggap bahwa jenis kelamin yang berbeda lebih penting daripada cinta itu sendiri.

Awalnya saya juga berpikir demikian bahwa gay dan lesbian adalah hal yang menjijikkan dan patut untuk dijauhi dari kehidupan kita. Kira-kira satu tahun yang lalu, ketika saya ingin mengembangkan kemampuan public speaking saya, saya mencoba menonton talk-show yang sudah terkenal.

Saya akhirnya tertarik pada sebuah talk-show yang berjudul Ellen Show. Saya kagum kepada wanita yang menjadi pembicara dalam acara ini karena dia sangat mampu mencuri perhatian penonton dan diluar itu dia juga merupakan aktifis sosial, seorang pecinta lingkungan dan hewan bahkan merupakan seorang Vegan.  Seorang wanita yang sangat inspiratif. Hingga ketika saya menyaksikan episode-episode miliknya, saya menemukan episode dimana saya baru sadar bahwa dia menikah dengan seorang wanita!

Terkejut adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya waktu itu karena saya berpikir bagaimana wanita yang sangat luar biasa itu ternyata malahan seorang lesbian. Kecewa? Ya, saya langsung kecewa namun saya kembali pada  motif saya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa inggris saya sehingga saya tetap saja melanjutkan menonton talk-show miliknya.

Seiring berjalannya waktu, pikiran saya mulai terbuka dan saya menyadari bahwa gay dan lesbian sebenarnya tidak seburuk yang ada dalam pikiran saya selama ini. Pikiran bawah sadar saya selama ini terpengaruh oleh lingkungan sehingga saya menutup mata tentang hal-hal mengenai gay dan lesbian dan langsung saja mengecap mereka sebagai orang jahat bahkan tanpa saya mengenal mereka. Saya akhirnya mendapat beberapa poin yang mengubah pemikiran saya :

Kita semua terlahir unik dan spesial

Sejak pertama kali kita lahir dan menghirup udara di dunia ini, kita merupakan sebuah individu unik dimana tidak ada orang di dunia ini yang sama persis dengan kita. Kita memiliki fisik, suara, lingkungan, suku, agama, budaya, bahasa,  pola pikir, cara pandangan dan masih banyak hal-hal bebeda lainnya yang ada di dalam diri kita yang membuat kita unik dan special.

Hingga saat ini, kita sudah pernah belajar untuk menghargai perbedaan agama, suku, ras, bahasa, warna kulit, orang dengan keterbelakangan mental atau orang dengan keterbelakangan fisik, kali ini mari kita tingkatkan kualitas diri kita dengan menghargai orang  yang memiliki perbedaan caara pandangan mengenaik orientasi seksual mereka.

Gay dan Lesbian tidak melukai kita

Kita seringkali menghindari gay dan lesbian karena takut jika mereka melukai kita tanpa kita sadari sebenarnya kitalah yang melukai mereka. Sadarkah kita ketika kita mengejek atau menyindir gay dan lesbian, kita melukai hati mereka dan kita membuat mereka merasa bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak diinginkan. Tidak sedikit kasus bully terhadap gay dan lesbian berujung pada bunuh diri karena mereka merasa depresi dan tertekan sebab tidak adanya rasa pengakuan dalam masyarakat mengenai keberadaan mereka.

Sekarang cobalah Anda tanyakan pada diri Anda sendiri, apakah pantas Anda mengejek dan mencacimaki seseorang hanya karena perbedaan ketertarikan seksual mereka? Apakah nyawa mereka setara dengan kepuasan Anda ketika menghina mereka? Apa Anda merasa nyawa Anda lebih bernilai dan lebih tinggi daripada mereka sehingga Anda berhak mengambil nyawa mereka dengan mem-bully yang berujung mereka bunuh diri?

Cinta lebih penting daripada jenis kelamin

Sudah sering kita mendengar pasangan unik karena perbedaan fisik mereka, seperti misalnya wanita yang mau menikah dengan pria yang tidak memiliki kaki atau pria yang menikahi wanita dengan bobot super berat. Kita kagum dan bisa menerima mareka, lalu kenapa kita tidak bisa menerima gay dan lesbian? Bukankah yang membedakan mereka juga hanyalah fisik?

Ketika Anda berpikir pasangan yang sempurna dan ideal adalah pasangan yang memiliki jenis kelamin yang berbeda, sadarkah Anda betapa banyak pasangan pria-wanita yang bercerai atau bahkan membenci satu sama lain? Jika memang mereka sesempurna itu, bukankah tidak mungkin bagi mereka untuk bercerai apalagi menyakiti satu sama lain?

Bukanlah fisik yang menentukan kehidupan percintaan seseorang, tentu saja cinta itu sendiri yang menentukan kelangsungan hubungan sebuah pasangan. Mereka bisa saja memiiliki jenis kelamin yang sama, tapi bukan berarti cinta yang mereka miliki lebih lemah dari pasangan yang memiliki perbedaan jenis kelamin, bahkan bisa saja kisah percintaan mereka lebih menginspirasi.

Keberanian menjadi diri sendiri

Topeng dan kepura-puraan seringkali dipakai di diri setiap manusia zaman sekarang, takut akan penolakan dan takut disakiti adalah alasan dasar manusia bersandiwara menjadi seseorang yang bukan merupakan diri mereka. Gay dan lesbian bisa dikatakan orang-orang yang berani menjadi diri mereka sendiri meskipun mereka tahu di dunia ini masih banyak yang memandang mereka dengan sebelah mata bahkan rela menyakiti mereka.

Mereka orang-orang luar biasa yang bisa dengan tegar menghadapi semua itu asal mereka tidak mengubah jati diri mereka yang sebenarnya. Kita harusnya salut dengan mereka, bukannya merendahkan mereka.

Pada akhirnya, kita haruslah menjadi seseorang yang memiliki pikiran terbuka mengenai perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kita. Gay dan lesbian bagaimana pun juga merupakan saudara-saudari kita yang butuh pengertian, rasa diterima dalam masyarakat dan pengakuan dari kita.

Bukanlah tempat kita untuk menghakimi mereka, mereka hanyalah seseorang dengan pandangan yang berbeda dari kita. Bahkan jika kita masih sulit untuk menerima mereka setidaknya mari kita hentikan ejekan atau bully terhadap kaum gay dan lesbian.

Hentikan ejekan atau sidiran mengenai mereka karena mereka juga punya hati dan perasaan yang sama dengan kita, mereka hanya butuh dihargai. Mari kita menjadi manusia yang lebih bijaksana dan meningkatkan mutu diri kita dengan rasa tolerasi yang lebih tinggi terhadap sesama. 

#LombaEsaiKemanusiaan