Indonesia merupakan negara yang beraneka ragam budaya, ras, suku, dan agama. Yang mana kita harus bisa hidup saling berdampingan dengan banyak perbedaan. Selain itu kita juga harus mampu berjalan beriringan dari berbagai aspek perbedaan yang muncul. Karena berbeda itu bukan selalu tentang pertentangan.

Dari perbedaan itulah kita akan belajar arti kebersamaan dan kehangatan. Saling menghargai adalah kunci hidup tentram dan damai. Berbeda tak harus kita menolak, tinggal cara kita mampu menerima perbedaan itu sendiri.

Berbicara tentang perbedaan, maka pastilah tidak bisa jauh dari kata toleransi. Karena toleransi salah satu sikap yang baik untuk hidup dalam negara beraneka ragam corak. Seperti halnya hidup di negara Indonesia. Kalau tidak bisa saling toleransi satu sama lain, maka akan terjadi perpecahan dari berbagai macam sektor.

Toleransi tak selalu tentang menghargai pendapat seseorang. Selain itu toleransi juga mengajarkan sikap untuk menghargai nilai budaya seseorang. Mengingat budaya masing-masing daerah itu berbeda. Kita sering melihat perselisihan dan percekcokan negara akibat tidak bisa menerima salah satu budaya di daerah lain.

Hal itu perlu adanya edukasi yang lebih mendalam tentang nilai-nilai toleransi. Dengan begitu perselisihan akibat perbedaan akan berkurang. Walaupun tak berkurang secara drastis, setidaknya kita sudah mau berusaha dari hal kecil.

Ketika berbicara pendidikan toleransi, maka hal yang perlu dipikirkan yakni materi dan sasaran tembak. Perkembangan zaman yang semakin maju membuat metode pendidikan pun harus lebih menarik. Supaya hal itu mampu dinikmati dan tidak bersifat membosankan.

Apalagi pendidikan toleransi memang sudah sepatutnya diajarkan sejak dini. Mengapa demikian?

Karena anak kecil itu merupakan cikal bakal generasi bangsa yang mana negeri ini akan ditentukan oleh mereka. Memang wajar jika negeri maju itu tergantung dari cara mendidik generasi bangsanya. Kalau negara memperhatikan pola perkembangan generasi bangsa, sudah dipastikan negara tidak akan porak poranda. Apalagi perselisihan antar budaya, suku, dan budaya pun mampu teratasi dengan baik.

Mengingat anak kecil juga memiliki daya ingat yang kuat saat masa perkembangan. Hal itulah yang perlu diperhatikan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi. Agar mereka kelak menjadi generasi yang cinta akan perbedaan. Tak hanya di rumah saja, pendidikan di sekolah pun harus mampu mengemas materi toleransi dengan menarik.

Ingatan anak kecil itu lebih kuat dibandingkan orang dewasa. Bahkan dia mampu mengingat kejadian yang sudah terlampau lama. Dan ingatan anak itu cenderung mengingat apa yang dia lihat dan dengar. Kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu mengajarkan nilai toleransi sejak dini adalah solusi yang tepat untuk memperbaiki generasi bangsa. Selain itu menciptakan generasi yang cinta akan perbedaan dan mampu menghargai suatu perbedaan. Memperhatikan hal kecil, lalu memperbaikinya sedini mungkin. Supaya tidak terjadi hal yang sama dimasa yang akan datang.

Mulai memberikan contoh perilaku menghargai perbedaan. Mengingat anak itu belajar dari apa yang dia lihat. Karena nilai-nilai toleransi tidak hanya didapatkan dalam bangku sekolah saja. Seharusnya berawal dari orang tua pun ikut berkontribusi dalam hal ini. Dari sejak anak mulai berpikir, setidaknya orang tua mampu memberikan pendidikan toleransi dalam bentuk cerita dan pengalaman.

Kemudian, ketika mereka beranjak menginjak bangku sekolah. Maka sekolah juga bertanggungjawab akan perkembangan sikap anak. Oleh karena itu sekolah berperan lebih besar dalam mendidik karakter suatu anak. Tidak heran jika keberhasilan sekolah dapat dilihat dari sikap siswa-siswinya. Keberhasilan tak selalu tentang prestasi akademik, tapi karakteristik siswanya juga menjadi bahan pertimbangan.

Bangku sekolah merupakan tempat wahana bermain sembari belajar anak. Maka dari itu dalam setiap pengajaran harus diselingi tentang pendidikan toleransi. Supaya mereka mampu menjadi generasi yang cinta perdamaian. Karena perdamaian itu timbul dari diri kita sendiri. Jika bukan kita yang menanamkan benih-benih toleransi maka siapa lagi.

Jika kita menginginkan negara yang damai tanpa perseteruan, maka kuncinya adalah menanamkan nilai-nilai toleransi sedini mungkin. Toleransi tak memandang umur, tapi toleransi berlaku untuk siapa saja.

Tanamkan pendidikan toleransi sejak dalam lingkungan keluarga. Karena keluarga tempat pertama anak belajar akan nilai kehidupan. Ketika mereka sudah cukup umur untuk mengenyam bangku sekolah, maka anak akan belajar lebih lanjut tentang toleransi dalam bangku pendidikan. Dan tentunya dengan pembelajaran yang lebih menarik. 

Sekolah harus mampu mengemas pendidikan toleransi dalam metode pembelajaran yang menarik. Mengapa demikian? 

Karena sasaran pendidikan toleransi memang sudah sepatutnya diajarkan secara matang sejak dini. Supaya generasi bangsa paham akan nilai toleransi. Yang mana nantinya akan meneruskan bangsa ini dengan suasana yang guyup rukun. Tanpa menilai perbedaan sebagai suatu musuh. Namun dengan perbedaan itu akan mewujudkan negara yang damai, tanpa berselisih satu sama lain. 

Oleh karena itu di mana pun tempatnya kita harus mampu menyebarkan nilai-nilai toleransi. Agar pendidikan toleransi tidak musnah tergerus oleh kemajuan teknologi. Gaya boleh tinggi, tapi akhlak juga harus mampu berjalan beriringan. Mengingat etika lebih tinggi dari segalanya.