Pertemuan Jokowi-Prabowo direspons beragam oleh pendukungnya. Ada yang marah, kesal, kecewa, serta respons negatif lainnya. Ada pula yang datar menanggapi serta ada pula yang melihat fakta itu sebagai hal yang biasa saja.

Sementara pendukung Jokowi umumnya seragam merespons pertemuan itu. Mereka menyambut hangat drama politik yang telah berakhir. Mereka bahkan membela Prabowo yang diserang mantan pendukungnya.

Inilah demokrasi. Sampah dan emas halal berada di wadah yang sama. Halal berekspresi maupun menganalisis serta menyimpulkan apakah itu emas atau itu sampah. Prabowo dan Jokowi di suatu saat menjadi sampah dan di saat lainnya menjadi emas.

Bagi sebagian pendukung Prabowo, pertemuan dengan Jokowi telah menasbihkan dirinya sebagai sampah demokrasi. Prabowo dianggap berkhianat serta ribuan cacian lainnya. Prabowo adalah lawan yang dulunya kawan.

Prabowo adalah pecundang yang dulunya pahlawan; dan masih banyak lagi julukan baru yang bernada negatif untuk Prabowo. Prabowo sudah tahu respons itu akan didapatkannya, jauh sebelum pilpres berlangsung.

Lalu mengapa Prabowo kemudian mau bertemu Jokowi padahal dirinya bakal dijadikan antagonis oleh pendukungnya sendiri? Apakah Prabowo sudah mendapat tawaran atau deal politik yang menggiurkan? Atau Prabowo telah lelah berjuang menjadi oposisi?

Sebelum Anda marah-marah pada sikap Prabowo, atau sebelum Anda menuduh pendukung Prabowo yang kecewa sebagai HTI, ISIS, maupun pendukung teroris, ada baiknya berbaik sangka.

Pertama yang harus dipahami ialah politik itu dinamis. Sikap Prabowo merupakan hal yang wajar. Kalaupun Prabowo mendapat tawaran apa pun, belum tentu ia mau. Bertemu dan ucapkan selamat bukan deal politik, melainkan deal kebangsaan.

Sebelum surat Al-Kafirun turun, Muhammad mendapat tawaran kekayaan dan perempuan cantik. Sebagai imbalannya, ia harus menyembah apa yang mereka sembah. Namun deal itu ditolak dengan turunnya surat toleransi beragama yang berdimensi kenegaraan.

Begitu pula dengan Prabowo. Ia mempraktikan apa yang disebut dengan toleransi politik. Dalam klausul toleransi politik, bertemu bahkan saling peluk bukan berarti menjadi bagian dari salah satunya. Mereka tetap berpisah secara politik, namun bersatu dalam konteks negara.

Maka bersukacitalah para pendukung Prabowo yang setia padanya. Perubahan strategi 'perang' bukan berarti menyerah pada keadaan. Anda tidak mungkin selamanya membiarkan ruang kosong itu. Ia harus diisi dengan sikap dinamis. 

Saya juga melihat respons pendukung Jokowi yang agak ngawur. Kengawuran itu terlihat ketika mengeklaim pendukung Prabowo yang kecewa dengan pertemuan itu adalah kelompok HTI, ISIS, maupun ekstremisme atau Islam garis keras. 

Mengapa saya berani katakan ngawur? Karena pendukung Prabowo yang kecewa bukan hanya bergama Islam. Pendukung Prabowo yang beragama Kristen, Hindu, maupun Ateis ada yang kecewa. 

Saya kira pendukung Jokowi sebaiknya menjaga suasana kebatinan pendukung Prabowo yang belum paham soal sikap Prabowo. Ini penting dijaga karena sikap elite dan grass-root perlu diseimbangkan.

Kedua, yang harus dipahami bahwa tidak ada kejutan di dalam politik. Pendukung Prabowo harus paham itu.

Prabowo yang diundang dan bertemu Jokowi bukanlah kejutan. Itu sudah direncanakan. Bukankah salah seorang jubirnya sudah mengatakan bahwa pertemuan akan segera dilakukan?

Ketiga, sebaiknya kekecewaan dihilangkan karena kecewa tidak memperbaiki sesuatu malah sebaliknya. Tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan. Itulah nikmatnya hidup dan itulah romantisme politik. Buang sikap fanatisme yang akan selalu menjadi akar konflik dalam diri maupun masyarakat.

Demokrasi lahir salah satunya sebagai pencegah fanatisme maupun pengultusan individu. Prabowo atau Jokowi hanya eksekutor visi kita yang memilih demokrasi. Mereka 'boneka' rakyat; kapan pun kita mau, keduanya bisa digantikan dengan 'boneka' lainnya.

Rakyat bukan 'boneka' elite, namun elite yang harus menjadi 'boneka' rakyat. Pemegang kekuasaan tertinggi adalah rakyat. Anda tak perlu risau atau gusar dengan sikap Prabowo maupun Jokowi. Nasib bangsa ini bergantung kita, bukan pada mereka.

Setiap lima tahun, para eksekutor akan berganti. Namun rakyat sebagai pemegang kekuasaan tidak tergantikan. Pastikan saja keduanya tidak mengkhianati konstitusi dan rakyat.

Bila mereka melakukan deal jahat, melanggar konstitusi, maka rakyat berhak melakukan yang seharusnya dilakukan. Jangan kecewa dengan politik karena kecewa menunjukkan Anda tidak paham makna berjuang.

Kecewa apalagi marah merupakan energi negatif yang pada akhirnya akan memperbudak akal sehat. Saat akal telah sakit, maka emosi destruktif akan menguasai diri. Akibatnya, kita keluar dari zona manusia dan menjadi 'hewan' tanpa tuan.

Prabowo sudah benar bertemu Jokowi. Ia lebih memikirkan sekam dalam diri pendukungnya yang dapat membakar negeri ini. Biarlah ia menjadi lelucon, bahan amarah, atau sanksi apa pun dari pendukungnya. Baginya, itu lebih baik ketimbang para pendukungnya terus-terusan menjadi 'korban' dirinya sendiri.

Apa pun sikap Prabowo akan tetap salah di mata mereka yang selalu buruk sangka. Entah salah di mata pendukung Jokowi maupun di mata pendukungnya sendiri. Tapi bagi saya, Prabowo sudah benar. 

Beragama saja tidak baik jika hitam-putih apalagi berpolitik. Fleksibilitas merupakan ciri adaptasi yang dianugerahkan tuhan kepada manusia. Entah itu dalam urusan agama, bisnis, maupun politik. Cobalah berada dalam posisi Prabowo atau Jokowi, sudah benarkah mereka atau salah?

Cobalah seolah-olah menjadi pihak yang ikut dalam kontestasi, bukan sekadar pendukung atau partisan. Pada saat itulah baru kita sepakat bahwa Prabowo sudah benar. Jokowi dan krunya sudah lega dan nyenyak tidur.

Namun, sekali lagi yang harus disepakati, politik itu dinamis. Hari ini musuh, besok teman; dan sebaliknya.