17903_30733.jpg
Sun/Julia Malakie
Agama · 3 menit baca

Toleransi Pilih-Pilih

Dalam bersikap juga bertindak, totalitas adalah keutamaan.

Sebagai negeri yang multikultural, (bangsa) Indonesia memang harus meniscayakan adanya toleransi. Terlebih yang mendasarkan sistem politiknya pada demokrasi, maka sikap menghargai sesama, menghargai keberagaman adalah keharusan.

Ya, dealnya memang begitu. Namun sayang, tak banyak orang yang mau menerima apalagi mengakui konsep penghargaan atas perbedaan ini. Jika bukan seringnya adalah penyangkalan, atau mendiskriminasi mereka yang sekadar bersikap ingin menerima keberagaman saja, maka yang ada adalah pengakuan pandang bulu: toleransi pilih-pilih. Itu sering jadi fakta tak terbantahkan.

Menurut Luthfi Assyaukanie, sikap menghargai keberagaman atau toleransi ini adalah konsep terpenting dalam demokrasi. Ia jelaskan itu dalam satu sesi mata kuliah Qureta bertajuk Batas Toleransi. Bisa dikatakan, tidak ada demokrasi tanpa pengakuan atas perbedaan; tidak ada demokrasi tanpa, setidaknya, menghargai keniscayaan.

“Toleransi biasanya didefinisikan sebagai kemampuan atau kemauan untuk menerima sesuatu yang berbeda. Sesuatu itu bisa berbentuk pendapat, pikiran, atau perilaku.”

Bagi pendiri Qureta yang juga merupakan dosen di Universitas Paramadina ini, toleransi mesti diseru sebagai konsekuensi logis dari kehidupan manusia. Terlebih dalam konteks masyarakat Indonesia yang berbineka, sikap toleran tak bisa orang absenkan.

“Pada level terkecil, toleransi dipraktikkan dalam keluarga. Ia biasa diterapkan oleh seorang ayah yang mau menerima selera musik anaknya yang berbeda atau ibu yang mampu menolerir mode pakaian anaknya yang sebetulnya tidak disukainya; atau seorang kakak yang rela menolerir perilaku adiknya yang dianggapnya aneh.”

Di level yang lebih besar, toleransi juga dipraktikkan di tengah masyarakat. Entah itu di unit desa, kelurahan, kota, maupun negara, sekali lagi, toleransi menjadi dasar berpijak yang diharuskan. Sebab, tegas Luthfi, orang yang tidak bisa bersikap toleran akan menjadi masalah dalam suatu masyarakat majemuk.

Pertanyaannya, apakah Islam juga merupakan agama yang toleran? Bisakah sistem kepercayaan ini mengakui, atau setidaknya, menghargai adanya fakta perbedaan?

Sebagaimana pertanyaan yang juga diajukan atas nilai-nilai demokrasi, seperti kebebasan dan kesetaraan, jawabannya pun tergantung kepada Islam mana yang orang maksudkan dalam pertanyaan itu.

“Jika yang kita maksudkan adalah Islam liberal, yang percaya pada kebaikan manusia, pada kebaikan demokrasi, maka toleransi adalah keharusan. Tapi, jika yang dimaksud adalah Islam yang sempit, Islam yang tertutup, maka toleransi adalah konsep yang sulit diterima.”

Nyaris tak tersangkal, kaum radikal atau kelompok ekstrem memang tidak bisa menolerir adanya perbedaan. Secara umum begitu. Sebab, bagi mereka yang radikal-ekstrem ini, perbedaan bukanlah rahmat sebagaimana lumrah orang maknai, melainkan justru adalah kutukan yang harus mereka lawan. Apa dan bagaimana pun caranya, perbedaan tak diperkenankan jadi realitas hidup.

Di kalangan kaum muslim sendiri, yang tampak pada umumnya juga adalah perbedaan pandangan dalam menyikapi isu toleransi ini. Dalam hal menghormati dan menerima eksistensi agama lain, misalnya, mereka bisa saja tampil toleran dan mau mengakui hak-hak non-muslim.

Tapi, pada isu-isu tertentu, mereka justru bisa menjadi sangat intoleran atau tidak toleran. Misalnya, terhadap isu mengenai homo seksualitas atau LGBT.

“Tidak banyak kaum muslim yang mau menolerir keberadaan kelompok ini. Sebagian besar kaum muslim tidak bisa menerima keberadaan LGBT.”

Sementara, di wilayah perbedaan keyakinan, sejumlah kelompok radikal-ekstrem pun masih menjadikan itu sebagai isu utama. Sebut saja Front Pembela Islam (FPI), hampir melulu yang bisa kita saksikan darinya adalah penolakan atas keberadaan kelompok Ahmadiyah atau Syiah.

“Mereka secara terbuka memilih sikap intoleran terhadap dua mazhab Islam ini.”

Dengan demikian, bisalah kita katakan bahwa memang ada kemenduaan masyarakat Indonesia dalam bertoleransi, utamanya kelompok radikal-ekstrem yang disebut di atas. Hal ini pun ditunjukkan secara apik oleh studi Jeremy Menchik tentang perilaku politik kaum muslim Indonesia sendiri, Islam and Democracy in Indonesia: Tolerance without Liberalism.

“Jeremy Menchik mengungkapkan kesimpulan yang menarik. Orang-orang Indonesia umumnya bersikap toleran, tetapi terbatas pada hal tertentu saja. Pada isu-isu yang mereka anggap kontroversial, seperti LGBT, ateisme, dan Ahmadiyah, mereka mengambil sikap intoleran.”

Maka tak salah jika kita harus katakan bahwa toleransi pilih-pilih benar-benar dipraktikkan secara nyata. Dan ini tentu ironis mengingat sikap juga tindakan harus total, dalam arti, tak boleh pilih-pilih.

Kuliah Qureta oleh Luthfi Assyaukanie, Batas Toleransi