Intoleransi bukanlah perkara yang dapat dianggap keremehan semata. Intoleransi dapat dengan mudah menimbulkan perpecahan yang mengarah kepada peperangan. Bukankah perdamaian berawal dari kehidupan yang penuh dengan manusia-manusia yang bersikap toleran?

Manusia-manusia yang toleran, dengan sendirinya akan membuat sistem yang ramah terhadap perbedaan. Dengan pola pikir dan kebudayaan yang mulai maju, Indonesia telah berusaha untuk menjadi rumah yang ramah bagi segala perbedaan yang ada.

Mari kita melihat ke belakang, maksud saya ialah sejarah lahirnya Indonesia. Penjajahan yang dilakukan oleh Belanda, ialah dengan strategi adu domba. Segala perbedaan yang menghinggapi Indonesia waktu itu, dijadikan suatu akar permasalahan oleh Belanda agar masyarakat tidak dapat bersatu untuk melawan Belanda.

Namun ketika Indonesia menemukan sebuah arti persatuan dalam tubuhnya, Belanda yang tidak tahu malu itu, akhirnya pulang ke tempat asalnya di Eropa sana. Memang pada awalnya persatuan antar agama dan antar etnis merupakan sebuah polemik yang berkepanjangan. Dendam masalah lalu menjadi penyebab susahnya masyarakat untuk bersatu serta ambisi dalam menjadi golongan yang superior dari golongan yang lainnya.

Balik lagi ke masa saat ini, kita dikejutkan oleh tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh beberapa pemuda di lereng gunung Semeru yang menendang sesajen di sana. Tentu hal tersebut merupakan bentuk pelanggaran berat yang mempunyai tujuan untuk memperpecah persatuan masyarakat yang telah lama terbentuk. Apalagi hal tersebut dipublikasikan di media sosial.

Barangkali gejala sosial semacam ini tidak dapat kita kaitkan dengan agama, ras yang dimiliki oleh pelaku. Sulit untuk dipungkiri bahwa latar belakang pelaku mempunyai andil, namun tak menyeluruh. Ketika kita menghina balik latar belakang pelaku yang meliputi agama dan rasnya, tentu kita telah melakukan hal yang serupa.

Dengan bijak, tentu kita semua mengecam tindakan tersebut di tengah bencana yang melanda masyarakat di lereng gunung Semeru, apalagi tindakan tersebut dimaksudkan untuk menghina keyakinan masyarakat lereng Semeru, serta dikaitkan dengan apa yang telah terjadi di sana.

Tindakan semacam itu, seharusnya tidak perlu dilakukan mengingat banyak problematika bangsa yang perlu kita hadapi. Bagaimanapun, toleransi yang kita rasakan saat ini perlu untuk kita tingkatkan terus agar kejadian seperti itu tidak terulang kembali.

Namun, terdapat sesuatu yang membuat saya menulis tentang hal ini, yakni kedewasaan masyarakat dalam merespons tindakan seperti itu yang telah mengalami peningkatan kesadaran akan pentingnya toleransi dalam bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Hal tersebut merupakan sebuah nilai positif yang perlu kita jaga bersama dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin keruh.

Tanpa adanya toleransi antar umat beragama, akan menyebabkan kondisi bangsa yang kacau seperti yang terjadi di sebagian besar negara-negara di Timur Tengah. Pluralitas dibutuhkan agar setiap umat beragama dapat hidup bernegara tanpa perlu menyulut api perbedaan antar keyakinan.

Tentu pernyataan saya ini di luar konteks pembahasan antar agama, biarlah hal tersebut menjadi urusan penganut agama masing-masing terhadap agamanya sendiri. Kita butuh kehidupan yang saling berdampingan tanpa adanya gangguan terhadap keyakinan kita masing-masing.

Ketika pemahaman masyarakat terhadap toleransi menjadi utuh. Maka, sumber daya manusia Indonesia mengalami progresivitas dan tidak perlu bertikai dalam membahas agama siapa yang paling benar. Melainkan dengan menjadikan nilai-nilai yang terkandung dalam agama membuat penganutnya lebih bersikap rendah hati dan bukan menjadikannya pribadi oportunis.

Bukankah kita semua telah sepakat bahwa fondasi negara yakni Pancasila mengandung kebersamaan yang melingkupi segala perbedaan yang ada. Bagaimana mungkin kita dapat hidup dengan tenang tanpa adanya toleransi sebagai landasan kita dalam berpijak antar sesama?

Namun, untuk menjadikan toleransi sebagai angin yang segar, kita harus belajar menerima kebebasan ekspresi orang lain serta tak lupa untuk menilai mana yang dapat diambil manfaatnya dan teruntuk yang tidak dapat kita ambil hikmahnya, kita jadikan pembahasan yang merujuk terhadap nilai-nilai Pancasila yang telah kita anut.

Maka dari itu, akan sangat berbahaya jika pihak-pihak yang intoleran tidak dapat mengubah sikap mereka terhadap arus zaman yang telah memaksa kita untuk menghendaki toleransi sebagai sikap bersama dalam berbagai sudut pandang yang berbeda-beda.

Toleransi antar sesama tidak akan berjalan dengan lancar, apabila kita masih sering menyalahkan orang lain yang tidak sependapat dengan pola pikir kita, serta merasa yang paling benar merupakan pemicu utama sikap intoleran itu sendiri.

Perbedaan-perbedaan yang telah ada di depan mata kita, yang diciptakan oleh Tuhan secara rahasia, merupakan suatu upaya yang harus kita pahami maknanya ketika perbedaan itu memaksa naluri kita untuk menerimanya, seperti dunia yang telah menerima kehadiran kita dengan lapang dada. Bagaimana juga, kita adalah perbedaan itu sendiri, maka toleransi akan perbedaan merupakan bentuk rasa syukur atas Karunia-Nya.