Tampaknya dunia sedang senang mempertunjukan sebuah series bertajuk kembali bangkitnya rasisme di era Covid-19. Anti-Asia adalah salah satu series populer di 2021. Merebaknya Anti-Asia ini dimulai tahun 2020 kemarin karena kemunculan kasus pertama Covid-19 di China dan warga AS yang menyimpulkan bahwa orang Asia lah dalang dari kekacauan di dunia saat ini.

Ras Asia yang berada di AS dianggap sebagai virus yang harus diperangi. Berbagai tindakan yang dihadapi oleh orang Asia antara lain rasisme, xenofobia, kekerasan dan intoleransi. Tanpa mereka sadari tindakan mereka lah yang merupakan virus sesungguhnya.

Rentetan tindakan rasisme terjadi di 2021 ini diantaranya kasus kekerasan yang dialami oleh dosen University of Southampton keturunan China, Peng Wang yang diserang oleh empat pemuda di Inggris saat jogging, pengeroyokan dua WNI oleh lima orang asing di sebuah stasiun di Philadelphia AS, penyerangan yang menyebabkan hilangnya nyawa Vicha Ratanapakdee oleh seorang pria Afrika-Amerika di San Francisco, dan masih banyak lagi.

Di Indonesia sendiri kasus rasisme juga tidak ada habisnya. Belum lama ini muncul kasus rasisme terhadap orang papua yaitu Natalius Pigai yang dilakukan oleh seorang politikus. Lalu, mengapa rasisme bisa terjadi? Bagaimana sejarahnya?

Rasisme muncul pada masa sebelum kapitalisme muncul. Tindakan diskriminatif tersebut diberlakukan saat dan setelah terjadi suatu peperangan. Pemenang perang berhak menuntut perbudakan kepada pihak yang kalah. Abad ke-17 kapitalisme mulai muncul, menyebabkan rasisme bukan hanya sebuah tindakan perbudakan, melainkan telah menjadi hal yang turun menurun atau tertanam dalam kebudayaan.

Kapitalisme berkembang setelah terjadi kebangkitan kemajuan bangsa-bangsa eropa. Mereka melakukan ekspedisi dan melakukan kolonialisasi untuk mencari sumber daya baik alam ataupun manusia. Ketika orang Amerika menjumpai Afrika, mereka mengeksploitasi kekayaan alamnya dan membawa orang Afrika untuk dijadikan budak.

Amerika memiliki pandangan yang dijadikan teori dalam rangka mencari pembenaran yaitu berkaitan dengan keunggulan kulit putih dan kekurangan/kerendahan kulit hitam. Teori tersebut menyatakan bahwa kulit hitam lebih rendah dibanding kulit putih baik secara fisik maupun otak. Pemahaman tersebut dapat diartikan sebagai supremasi kulit putih. Supremasi kulit putih adalah sebuah kampanye dimana orang Eropa Amerika menganggap dirinya berkuasa dan berhak untuk memperbudak atau bahkan memperlakukan ras lain dengan semau mereka.

Orang-orang kulit hitam dinilai lebih rendah kastanya dibanding orang kulit putih. Berbagai tindakan dilakukan untuk menyingkirkan orang kulit hitam seperti penyiksaan bahkan pembunuhan. Tindakan rasisme dan kekerasan berkembang pesat ketika kampanye ini menyebar. Banyak warga Afrika dan masyarakat Asia menjadi korban.

Tahun 1790 diberlakukannya aturan tentang kewarganegaraan Amerika Serikat berdasarkan naturalisasi. Aturan naturalisasi tersebut ditujukan untuk warga kulit putih sehingga hak kewarganegraan tidak diperoleh warga kulit hitam dan orang Asia yang tinggal disana. Hal ini memberi pengaruh besar pada seluruh aspek kehidupan warga golongan inferior.

Mereka sulit mendapatkan akses untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Orang kulit hitam tidak bisa berada sejajar dengan kulit putih pada seluruh aspek kehidupan. Serupa juga dengan hak sebagai warga sipil, hak dalam mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan hukum. Orang kulit putih tidak terlindungi baik secara hukum. Hal ini memicu aksi rasisme yang semakin parah di kalangan inferior di Amerika.

Pada tahun 1870, aturan tentang naturalisasi tersebut masih diperluas dengan menyatakan bahwa warga kulit hitam sudah diperbolehkan untuk memiliki status kewarganegaraan. Hal ini tidak berlaku bagi ras inferior lainnya. Orang Amerika kulit putih menyebut ras minoritas lainnya sebagai makhluk asing yang tak pantas untuk mendapatkan kewarganegaraan.

Sejatinya mereka merujuk pada warga keturunan Asia yang berasal dari negara seperti China dan Jepang. Anehnya meskipun orang kulit hitam telah mendapatkan kewarganegaraan akan tetapi dengan segala paradigma yang mereka yakini, Amerika masih melakukan diskriminasi bahkan mencapai pembantaian terhadap orang kulit hitam di Amerika Selatan.

Bahkan pada tahun tersebut muncul pula aturan yang menyatakan tentang pernikahan “anti-miscegenation laws” dimana larangan pernikahan dan hubungan seksual antara orang kulit putih dan kulit hitam. Begitu pula masyarakat Indian dan Asia.

Sampai detik ini sejarah panjang rasisme di Amerika masih belum bisa diakhiri. Banyak dari kaum minoritas yang inferior tidak bisa melawan akan tindakan rasisme. Kasus-kasus seperti pelecehan, penganiayaan, perundungan, dan pembunuhan akan ras non kulit putih sulit dihentikan. Hal ini sudah menjadi budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sana bahkan meluas ke penjuru dunia hingga detik ini.

Rasisme tentu mampu kita atasi jika ada kerja sama antara semua pihak. Berbagai tindakan dapat dilakukan untuk mengatasi tindakan rasisme ini. Tindakan tersebut dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu tingkat individu, tingkat organisasi atau kelompok, dan yang terakhir adalah tingkat pemerintahan.

Di tingkat individu, kita bisa mengubah pandangan dan cara berfikir kita pada suatu kelompok atau orang. Mulai menerima perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kita, dan tidak membedakan atas latar belakang, ras, warna kulit, agama dan bangsa mereka. Ada banyak sekali hal yang berbeda di dunia ini.

Maka dari itu, kita harus menerima dan mengakui bahwa keberagaman itu ada. Kita juga harus menahan sifat egois yang ada di dalam diri dengan membangun sikap toleransi, dengan adanya toleransi maka perpecahan akibat rasisme dapat dihindari.

Di tingkat organisasi atau kelompok, kita dapat memulai langkah kecil dengan cara menentang ideologi tentang rasisme. Organisasi-organisasi yang ada di dunia seharusnya memperlakukan orang-orang dengan perlakuan yang sama.

Contohnya, sekolah harus menerima siswa tanpa memperhitungkan latar belakang mereka dan memberikan fasilitas yang sama kepada semua siswa. Selain itu, pihak sekolah juga harus mengajarkan budaya daerah lain kepada siswanya agar mereka bisa menerima perbedaan budaya yang ada di sekitarnya.

Pada tingkat pemerintahan, cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi ketidaksetaraan struktural yang muncul akibat adanya hierarki sosial yang rasis. Pemerintah harus memberikan pelayanan yang setara kepada semua masyarakatnya tanpa memperhitungkan status sosial mereka, sehingga tidak akan muncul kecemburuan sosial dari masyarakat. 

Selain itu, pemerintah harus bertindak tegas kepada oknum yang terlibat aksi rasisme. Aparat pemerintah dan organisasi internasional harus bergandengan untuk menangani masalah ini agar tidak ada lagi korban dari tindak rasisme kedepannya.