Kemarin, yaitu 28 Desember, sejak pagi jam 9, ada tiga komponen berkumpul dalam satu forum di Rumah Inklusif. Masing-masing dari ketiganya adalah Dosen, yaitu Kang Tajib, 40-an mahasiswa Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Kebumen, dan 4 orang anggota Gusdurian Kebumen, yaitu Kang Rimba, Mas Udin, Mas David, dan penulis.

Dan sebenarnya kegiatan hari itu sudah direncana jauh hari oleh Kang Tajib sebagai dosen yang juga Pembina Gusdurian. Bahwa dalam waktu dekat, Gusdurian akan diminta untuk mengisi materi terkait mata kuliah Studi Islam bab Toleransi. Tempat perkuliahan juga diboyong dari ruang kelas kampus ke Joglo Rumah Inklusif yang notabene didirikan oleh Kang Tajib beserta istrinya.

Tanpa pertimbangan lebih lanjut, kami lekas setuju. Kang Rimba selaku ketua Gusdurian lekas meminta Mas Udin dari agama Buddha, Mas David dari Katolik,, serta penulis dari Islam yang sekaligus satu generasi dengan para mahasiswa untuk menjadi perwakilan.

Kang Tajib mengawali mula-mula menerangkan bahwa materi Toleransi akan dibawakan oleh orang-orang yang di sampingnya, yaitu kami. Acara pada hari ini juga dimaksudkan untuk memperingati Haul Gus Dur ke-10 yang jatuh pada bulan Desember ini.

Hubungan Gus Dur dengan kegiatan ini, pertama bahwa Gus Dur adalah manusia terdepan, setidaknya di negara ini untuk urusan toleransi. Kedua, nilai-nilai perjuangannya menjadi inti dari gerakan Gusdurian.

Singkat cerita, penyampaian materi pungkas lanjut ke sesi tanya jawab. Tiga penanya untuk satu termin. Jumlah termin tidak terhingga sampai Kang Tajib meminta untuk menyudahi kala azan zuhur terdengar. Satu per satu melontarkan pertanyaan unik serta mayoritas ditujukan kepada Udin dan David yang memang berlainan agama dengan para mahasiswa.

Pertanyaannya terkesan sepele, tapi memang benar menjadi bersitan bagi banyak orang terkait dengan perkumpulan lintas keyakinan, seperti apakah Udin dan David tidak pernah merasa ingin pindah agama ke Islam? Bagaimana pandangan kalian tentang Islam? Apa yang kalian baca ketika tadi Kang Rimba memimpin untuk mengirimkan al-fatihah untuk Gus Dur?

Lalu, bagaimana batasan dari agama Buddha dan Katolik terkait toleransi? Mengapa orang Katolik yang menikah jika salah satu meninggal tidak boleh menikah lagi?

Semuanya dijawab dengan lancar dan menyenangkan. Namun poin dari kegiatan hari itu adalah, bahwa berdasar pertanyaan mereka, para orang Islam yang kali ini diwakili oleh anak muda sebenarnya KEPO (Knowing Every Particular Object) dengan mereka yang berlainan keyakinan. Barangkali jawaban mengenai pertanyaan mereka Google pun bisa memberikan, namun Google tidak dapat memberi nuansa akrab yang terbangun kala itu.

Memang, mayoritas warga Indonesia dan Kabupaten Kebumen sebagai contoh hanya mengenali Toleransi hanya sebatas jargon. Sebagai pemisalan, yaitu penulis sendiri. Saat masuk Sekolah Dasar, penulis duduk bersama puluhan siswa lain yang kesemuanya Islam. 

Lanjut Sekolah Menengah Pertama dengan kondisi yang tidak berbeda, kemudian duduk di Madrasah Aliyah yang tentu saja hanya boleh dimasuki yang beragama Islam. Dan kali ini masuk Perguruan Tinggi Islam Swasta yang pastinya hanya orang Islam yang diperbolehkan mendaftar. Nah, kan?

Kita tak pernah mengingkari bahwa Indonesia adalah bangsa heterogen dengan setidaknya enam agama resmi dan sekian aliran kepercayaan. Tapi kita secara tak sadar mengalami hidup yang sangat homogen, terutama mereka yang muslim.

Itu juga tak dapat dilepaskan dari faktor Islam sebagai mayoritas, di Kebumen sendiri hampir 90%. Itu artinya, setiap orang Islam di Kebumen belum tentu pernah bertemu satu orang dari Katolik, Buddha, atau lainnya, namun umat Katolik sudah pasti pernah bertemu dengan banyak orang Islam, di mana-mana.

Sehingga yang Kang Tajib lakukan sebagai dosen membawa mahasiswanya ke Joglo Rumah Inklusif adalah agar para mahasiswa tidak hanya sekadar membahas tentang toleransi saja. Lebih dari itu, mahasiswa diajak untuk mengalami dan menjadi pelaku toleransi itu sendiri.

Pertanyaan yang menjadi bersitan masyarakat kebanyakan seperti yang telah disebutkan di atas tidak akan pernah mereka lontarkan, jika tidak pernah bertemu dengan yang lain keyakinan, dan tidak terbangun nuansa keakraban dan niat ingin saling mengenal satu sama lain.

Karena ketidakberjalinan antara apa yang dipelajari dengan apa yang jadi realitas tak bisa diteruskan. Pasca forum selesai, penulis duduk bersama Kang Tajib untuk ngopi bareng di bawah deras hujan petir.

Pembicaraan mengalir dan dia mengatakan bahwa mempertemukan mahasiswanya dengan umat lain keyakinan tidak hanya pada bab Toleransi saja. Tapi dia sudah pernah menyuruh mahasiswa dari jurusan Manajemen Pendidikan Islam untuk mendatangi Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama PIUS (yang memang Kang Tajib sudah menjalin hubungan baik dengan jajaran pengurusnya) untuk melihat bagaimana sekolah itu membangun manajemennya. Karena yang bersekolah di sana tidak hanya dari Katolik saja, melainkan juga dari Islam.

Menarik, kan? Bahwa dalam mengampanyekan toleransi dan kerukunan, ternyata Kang Tajib tidak bergantung pada apa mata kuliahnya. Mereka meneliti bagaimana manajemen sekolah PIUS, dan mereka sudah tidak lagi berbicara tentang toleransi, tapi mengalami dan menjadi pelaku. 

Impian Kang Tajib dan Gusdurian adalah sama: kala orang-orang berkumpul dengan berlainan keyakinan sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa di negara ini.

Sehingga yang jadi pembicaraan kita bukan lagi tentang bagaimana hidup bertoleransi dan apa batasnya. Tapi lebih dari itu, topik besar yang kesemua agama dan aliran kepercayaan dapat membahasnya bersama-sama adalah Persamaan, Keadilan, dan Demokrasi.

Kita dari dulu, sepanjang tahun, sepanjang ada perayaan keagamaan dari agama lain, selalu dicekoki dalil-dalil, isu-isu, dan apa pun yang membuat perhatian masyarakat teralihkan.

Dialihkan dari apa? Tentu dari isu-isu abadi yang memang terkesan membosankan macam pelayanan kesehatan, polusi udara, sengketa pemilikan lahan, pendidikan, dan ekonomi. Begitu kata Harari terkait pola negara yang dikuasai oligarki. Ada saja isu renyah yang dilemparkan ke mulut masyarakat dan bikin mereka malas untuk melumat isu besar dan alot.

Jadi, kronologinya jelas sekarang. Kita belum juga selesai dengan bagaimana hidup toleran dan rukun. Dari situ mudah untuk membikin isu-isu yang seakan semua orang adalah pakar sehingga semua orang ingin membahas.

Dan terkait pelayanan kesehatan, polusi udara, sengketa pemilikan lahan, pendidikan dan ekonomi, kayanya masyarakat dianggap kurang pantas untuk ikut membahas. Meskipun semua itu bersentuhan langsung dengan hidupnya, kan?

Catatan: Joglo Rumah Inklusif adalah sebuah tempat yang dimaksudkan sebagai pusat pemberdayaan bagi kaum disabilitas, khususnya di wilayah Kebumen. Didirikan oleh Ahmad Murtajib dan Muinatul Khoiriyah. Akan dibahas di lain tulisan.