Bicara toleransi di tengah maraknya berita hoax dan ujaran kebencian yang bersliweran di jagat maya menghasilkan kelompok-kelompok masyarakat yang merasa dirinya paling benar. Tapi, benar menurut siapa? Dirinya, kelompoknya, semua orang, atau benar menurut Tuhan?

Sebenarnya orang Indonesia itu lucu-lucu. Selalu ada pihak yang suka ketawa dan suka marah yang bertengkar, dan pertengkarannya itu kadang bikin saya tertawa.

Ya anggaplah saya ini penganut paham toleransi garis lucu. Sebab, toleransi itu kalau bisa digambarkan jadi bentuk wajah pasti wajah yang banyak tertawa, hidupnya juga tidak spaneng. Saya percaya bahwa humor itu hanya milik orang cerdas. Sebab kecerdasan itu sifatnya menyederhanakan sesuatu yang sulit dan bisa dicerna semua kalangan.

Gampangnya seperti ini, kalau saja setiap kita itu mau memahami bahwa kapasitas manusia hanya dalam taraf mencoba (mencoba tawakal, mencoba sabar, dan mencoba menafsirkan) dan tidak sempurna.  Kalau pun kita telah memahami itu ya sudah, harusnya kita hidup adem ayem saja dalam lingkup relasi apa pun.

Sepanjang yang saya tahu, konflik yang terjadi di Indonesia soal intoleransi ini karena banyaknya massa pendukung dari tiga golongan: ekonomi lemah, pengetahuan kurang, dan orang yang haus kuasa tapi punya modal. Orang yang ekonominya lemah cenderung akan melakukan hal-hal nekat ketika ia terhimpit oleh desakan ekonomi. Entah itu bentuknya menganiaya, jadi pasukan nasi bungkus, copet dan banyak tindakan kriminal lainnya.

Mereka yang pengetahuannya kurang tapi sok tahu akan menjadi pengikut setia sebuah peribahasa, “Tong kosong nyaring bunyinya.” Mereka yang tidak tahu akan berbicara dari sudut pandang ke-sok-tahu-an mereka. Toh, jadi orang sok tahu itu lebih mudah dan murah, walaupun lebih sering menyesatkan dan berisik di sosmed.

Tidak apa-apa, Indonesia butuh orang demikian. Selayaknya rumah tangga, pasti ada anak-anak yang membuat gemas, berisik, dan menjengkelkan untuk ujian bagi orang-orang yang mengaku beriman.

Nah, kelompok orang yang paling bahaya adalah orang yang haus kuasa dan punya banyak uang. Ini adalah kelompok yang paling bahaya. Terkadang ia ada dibalik layar, tidak ingin terlihat identitasnya. Bukan apa-apa, kursi kepemimpinan itu terlalu sulit didapatkan bagi orang yang tidak mempunyai integritas, maka ia melakukan berbagai cara agar dapat menggulingkan kekuasaan yang sah, menguasai SDA dan berbagai kepentingan lain untuk dirinya atau kelompoknya.

Sebenarnya orang Indonesia itu santai-santai, murah senyum dan tidak gampang marah. Mereka yang intoleran  itu cuma sedikit, bedanya mereka lebih berisik. Sisanya, lebih kepada sibuk mencari nafkah, tidak peduli, bahkan ada menertawai sebuah debat panjang sebagai sebuah lelucon. Nah, saya ada di kelompok orang yang terakhir, menertawai sambil minum kopi dan ngemil mendoan tanpa takut tersedak.

Ada masanya saya menjadi orang yang serius ketika pertumpahan darah karena beda pemahaman terjadi, namun saya akan tertawa ketika melihat orang-orang yang kita sebut pintar itu berdebat diselipi dengan caci maki. Secara tidak langsung di sanalah kualitas seseorang baik secara keilmuan dan emosional diuji.

Cak Nun selalu menjabarkan soal kebenaran kepada para jamaah maiyah dengan bahasa yang sangat sederhana. Kebenaran itu ada tiga jenis: benar menurut individu, benar menurut sekelompok orang, dan kebenaran yang sejati.

Sampai di sini, ketika orang-orang mampu memahami bahwa ia ada dalam posisi yang mana, maka seharusnya perdebatan dan intoleransi tidak perlu terjadi. Karena kewajiban setiap kita adalah terus mencoba untuk mencari seperti apa kebenaran yang sejati itu.

Mengapa harus sibuk merasa benar sambil menyalahkan penafsiran orang lain kalau kita sama-sama tidak tahu apakah yang kita tafsirkan itu paling benar di hadapan Tuhan? Poin toleransi itu ada di sini, beda itu fakta dan seharusnya bukan masalah.

Tuhan dengan segala sifatnya, mengedepankan sifat kasih sayang pada hamba-Nya. Seharusnya sudah jelas, bahwa landasan hidup kita adalah kasih dan kemurahan hati. Dalam hal ini bisa diartikan bahwa setiap manusia seharusnya berlomba-lomba dalam berbelas kasihan dengan sesama didasari iman.

“Dia yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudara dalam kemanusiaan,” kalimat yang diucapkan oleh Ali Bin Abi Thalib ini seakan-akan menjadi dasar penegasan untuk saling menjaga keharmonisan dan silaturahmi dalam keberagaman yang diciptakan oleh Tuhan. Sebutan saudara dalam kalimat tersebut seperti memberikan sebuah tanggung jawab pada kita menganggap saudara berarti wajib memiliki sikap peduli dan berusaha tidak melukai.

Merujuk pada tiga golongan yang rentan menjadi pelaku intoleransi di Indonesia yang telah saya jabarkan di atas, tentunya bisa dengan mudah kita membuatkan solusi untuk menanggulangi masalah Intoleransi di Indonesia yang mana dalam hal ini kita meminta negara hadir.

Selain menganggap saudara seperti yang telah jabarkan di atas, masih tingginya angka kemiskinan di Indonesia menyebabkan angka kriminalitas masih tinggi di kota besar. Laju urbanisasi yang dilakukan oleh masyarakat desa yang minim ketrampilan dan hanya bermodal nekat datang ke kota, lalu tidak mampu berkompetisi, kelaparan, dan akhirnya terjebak menjadi kriminal dan rela berbuat apa saja demi uang. Di sini peran pemerintah untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya sangat diperlukan.

Kedua,  kelompok yang kurang pengetahuan  namun sok tahu namun ada juga yang kurang pengetahuan lalu gampang terhasut. Mereka yang masuk dalam kelompok ini biasanya aktif di berbagai sosial media. Sosial media hari ini bukan lagi hanya sebagai ajang silaturahmi dan berbagi ilmu atau berjualan online.

Perang twit sampai perang komentar di berbagai hal baik yang penting maupun tidak menjadikan perang tersebut seperti difasilitasi oleh semesta. Padahal pemerintah sudah mengeluarkan UU ITE sebagai batasan dalam bersosial media. hanya saja bagi sebagian orang, peraturan ada untuk dilanggar. Mereka melanggar hukum lalu berusaha untuk playing victim agar mendapat simpati dari masyarakat seolah-olah didzalimi.

Ketika masyarakat yang kurang pengetahuan tersebut gampang terhasut, maka dengan mudah mereka menjadi distributor berita bohong sekaligus pasukan pendebat paling depan. Ia akan mati-matian membela pendapatnya atau berita yang ia terima tanpa konfirmasi kebenarannya. Apa lagi tipu daya di dunia maya begitu dahsyat untuk memelintirkan sebuah fakta dan menggiring opini.

Pemerintah seharusnya rajin-rajin membuat kompetisi untuk membuat satu konten kreatif bertema toleransi, edukasi, atau antikorupsi kepada masyarakat. Entah dalam bentuk tulisan, lisan, naskah drama, maupun video dengan hadiah yang lumayan. Maka dengan sendirinya masyarakat akan sibuk untuk mengikuti lomba tersebut sambil mencari sumber-sumber di internet atau buku-buku pendukung.

Kelompok ketiga inilah biang masalahnya. Ketika seseorang yang mempunyai uang haus akan kekuasaan, maka mereka adalah golongan yang paling berbahaya. Mereka menggunakan orang yang berada dalam kelompok satu dan dua untuk memuluskan keinginannya.

Kelompok ini biasanya ada yang tidak terlihat atau bahkan begitu keras berusaha menjaga citranya agar tetap baik di masyarakat, namun ada pula yang terang-terangan menghasut banyak orang entah membawa agama, suku, atau pun golongan tertentu.

Saya menganalogikan sebuah kebenaran seperti uang recehan dengan nominal yang sama, lalu saya kumpulkan ke dalam sebuah karung hingga penuh dari segudang uang receh yang saya miliki. Sekarung utuh itulah yang saya namakan kebenaran. Benar-benar sekarung utuh.

Setelah itu, uang receh tersebut saya sebar ke daerah yang terjangkit virus miskin. Maka berlomba-lombalah orang-orang tersebut mengambil uang yang saya sebar tadi. Tentunya ada yang mendapat banyak, ada pula yang sedikit, dan ada pula yang tidak kebagian.

Permasalahan hadir ketika mereka yang memiliki uang receh 100 keping merasa diri paling tinggi derajatnya, merasa apa yang dimilikinya semata-mata karena usahanya sendiri, lalu mulai mencaci yang hanya memiliki dua keping, tanpa menyadari apa yang ia miliki hanya secuil dari si pemberi receh.

Kesalahpahaman pun terjadi. Orang yang baru memiliki sedikit telah merasa memiliki secara utuh hanya karena nominalnya paling banyak dan tidak ada bandingannya. Yang sekarung utuh saja baru secuil, apalagi hanya seratus keping. Ibaratnya semut yang sok besar dihadapan dinosaurus, apa namanya kalau bukan tidak tahu diri?

Indonesia hari ini, tren mengecap orang lain sebagai “kafir”, ramai sekali di media sosial. Tidak hanya masyarakat awam, namun juga ulama-ulama. Saya tidak ingin menyalahkan atau merasa benar dalam hal ini, karena seperti yang telah saya jabarkan di atas, posisi manusia adalah seorang penafsir.

Analogi saya sederhana, seandainya saya sedang mencari seseorang, katakanlah nama Paijo dengan ciri-ciri, bertubuh tinggi, kulit sawo matang, ada tahi lalat di atas bibir, dan dia suka ngupil ketika minum kopi. Lalu banyak orang yang memberikan rekomendasi kepada saya dengan ciri-ciri yang saya sebutkan dengan nama yang sama.

Pertanyaannya, siapa yang bisa menentukan itu Paijo yang saya maksud atau bukan kecuali saya sendiri? Masalahnya, kalau saya tidak bisa bertemu secara langsung, bagaimana orang yang merekomendasikan itu mendapatkan konfirmasi valid atau tidaknya orang yang ia temukan itu sebagai Paijo yang saya maksud atau bukan?

Tentunya posisi orang selain saya adalah seorang penafsir, bukan pemberi keputusan apa lagi pendakwa, bukan?

Akhir kata, sadarlah saja, bahwa setinggi apa pun ilmu agama seseorang, ia hanyalah seorang hamba yang harus patuh dan tahu diri. Sesama hamba, marilah mengusahakan kebahagiaan, terus belajar, dan perbanyak ngopi sambil tertawa-tawa bersama.