Awal tahun 2021 menjadi momok paling memilukan di Indonesia, terlepas dari segala tragedi yang terjadi, dari bencana alam hingga kasus bom bunuh diri yang saat ini menimpa bumi pertiwi. Kabar terhangat terkini, mengenai ajaran radikalisme dan ekstrimisme yang sedang gencar-gencarnya melakukan perlawanan bagi keamanan persatuan NKRI.

Pemerintah sudah mati-matian mematikan ormas-ormas terlarang dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan umat. Namun hal ini seperti tidak memberi efek jera bagi penganut ajaran-ajaran terlarang ini, mereka selalu menampakan diri dengan bersembunyi dibalik eksistensi kata jihad. Padahal bukan lain merekalah yang menjadi pelopor adanya kaum radikal.

Aksi terorisme yang terjadi di negeri ini adalah buah dari berkembangnya ajaran radikalisme yang secara diam-diam memupuk kesuburan penganutnya dengan ilegal. Tidak hanya diam, namun mereka para penganut radikalisme berusaha menunjukan keberadaanya.

Sebut saja issu terhangat saat ini. Bom bunuh diri terjadi di gerbang Gereja Katedral Makassar,Sulawesi Selatan,Minggu (28/3/2021)  pukul 10.30 WITA,hanya selang beberapa hari Seorang terduga teroris menyerang  Markas Besar Polri pada Rabu,31 Maret 2021 .Mereka seakan berencana membuat teror serentak.

mengingat indonesia adalah negara etnis dengan macam-macam suku budaya serta agamanya. Walhasil karena ulah orang-orang radikalisme islam di indonesia terkena getahnya, bagi mereka masyarakat awam akan berasumsi  bahwa islam adalah agama yang menolak keberagaman.

Agama selain islam akan berasumsi buruk mengenai islam di Indonesia. Sekian banyaknya penganut agama-agama di Indonesia, islam menjadi agama mayoritas di Indonesia begitupun macam-macam ormas yang berdiri di dalamnya,  NU dan Muhammadiyah menjadi ormas muslim yang dianut paling banyak warga indonesia. Hal ini dikarenakan peran penting keduanya dalam melawan ajaran Radikalisme,Ekstrimisme dan Terorisme.

Tertulis di situs web  NUonline.id wakil ketua umum PBNU: As’ad Said Ali, mengungkapan opininya tentang peran NU dalam menolak ajaran radikal beliau menulis bahwasanya:" Di Indonesia, pengaruh radikalisme dan ekstrimisme itu bisa dirasakan dan dilihat dengan mudah. Iklim kebebasan yang dibuka sejak reformasi pada 1998,

memberi ruang luas berkembangnya radikalisme. Memang jumlah pemuda-pemuda Indonesia yang terpengaruh faham radikal tidaklah sebanding dengan jumlah mainstream umat Islam yang moderat. Akan tetapi karena mereka mempunyai militansi yang tinggi, terlatih secara militer (teror) dan adanya jaringan Internasional,

maka keberadaannya mulai mengganggu ketentraman, ketertiban, stabilitas keamanan khususnya iklim toleransi beragama yang merupakan sendi utama peradaban Indonesia. Nahdlatul Ulama berpandangan sudah saatnya negara secara lebih serius melibatkan Ormas-ormas Islam meluruskan faham-faham radikal tersebut.

Terorisme dan radikalisme, tidak hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah dan aparat keamanan saja. Melibatkan Ormas-ormas besar pendiri republik seperti NU dan Muhamadiyah merupakan langkah yang bijaksana untuk memodernisasi pandangan-pandangan yang terlanjur ekstrim dan membentengi lingkungan internal masing-masing dari perembesan radikalisme".

radikalisme merupakan suatu paham yang menghendaki adanya perubahan, pergantian, dan penjebolan terhadap suatu sistem di masyarakat sampai ke akarnya. Radikalisme menginginkan adanya perubahan secara total terhadap suatu kondisi atau semua aspek kehidupan masyarakat.

Tentu saja melakukan perubahan (pembaruan) merupakan hal yang wajar dilakukan bahkan harus dilakukan demi menuju masa depan yang lebih baik. Namun perubahan yang sifatnya revolusioner sering kali “memakan korban” lebih banyak sementara keberhasilannya tidak sebanding.

Ajaran radikalisme sangat berlawanan dengan visi misi ajaran islam itu sendiri, bahkan sangat bertentangan. Islam adalah toleransi, islam adalah rahmatal lil alamin rahmat bagi seluruh alam,pun di dalam kitab suci umat islam tertulis jelas bahwasanya islam sangat mengedepankan toleransi dan menolak keras ajaran radikal dan sejenisnya.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT,secara tegas melarang untuk berlebihan atau melewati batas yang telah ditetapkan dalam urusan beragama, hal ini bisa dijumpai dalam Q.S.surat An-Nisa' ayat 171 dan  Q.S Al-Baqoroh ayat 256 , banyak ayat al qur'an yang menjelaskan perintah untuk hidup dalam kedamaian dan kerukunan.

Namun, tumbuhnya benih-benih radikalisme ini lahir dari pemahaman yang salah dalam mengartikan makna/teks di dalam al qur'an, ditambah dengan bau-bau provokasi penyebar aliran ini, mereka memeiliki pemimpin yang dianut secara lahir maupun batin, ajaran baru yang menganggap kelompoknya paling benar dari semua kebenaran.

Ketika islam menjadi agama mayoritas di Indonesia menjadi hal yang lumrah, ketika akan banyak agama-agama selain islam berasumsi tentang islam dari tolak ukur perbuatan dan tindakan pemeluknya, dan NU menjadi salah satu organisasi islam dengan jumlah pengikut terbanyak di Indonesia.

Warga Nahdliyin adalah istilah yang digunakan untuk para pengikut NU, di organisasi inilah sikap Toleransi sangat di tanamkan, Toleransi dalam NU, berarti NU bersikap toleran terhadap perbedaan pandangan baik dalam masalah agama, masalah kemasyarakatan, dan kebudayaan.

Sikap toleransi ini adalah terciptanya kesepahaman antargolongan untuk saling memiliki semangat kebersamaan untuk menerima perbedaan di antara masyarakat yang plural atau majemuk. Sikap toleransi tersebut juga diaplikasikan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Misalnya pada masa kepemimpinan K.H.Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pada masa itu Gus Dur menegaskan masyarakat Indonesia untuk memiliki sikap toleransi setinggi-tingginya.Dengan begitu, kehidupan berbangsa dan bernegara akan berjalan dengan indah dan damai.