Politik di Indonesia saat ini mulai berkembang begitu pesat. Banyak partai-partai politik mulai bermunculan. Dan hari ini partai politik gencar-gencarnya dengan berani mengumbar beribu janji-janji palsu, karena kalau tidak janji tidak akan menang. 

Menjelang perhelatan akbar pemilihan umum (pemilu) 2019, banyak parpol berlomba-lomba menarik simpati para pemuda. Dalam hal ini, partai-partai politik sudah mulai sibuk dengan mencari dukungan di setiap lembaga-lembaga, baik yang formal maupun nonformal. Bahkan di setiap organisasi, baik intra kampus maupun ekstra kampus, mereka dengan bebas masuk untuk mencari simpatisan. Karena mereka beranggapan, kampus merupakan ladang buat para partai-partai politik yang nantinya akan dihegemoni dengan politik praktis. 

Tentunya yang menjadi target parpol adalah para petinggi yang memang mempunyai kapasitas di sebuah organisasi, baik intra maupun ekstra. Di samping mencari simpatisan, tentunya mencari suara juga melalui pengkaderan, bahkan jalan-jalan kotor pun ditempuh untuk mendulang suara. Berbagai strategi jitu yang dilakukan oleh parpol-parpol untuk menarik simpatisan mahasiswa.

Banyak petinggi-petinggi ormas yang diakomodir dan siap dikader oleh parpol-parpol, dengan tujuan agar nantinya bisa merangkul anggota-anggotanya agar dapat mendukung semua kebijakan yang dilakukan oleh parpol tersebut. Segala cara akan dilakukan oleh parpol-parpol kepada para petinggi-petinggi kampus asalkan mereka berhasil merekrut massa sebanyak-banyaknya. Tidak peduli cara yang dialakukankannya itu halal atau haram, asalkan target mereka tercapai. 

Kalau kita tidak melek akan hal ini dan membiarkannya, hal ini dikhawatirkan bisa menodai fitrah seorang mahasiswa, kalau semisal kegiatan ini dilakukan atas dasar kepentingan pribadi, bukan atas dasar kepentingan bersama.

Realitasnya, sekarang mahasiswa dalam berpolitik masih rentan dengan banyaknya godaan. Di mana mahasiswa masih mudah terbujuk atau tergiur dengan diiming-imingi akan hal yang besar, seperti link-link dalam dunia kerja, dijanjikan akan sebuah jabatan dan atas dasar agama. Hal ini tentunya sangat merusak moral seorang mahasiswa di mana harga dirinya sudah dibeli dengan materi.

Dan akhirnya tanpa kita sadari kita akan menjadi pangsa pasar para parpol yang menjadikan mahasiswa sebagai komoditas (barang dagangan) dalam kontestasi politik. Hanya dengan organisasilah yang mampu menjawab persoalan ini, agar hal ini tidak menjadi budaya dalam politik.  

Peran organisasi dalam dunia kampus itu sangat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan sebuah negara. Karena idealnya suatu organisasi mahasiswa pasti memiliki visi dan misi untuk mencapai tujuan bersama, yang nantinya berguna untuk kesejahteraan masyarakat. Intinya, mahasiswa harus bisa mengembangkan fungsi dan perannya sebagai mahasiswa.

Menjelang pesta demokrasi, tentunya hal ini sangat rentan sekali dengan yang namanya politik praktis. Terbukti maraknya organisasi mahasiswa yang menjalankan eksistensinya di kampus-kampus. Dengan itu, banyak mahasiswa yang berpolitik hanya karena atas dasar kepentingan pribadi semata, bukan atas dasar kepentingan bersama. Hal-hal seperti inilah yang tidak kita harapkan dari para petinggi kampus. 

Maka dari itu, perlunya kesadaran dari setiap individu agar dapat berpolitik secara baik. Di samping itu, diperlukan sinergi antara organisasi satu dengan yang lainnya, dan tentunya kita sangat membutuhkan sebuah lembaga yang bisa menaungi semua oraganisasi yang hidup di dunia kampus.

Dalam hal ini, tentunya kita sebagai sebagai masyarakat yang akademis harus lebih mengkritisi dan menyikapi sebuah persoalan dengan bijak, jangan sampai kita terjebak dalam dunia politik praktis dan hanya sekadar menjadi penonton saja. Karena sejatinya kita sebagai mahasiswa merupakan penyambung lidah rakyat, yang mana bagaimana kita siap mengawal berlangsungnya politik yang sehat demi kemajuan negeri kita ini. 

Perlu kita sadari sebagai agen penerus bangsa harus bisa meluruskan dan mampu memilah mana yang baik dan buruk, bukan ikut bermain dalam dunia politik praktis yang dimainkan oleh kaum-kaum kapitalis yang tidak bertanggung jawab. Dan tentunya kita perlu juga ada mawas diri, terlebih lagi untuk mahasiswa baru yang tentunya lebih mudah terbujuk dan didoktrin, karena emosinya masih labil. Hal inilah yang harus kita hindarkan bersama-sama demi terwujudnya politik yang bersih.

Sebagai seorang mahasiswa itu tentunya mempunyai hak, di mana kita diberikan kebebasan untuk ikut bergabung di organisasi mana pun, karena pada dasarnya semua organisasi itu mempunyai tujuan yang sama, di mana ingin mencetak kader-kadernya yang berjiwa agamis, nasionalis, dan ekonomis. Namun realitasnya mahasiswa pada saat ini hanya sibuk dengan dunia akademik saja, tidak peduli isu-isu yang berkembang di negeri ini. Huruf dan angka yang menjadi tolok ukur bahwa ia bisa, masa bodoh rakyat menderita kelaparan.

Menurut Tonny Trimasanto (1993), mahasiswa itu digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu mahasiswa yang apatis dan mahasiswa aktif terhadap organisasi kampus. Mahasiswa yang apatis terhadap organisasi kampus merupakan mahasiswa yang aktif terhadap perkuliahan saja. Segala sesuatu diukur dari pencapaian kredit semester dan indeks prestasi kumulatif yang tinggi dan dapat meraih gelar sarjana secepatnya. Sedangkan mahasiswa aktif adalah mahasiswa yang aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan di kampus, yang sering disebut dengan “aktivis kampus”.

Kedua jenis mahasiswa ini memiliki perbedaan yang kontras saat memasuki dunia kerja. mMhasiswa aktivis cenderung lebih mudah bersosialisasi dibanding mahasiswa apatis terhadap organisasi mahasiswa. 

Dalam berorganisasi, kita dilatih untuk bisa bersosialisasi dengan orang lain. Selain itu, dengan bergabung di organisasi, kemahasiswaan kita dilatih juga untuk menyusun strategi dan bisa memanage waktu, diri sendiri, dan orang lain. Jadi organisasi mahasiswa penting sekali karena dapat karakter diri seseorang untuk menjadi mahasiswa yang produktif.

Dalam hal ini tentunya kita yang sudah bergabung di dunia organisasi, entah itu intra maupun ekstra, diberi peluang untuk belajar dengan sungguh-sungguh berbagai ilmu yang sebelumnya kita tidak dapat di dalam kelas. Dengan berorganisasi juga tidak menutup kemungkinan kita juga dituntut untuk terjun secara langsung ke dunia politik. 

Namun dunia politik yang nantinya kita pelajari tentunya harus berdasarkan nilai UUD dan Pancasila dan tidak keluar dari jalurnya. Semisalnya kita tidak saling menjatuhkan dan tidak mengumbar kebencian, kita tidak meributkan siapa yang mulia dan tidak mulia dan pantas atau tidaknya. Namun yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita bisa berperan sebagai distributor gagasan bagi politik sehari-hari masyarakat. Karena mahasiswa merupakan agent of change, penyambung lidah rakyat, dan kita dikenal sebagai kelompok yang energik, cerdas, dan bijak.

Menyikapi hal ini, tentunya satu-satunya jalan yaitu kita harus berorganisasi, di mana ini merupakan mediator dan fasilitator yang dapat membentuk kematangan mahasiswa dalam hidup bermasyarakat. Ada beberapa bentuk organisasi mahasiswa di kampus, di antaranya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu organisasi intra kampus dan ekstra kampus. 

Dengan bervariasinya bentuk organisasi tersebut, mahasiswa dapat memilih organisasi mana yang sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing. Karena dengan senantiasa berorganisasi, maka mahasiswa akan dibentuk pribadi-pribadi yang kreatif, dinamis, dan lebih bijaksana dalam menyelesaikan sebuah persoalan yang mereka hadapi. 

Oleh sebab itu, organisasi itu sangatlah penting buat kita semua. Agar nantinya kita tidak mudah didoktrin oleh golongan mana pun, dan ilmu yang kita dapat di organisasi itu sebagai benteng untuk membendung parpol yang melakukan politik praktis di dunia akademis.

Coba kita sejenak merefleksi pada peristiwa Mei 1998 di mana mahasiswa bekerja sama menyatukan kekuataannya dan dengan gagah berani mampu menumbangkan sebuah rezim yang zalim, dan akhirnya Bung Hatta dilengserkan. Ini merupakan bentuk-bentuk jiwa nasionalisme atau bentuk cinta kepada tanah air, bahkan sampai rela mempertaruhkan nyawa demi menjaga keutuhan bangsa kita ini.

Akhirnya sampailah kita pada akhir dari tulisan yang sangat sederhana ini. Tulisan ini hanya sekadar mengingatkan diri pribadi dan teman-teman semuanya yang sebenarnya sudah ingat akan hal ini tapi pura-pura tidak ingat. Perjuangan mahasiswa adalah suatu keniscayaan yang akan terus ada dalam masyarakat, karena antagonisme selalu terjadi. Perjuangan kita tidak pernah selesai, selalu ada dan berubah-ubah sebagai sebuah dinamika dalam masyarakat, yang tentunya ini akan menjadi tanggung jawab kita sebagai mahasiswa.

Harapannya hari ini, besok dan seterusnya, mahasiswa harus mampu mengambil peran untuk menolak secara tegas sebuah politik praktis yang masuk dunia akademis. Menyikapi hal ini, kita mengawalinya dengan sebuah bentuk kerja sama, tentunya kita mahasiswa harus bersatu dan bersinergi, jangan sampai ada skat-skat yang membatasi kita. 

Jangan jadikan perbedaan sebagai hambatan kita dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Karena hanya dengan kerja sama kita dapat menyatukan kekuatan kita untuk bisa menstabilkan berjalannya politik di indonesia. Yang intinya di sini kita sebagai mahasiswa harus optimis bisa menjaga keutuhan NKRI, dan memperhatikan kesejahteraan masyarakat. 

Sudah saatnya kita kembali ke peran dan fungsi kita sebagai mahasiswa yang mana kita merupakan agen perubahan dan pelurus karena kita adalah penyambung lidah rakyat. Kalau bukan kita, mau siapa lagi? Kalau bukan sekarang, mau kapan lagi? Maju terus dan pantang menyerah, karena di tanganmulah tergenggam sebuah arah bangsa. Bersama mahasiswa Indonesia Jaya.