Pertanyaan ini sebenarnya saya dapatkan dari sesemas mantan pacar. Kebetulan kami memang doyan nonton film. Dan pertanyaan dari dia itu seperti membekas di kepala saya yang akhirnya jadi bahan perbandingan setiap menonton film dengan dua karakteristik berlawanan protagonis dan antagonis.

Saya jadi suka mencari beberapa poin yang ternyata memang benar seperti apa yang dia pernah katakan.

Tapi apa iya memang seperti itu? Bukannya di akhir cerita film selalu saja tokoh protagonisnya yang menang dengan mengalahkan kekuatan jahat si villain? Kan sudah jadi trade mark bahwa tokoh utama bakalan bertahan bagaimanapun caranya?

Benar sih. Tapi coba kita cek lagi beberapa perbandingan kekecean antara tokoh utama nan baik hati dan tokoh jahatnya.

Semua pasti pernah menonton film The Transporter yang dibintangi oleh sosok ganteng Jason Statham. Di film ini, Jason berperan menjadi Frank Martin yang punya pekerjaan sebagai transporter alias pengantar alias tukang nganter-nganter orang atau barang, ya sebelas dua belaslah sama para driver ojek online nan uwu itu.

Bedanya, di setiap misinya (yang dibagi menjadi beberapa sekuel film), pekerjaan Jason ini selalu saja mengundang bahaya dan berbau-bau kriminal, makanya selalu juga ada pihak yang ingin bikin gagal pekerjaannya.

Nah, kalian pasti ingat di sekuelnya Transporter 2 Jason Statham harus berhadapan dengan tokoh jahat bernama Lola yang diperankan oleh Kate Nauta. Di situ Lola digambarkan sebagai cewek dengan make up smokey tone, penuh fiercing, dan jago tembak. 

Pada akhirnya memang dia bisa dikalahkan oleh Jason Statham, tapi kekeceannya itu melekat sekali di ingatan saya.

Next, bagi penggemar Transformers juga pasti tahu bahwa musuh-musuhnya Autobots, yaitu para Decepticon itu kerennya juga luar biasa. Mulai dari dua pemimpin besarnya si Megatron dan Galvatron sampai semua ke kaki tangannya. 

Sebut saja Starscream si tangan kanan Megatron, mantan ilmuwan dan penjelajah angkasa yang beambisi ingin jadi pemimpin para Decepticon itu. Dia ini bisa berubah bentuk menjadi pesawat F-15 Eagle (pernah juga digambarkan jadi F 22 Raptor). Lalu ada Soundwave yang bisa berubah jadi tape recorder nan imut.

Lha, pada keren-keren amat, kan? Para Autobots banyak yang harus tumbang karena ulah mereka ini.

Yang tak kalah keren tentu saja tak lain dan tak bukan adalah tokoh yang namanya tak boleh disebut, The You-Know-Who Lord Voldemort, musuhnya si Harry Potter. Ini sih memang tokoh jahat paling bikin iri sepanjang sejarah. Ya siapa yang tidak iri kalau lihat kemampuannya Lord Voldemort. 

Sejak kecil dia sudah jadi seorang pemikir yang ulung, semua orang tertarik dengan karismanya dan saat akhirnya sudah jadi seorang penyihir dewasa, tak heran bila dia bisa punya banyak pengikut setia. Penyihir paling ditakuti sepanjang sejarah, bahkan sampai menyebut namanya saja para penyihir yang lain sudah keder lebih dulu. 

Tentu saja akhirnya Voldemort bisa dikalahkan oleh Harry Potter, tapi sudah berapa nyawa yang harus melayang disebabkan ulahnya? Yang bilang Lord Voldemort ini nggak keren, coba sini kita ngopi!

Ada lagi? Ada dong!

Musuh para Avengers, yaitu si botak berbadan besar; pakde Thanos. Lihat penampakannya aja udah sangar banget gitu kan ya, bala pendukungnya banyak, kekuatan besar, niat yang mumpuni untuk menguasai dunia, ditambah lagi bisa bikin para Avengers kocar-kacir nggak karuan karena Thanos akhirnya bisa mengumpulkan semua infinity stone. Pokoknya kece abis si pakde Thanos ini. 

Walau akhirnya (lagi-lagi) yang namanya tokoh jahat harus kalah, toh pembuat film ini seperti mikir keras dan kerja keras sekali untuk menemukan cara membuat Thanos kalah. Pakai segala time travel lah, pakai acara Iron Man mati dulu lah.

Tuh kan benar, para tokoh jahat ini jauh lebih keren dan hebat daripada tokoh utama nan baik hatinya. Pertanyaan baru lalu muncul: kalau mereka sehebat itu, kenapa bisa kalah ya? Kenapa nggak sekali-kali dibiarin menang saja? Sudah dibuat susah payah dengan karakteristik yang kece badai eh tetap saja kalah. 

Bahkan di beberapa film, kalahnya para tokoh jahat nan kece ini tuh kadang hanya karena beberapa hal remeh dan cemen. Seolah-olah tokoh baiknya menang hanya karena mengharapkan keajaiban. Nggak sesuai gitu sama kekerenan tokoh jahatnya. 

Dan herannya lagi, kita-kita yang sudah hafal dengan plot 'yang baik bakal menang' ini masih saja pada doyan nonton. Kenapa oh kenapa?