Desa Kanigoro dilansir merupakan desa yang sangat berkontribusi terhadap aset pembangunan negara. Karena begitu banyaknya warga dari desa itu yang berkerja di luar negeri, seperti Hongkong, Korea, dan Taiwan.  

Di Desa itulah ia lahir, ya dia adalah Immanatul Maisaroh. Tepat nya di Dusun Krajan Rt 24/ Rw 03 Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang. Ia adalah seorang gadis belia dari Ayah bernama Turiyo.

Seperti wajarnya perempuan desa, kisah macam Siti Nurbaya masih sangat melekat di desanya. Bukan keinginannya ataupun kehendak orang tuanya, tetapi hal itu merupakan keharusan baginya. Ia terpaksa putus sekolah ketika baru menginjak kelas 1 SMK karena dilamar oleh pria kaya yang usianya 12 tahun lebih tua darinya. Hari berlalu, tapi hatinya tetap tak mau terpaut kepada suaminya. Ia merasa tak pernah bahagia atas pernikahannya itu. Baru seumur jagung usianya ia pun bertekat untuk kabur dari suaminya. 

Pasca perceraian, ia merasa canggung dan malu, oleh karena itu ia memutuskan untuk pergi jauh dari kampung halamannya.  Hingga akhirnya ia mendaftarkan diri pada salah satu jasa penyalur tenaga kerja. Niat awal berangkat ke Hongkong jadi gugur karena termakan bujuk rayu sepupu majikannya untuk menjadi TKI di Amerika. 

Pada tahun 1977, ia sampai di Loss Angeles, Amerika. Hanya dengan berbekal visa wisata di tangan ia nekat pergi jauh dari negaranya. Namun untung patut diraih,  malang pantang di tolak. Nasib buruk menimpanya kala itu. Ia mendapat majikan seorang interior designer. Harapan gaji besar hanya di awang saat ia tahu paspor yang ia miliki di tahan kala itu, bahkan peluh keringatnya selama 3 tahun tidak terbayarkan. 

Ia masih 17 tahun kala itu. Tubuhnya yang mungil merintih setiap hari merasakan siksaan, tamparan, bahkan pukulan. Setiap hari tubuhnya semakin mengering karena harus menempa lebih dari 12 jam bekerja. Ah, cobaan macam apa ini Tuhan? yang ia terima hanya derita dan tangan hampa. 

Hingga pada suatu hari, ia tak tahan lagi dengan segala siksaan majikannya. Ia mengumpulkan semua keberaniannya dalam secarik kertas kecil yang ia selipkan untuk seorang penjaga bayi tetangganya. Akhirnya pohon pun berbuah manis. Berkat bantuan dari tetangganya ia berhasil kabur dari majikannya dan tinggal beberapa bulan di penampungan selayaknya gelandangan.

Disanalah seberkas cahaya datang, setelah lama tinggal, ia mulai bisa hidup layak dan bahkan belajar bahasa inggris dengan aktif di CAST, yaitu organisasi nirlaba yang aktif melawan perbudakan modern dan perdagangan manusia di Los Angeles. 

Tak sampai disana liku kehidupannya. Ia pun harus memainkan peran drama yang diskenariokan oleh pihak CAST untuk mendapatkan paspornya kembali. Betapa beruntungnya ia setelah mengetahui bahwa FBI juga terlibat dalam skenario itu. alhamdulillah Tuhan. 

Pada tahun 2000, akhirnya ia menjadi aktivis resmi CAST. Pelan tapi pasti jalan Tuhan mulai memihaknya. 

Pada tahun 2012, ia di angkat menjadi koordinator CAST,. Ia mulai tampil di atas mimbar-mimbar di Washington Dc. Bahkan ia menjabat sebagai Anggota Dewan Penasihat Perdagangan Manusia bagi Presiden Barrack Obama.

Dan puncak dari perjuangan panjangnya adalah saat ia tampil untuk pidato di Stadion Wellsfargo Philadhelphia Pennsylvina, Amerika Serikat pada tanggal 26 Juli 2016. Betapa bahagianya ia, wajahnya berseri,  senyumnya sumringah ketika menyampaikan pidato dengan tegas dan penuh semangat. Ia menyuarakan segala hal di pikirannya. Semua penonton bertepuk tangan untuknya. Hebat!  

Begitulah immanatul Maisaroh. Ia menikah lagi dengan seorang pria mexiko. Tapi belum beruntung dengan percintaannya. Ia bercerai lagi. Hingga akhirnya ia menikah dengan pria asal Jawa Barat dan di karuniai 3 orang anak. 

Begitulah immanatul Maisaroh Ibu dari 3 orang anak. Wanita pejuang. Wanita hebat. Wanita tegar. Bidadari lulusan TKI yang selalu berjuang untuk mempertahankan hak nya.