Mahasiswa
1 bulan lalu · 156 view · 4 menit baca · Cerpen 76276_37519.jpg
Photo by freestocks.org on Unsplash

Titisan Dewi Pembawa Kenangan

Aku, Dia, dan kenangan yang Menghujan

Namanya Rosa Virginiana, tapi ia hidup bukan sebagai setangkai Mawar liar. Walakin ia seorang dara dengan perawakan yang indah. Sungguh, bukan main indahnya. Kulitnya putih bersih, berambut panjang dan lurus, juga sedikit memerah. 

Ia dikaruniai lesung pipi pada sisi kiri rupanya, matanya yang sendu dan jernih membikin hati siapa saja yang memandangnya merasa damai. Wajah tirusnya yang estetis, artistik, juga elok dan berseni memancarkan kelembutan seorang dewi kahyangan. 

Namun, ada satu hal yang masih menjadi teka-teki. Hampir satu bulan aku mengenalnya di kota kecil ini. Ia terlihat lebih banyak murung manakala duduk sendirian dibawah pohon damar itu, tempat pertama kali aku bertemu dan mengenalnya.

Setiap kali aku menghampiri Rosa, dalam lamunannya yang disertai air mata, maka dengan tergesa-gesa ia akan memalingkan wajahnya membelakangiku. Kemudian mengusap air matanya dengan kedua tangannya. Setelah itu ia merapikan rambut panjangnya dan tanpa sengaja membuat leher jenjangnya kadang terlihat.

“Sungguh dia adalah titisan Dewi dari kahyangan seperti dalam mimpi-mimpiku,” tuturku dalam hati, “Besar inginku mengapus air matanya, mengukir senyum dibibirnya. Namun, aku pikir tiada guna. Ibarat menimbah air sungai dengan maksud untuk mengurasnya hingga kosong. akan tetapi tiada guna, jika pada hulunya tetap mengalir." 

Dan aku, tidak ada daya untuk menggapai mata air pada hulu itu. Terlalu lebat hutan romantika yang mesti dilalui menuju hulu air matanya yang kukira itu dicipta dari rangkaian tragedi masa lalunya. 

Aku, benar-benar tak melihat celah untuk meredam dukanya. Juga aku tak tahu menahu soal masa lalunya itu. Ah, lagi pula tiada hak pada diriku untuk tahu soal itu.

Senja mulai memerah, hampir sejam sudah aku duduk disampinya, sembari membaca sebuah edisi tetralogi buruh karya Pramoedya, walakin aku merasa segan untuk menegurnya kali ini.

Jika aku pikir-pikir, dukanya selaras dengan yang di alami oleh seorang tokoh dalam roman yang kubaca ini. Tentang Annelies (bunga penutup abad) yang cantiknya bukan main, membikin Minke takjub hingga mempersuntingnya menjadi istri.

Dalam Bumi Manusia, akhir kisahnya menceritakan perpisahan Minke Dengan Annelies. Bisa kita bayangkan, seperti halnya Minke, Annelies yang terpisah dari ibunda dan suaminya merasa terpukul sekali atas peristiwa itu.

Ya, mungkin sepedih itulah kisah yang dialami oleh Rosa Virginiana. Dan, mungkin saja dia kan mengakhiri hayatnya akibat duka abadi yang selalu menggores pipinya dengan air mata.

“Kesendirian... oh, kesendirian, sudah! cukupkan saja duka pada gadis malang ini....” tuturku dalam hati, “Ya tuhanku, tuhannya seluruh yang bernyawa. Kumohon, Cukupkan dukanya, hilangkan rasa kesendiriannya.” Kemudian hening diantara kami masih berlanjut.

Humbusan angin mulai terasa lebih sejuk, pertanda gelap akan menyelimuti kami. Ingar-bingar Azan  telah berlalu, di negara yang katanya plural ini mengakui segenap kepercayaan dalam berkehidupan, namun dalam realitanya mayoritas selalu menuntut minoritas untuk  mengalah dan menghargai sepenuhnya, tapi kadang tidak berlaku sebaliknya.

Ya, begitulah manusia jika tanpa adanya penghayatan akan rasa toleransi. Yang ada hanya di mulut saja, selebihnya adalah ingkar terhadap tindakan toleransi itu sendiri.

Untuk kesekian kalinya, Betul kata Seno Gumira Adjidarma, di dunia ini sudah terlalu banyak kata-kata, semua orang sibuk berkata-kata. Namun, realitanya kita bisa amati, aksi nyata tak berbanding lurus dengan kata-kata.

Lanjut cerita, Entah karena angin apa, hingga akhirnya Gadis ini menegur aku dengan suaranya yang masih serak “Surya, baliklah duluan, sudah malam.”

Mendengar kata-kata itu, aku sempat terdiam sejenak kemudian menanggapinya dengan hati-hati, “Aku khawatir jika meninggalkan seorang gadis di tempat seperti ini,”

Cukup  lama kami berdua kembali terdiam, kemudian aku melanjutkan, “Lagi pula, aku masi betah di sini rosa.”

“Surya, kau mau mendengar aku bercerita?”

“Tentu saja Rosa, Kenapa Tidak?”

Sembari menutup buku yang terbuka di pangkuanku, ia pun mulai merebahkan kepalanya pada bahu sebelah kiriku. Kemudian ia mulai bercerita.

Baca Juga: Sang Dewi

"Percuma aku diberi nama yang katanya indah ini. dan sekarang, aku hanya seorang gadis yang jiwanya sakit akibat kisah asmara yang dulu kujalai begitu kejam menganiaya rasa lewat seorang lelaki yang kutaksir.

Pelarian demi pelarian dari resahnya jiwa yang lama meronta telah aku jalani. Namun, kau tahu bukan? Cinta yang dulu aku tanam pada seorang lelaki yang amat aku puja ternyata membikin jiwaku tersandra, hingga akhirnya dia pergi membawa jiwaku satu-satunya itu.

Sekarang aku rasai betul rasanya hampa Surya, namun anehnya, ada gaduh yang tiada karuan dalam diriku, sesak sekali rasanya dalam dadaku ini Surya. Jika aku tahu persis letaknya gaduh itu, akan aku damaikan sendiri. Tapi, aku betul-betul kalah dalam hal ini.

...

Dan kini, aku adalah sarang amarah namun enggan tuk berkoar. Jika esok atau lusaku dia hadir dalam ingatan, aku benar-benar bingung Surya. Dengan apa lagi menghapus bayangnya, raut wajahnya begitu kuat melekat dalam fikiranku. 

Dulu, dia benar-benar pandai mengukir tawa padaku, hingga dia berhianat dengan begitu kejamnya Surya, semaunya, pergi menghilang entah kemana dengan gadis setan itu. Aaaaarrggh! (pekiknya).

...

Mungkin, dulu aku begitu sombong pada semesta. Hingga aku lupa bahwa jika semesta yang membawanya untukku, maka dengan mudah semesta mengambilnya untuk orang lain. Begitu riangnya aku waktu itu Surya, menginginkan ia abadi bersamaku. 

Hingga, aku abaikan semiotik pada wajahnya, tepat sebelum ia mulai mengucapkan kata-kata yang membikin semestaku kiamat.

Ya, kiamat yang membalikkan semestaku menjadi puing-puing yang aku pungut di sisa-sisa sanggupku ini Surya. Dan kini, bagiku, tiada esok yang lebih layak kujalani, melainkan mengutuknya dalam setiap jengkal detik yang ada pada garis waktu kedepannya yang kupunya..."    

Kemudian, isak tangis mulai lepas dari bibirnya.

Pada akhir ceritanya, sontak aku seperti terpukul. Kisah gadis ini bagaikan godam yang menghujam dadaku. Hingga memunculkan kembali kenangan yang memburai pada setiap sudut malam dalam keterbatasan pandanganku.

Teringat kembali, dulu aku pernah meninggalkan seorang gadis yang rasanya benar-benar hancur waktu itu, bisa aku pastikan lewat air matanya. Hingga kini entah bagaimana kabarnya sekarang. Apakah dia bernasib sama seperti Rosa? Ah, tanpa terasa air mataku pun mengalir seperti halnya Rosa yang bersandar di bahuku.

Dan malam itu pun menjadi saksi, tentang kenangan yang saling bersahutan dalam diam yang ada padaku dan Rosa. Pun, juga segenap tanya yang menghujani aku tentang Rosa.

Artikel Terkait