Student
2 minggu lalu · 57 view · 3 menit baca · Puisi 25912_67129.jpg
Blogspot.com

Titisan Cleopatra dan Anthony yang Malang

Pasir-pasir di gurun tak bertuan itu tau, aku dan kamu adalah titisan Cleopatra dan Anthony yang malang. Bukan karena kutukan, tapi semua tentang kita berakhir karena kita yang mengutuknya.

Sepasang gelang Merah dengan ukiran Cleopatra dan Anthony pada dadu-dadu penautnya itu pernah menikmati pagi bersama. Aku dan kamu tersenyum, lalu tertawa, dan kemudian berbagi cerita.

Kita sama-sama menghilang dari peredaran akibat persilangan tinta Merah dari musuh yang tak dikenal. Yang ku tau saat itu, aku dan kamu menghabiskan waktu seharian.

Sama halnya seperti Cleopatra, hidup di tengah-tengah gurun pasir menjadikan ku tidak punya cerita apa pun tentang hujan. Kemudian kamu hadir, hingga aku merasakan cipratan air keabadian yang membekukan pilar mahkotaku sampai sekarang ini.

Kamu tau? Kepingan zamrud kutukan yang berserakan di atas altar kesucian itu bertanya pada ku,

Zamrud kutukan : Jika saat ini kamu sudah berada di Syurga, apa yang akan kamu lakukan?

Aku : Membisikkan 22 nama ku, di telinganya.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra.. Cleopatra..

Zamrud kutukan : Sayangnya, kamu tau bahwa saat ini kamu sedang berpijak di Bumi yang fana semata bukan? Lalu apa yang akan kamu lakukan?

Aku : Menyebut 22 namanya.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Anthony.. Kemudian menggantungkannya di langit Merah Jambu, karena saat ini aku merasa tidak mampu, dan aku juga tidak tau akan aku apakan nama itu?

Lalu dimana kamu sekarang? Apakah menjelma sebagai fajar, senja, atau pekatnya malam, bersama mu aku ingin selalu terlihat bersinar.

Dan sama halnya seperti dirimu yang memilih untuk diam, aku pun bungkam, hingga akhirnya kita sama-sama tersadar, bahwa kita telah lama tenggelam dalam lembutnya ke Abu-abuan.

***

Kamsahamnida Oppa

Sudah beberapa malam menjalar, ada kilauan yang tak ku pahami maknanya, tetapi berhasil mengalihkan dunia. Mengusik sistem peredaran darah dan sesekali mengejutkan organ penting dengan detak yang tak ku percaya.

Aku tau, kilauan itu bukanlah berasal dari perak milik para Ksatria. Juga bukan berasal dari emas milik Bangsawan seperti biasanya. Kilauan itu seperti sebuah kilauan sederhana yang dibubuhi permata dengan rona Merah muda. 

Aku jatuh hati pada motif klasik yang menyelimuti tongkatnya. Dengan sepasang daun keluguan yang bersilang, dan sentuhan penuh keanggunan dari sekuntum bungan berkelopak lima. 

Ssttsss, jangan katakan pada malam, juga ada Kupu-kupu bersayap Merah muda yang hinggap disana. Ingin sekali rasanya aku tertawa, lalu bertanya pada Sang Pencipta, Tuhan, kenapa sulit bagiku untuk mengabaikannya?

Kamsahamnida,
Kamsahamnida,
Kamsahamnida Oppa.

***

Negosiasi Rasa

Ada berisik yang tak terdengar oleh mu..
Ada kegaduhan yang tak tampak oleh mu..
Ada jurang, dan itu hanya aku yang tau..

Seperti menguliti Himalaya sebelum fajar berganti pagi, aku seakan tidak punya waktu lagi.

Terlalu singkat untuk menjadikan mu nyata. Terlalu jauh untuk aku susul dengan kereta kencana.

Apa mungkin dengan berbisik saja aku bisa? 

Tiba-tiba saja, Altar itu membentang. Memberi jarak untuk sepasang jiwa yang semestinya sudah bermental karang.

Tiba-tiba saja, Dandelion itu turut berterbangan. Meski berat untuk terbawa angin, ia sepakat untuk tetap pergi dalam dingin.

Lalu tiba-tiba, Sang langit kembali tak memihak. Meski pun demikian, hamparan Bintang tetap tak lelah merakit sepasang ingatan, lalu mengabadikannya di hadapan Sang Rembulan.

Wahai malam, apakah ini yang disebut dengan negosiasi perasaan?

Mahabrata mengatakan, Mayapada menyetujuinya. Lalu Suryaloka mengikrarkan, Sanggraloka pun menyepakatinya.

Tetapi untuk apa? Apakah untuk menjadikan anak-anak manusia lainnya terkesima? Atau untuk menjawab apa yang dipertanyakan Pion Hitam dan Putih itu dalam benaknya? Memahami malam yang tak ingin kehilangan Rembulan, atau mengerti senja yang tak ingin berpisah dengan Mentari?

Menyibukkan diri seperti halnya Cleopatra dan Anthony, berpisah dalam satu perperangan yang sakti, lalu akan kah berakhir senestapa kisah yang tak bisa dipertanggung jawabkan dalam Kitab suci yang penuh ikrar janji?

Ini bukan tentang diksi, tetapi tentang Tuan Putri yang masih harus mengilhami malam, hingga esoknya pagi.

Artikel Terkait