Sangatlah sulit mencari tokoh nasional yang kiprahnya muncul dalam tiga ranah, yakni ranah politik, ranah agama dan ranah  sastra. Kalaupun kita terpaksa harus menemukan tokoh tersebut, maka sepertinya nama Buya Hamka lah yang paling tepat.

Untuk mengenal lebih jauh sosok Buya Hamka, saya terpanggil untuk menulis artikel sederhana ini disela-sela kesibukan menyelesaikan Tesis. Harapan saya semoga dapat menginspirasi sehingga di kemudian hari muncul sosok pemuda yang tangguh seperti beliau, sekaligus ini bentuk ungkapan syukur bahwa Allah SWT pernah menciptakan sosok brilian di bumi pertiwi ini untuk bisa kita pelajari dan menjadi panutan.

Seperti pepatah orang bijak, janganlah hanya mampu melihat api tanpa mendapatkan rasa hangatnya, maka sudah selayaknya kita tak hanya mengenal beliau dengan sebatas tahu nama saja, tanpa mengetahui pemikiran dan sepak terjangnya.

Tokoh dengan nama lengkap Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Buya Hamka  lahir di Sumatera Barat tahun 1908. Menurut beberapa sumber yang menyebutkan Buya Hamka sendiri murni berdarah minang.

Menyebut nama masyarakat minang, pastilah terlintas dibenak kita tentang dua hal sudah sangat populer, yang pertama tentang kulinernya yang menggoda, dan yang kedua tentang budaya merantau yang sudah turun-temurun. Namun disini saya tidak membahas lebih jauh tentang kuliner, karena terbatasnya referensi yang membahas hubungan kuliner dengan Buya Hamka. Disini saya akan membahas kisah merantaunya Buya Hamka ke tanah Jawa.

Budaya merantau sendiri sebenarnya bukanlah hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Orang-orang terdahulu pun sudah menjadikan merantau sebagai suatu tradisi wajib yang dilakukan dalam membangun perjuangan, seperti halnya yang pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, yang kemudian kita kenal dengan “Hijrah”.

Ali Syari’ati, seorang Sosiolog asal Iran mengatakan bahwa segala kesuksesan bangsa di dunia ini berawal dari Hijrah, dari Babilonia sampai Amerika. Hijrah yang kemudian dibagi  dua jenis: hijrah horisontal yang spasial atau tempat hidup, dan hijrah vertikal yakni Hijrah mental spiritual.

Kalau kita lihat lebih dalam, maka akan bertemu sebuah kesamaan antara merantau yang dilakukan oleh Buya Hamka dengan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.  Kesamaan itu terletak pada latar belakang dan tujuan. Banyak yang melatarbelakangi seseorang merantau, ada yang melakukannya karena kampung halaman terasa sangat sempit untuk jiwa dan pemikirannya, dan ada pula karena ingin terbebas dari bayang-bayang nama besar leluhur. Sedangkan tujuan dari merantau itu sendiri pada umumnya mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari yang sebelumnya.

Selama dalam masa perantauan, beliau banyak bertemu dan bersinggungan langsung pada tokoh-tokoh besar. Sederet nama tokoh yang beliau jumpai, salah satunya H.O.S Tjokroaminoto yang tak lain adalah pendiri sekaligus pimpinan Sarekat Islam (SI). SI sendiri   merupakan organisasi yang bergerak dalam urusan agama, dagang, dan politik. Sepertinya dari sinilah titik awal Buya Hamka mempelajari politik dan agama lebih dalam.

Perjuangan Buya Hamka dalam menuntut ilmu tidak tanggung-tanggung, beliau tidak hanya puas mencari ilmu di dalam negeri saja, beliau juga menuntut ilmu hingga mengantarkan langkahnya ke tanah suci Makkah. Sepulang dari tanah suci inilah Buya Hamka banyak melakukan pencerahan terhadap agama islam.

Setelah menimba ilmu dengan perjalanan yang panjang, Buya Hamka mencoba mengamalkan ilmunya dalam berbagai ranah profesi. Segala ranah beliau masuki dengan tujuan dapat membawa kebaikan dan memberikan manfaat bagi ummat manusia.

Di ranah politik, beliau dikenal sebagai politikus. Buya Hamka pernah dicalonkan Masyumi sebagai perwakilan Muhammadiyah pada pemilihan umum 1955 untuk duduk di konstituante.  Selain itu juga beliau kerap mengkritik Presien Soekarno, dan beliau juga termasuk tokoh terdepan dalam menentang pemahaman dan pengaruh komunisme.

Di ranah agama, beliau dikenal sebagai ulama. Beliau kerap mengisi pengajian-pengajian agama di media elektronik maupun ceramah langsung di mimbar masjid. Beliau mewariskan karya fenomenal berupa tafsir Al Azhar yang sekarang masih menjadi tafsir terbaik. Berdasarkan penuturan berbagai pihak,  beliau menyelesaikan tafsir tersebut saat raganya masih terkurung di dalam penjara. Tak sampai disitu, beliau lah pula yang menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama.

Di ranah sastra, beliau dikenal sastrawan terbaik dan produktif.  Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” merupakan tulisan beliau yang masih sering kita temui, bahkan tahun 2013 lalu, novel ini telah diperfilmkan. Disamping itu ada juga karya beliau yang terkenal seperti “Di bawah lindungan Ka’bah” dan masih banyak lagi karya-karya lainnya.

Akhir-akhir ini menyusul rencana gerakan aksi bela islam, Quotes Buya Hamka banyak dimunculkan kembali.  Pesan Buya Hamka yang kurang lebih mengatakan “Jika diam saat agamamu dihina, maka gantilah bajumu dengan kain kaffan” menjadi suatu cambuk yang mendalam bagi kaum muslimin, ini juga yang saya duga mampu membakar semangat peserta aksi hingga menembus jumlah yang jutaan. Quotes lainnya yang fenomenal ditelinga kita adalah “kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup, kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja”.

Seorang tokoh dengan segudang keahlian dengan setumpuk karya, itulah mungkin yang pantas saya sematkan kepada Buya Hamka. Seorang tokoh Ahli agama, ahli sastra, ahli politik, aktivis, pemimpin ormas, pendidik, jurnalis, hingga menjadi pahlawan nasional.  

Rasanya sangatlah pantas apabila Universitas Al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia memberikan gelar Doktor kepada beliau, dan Universitas Moestopo mengukuhkan beliau sebagai guru besar. Nama Buya Hamka tak hanya dikenal oleh rakyat Indonesia saja, seperti halnya warga Malaysia, Buya Hamka bukanlah nama yang asing bagi mereka. Di Indonesia sendiri namanya pun dijadikan salah satu nama kampus di Jakarta.

Demikianlah selintas gambaran sosok beliau, rasanya di zaman sekarang ini belum saya temukan sosok tangguh yang kapasitasnya setara dengan beliau. Kalaupun hari ini ada dua tokoh yang memakai nama depan Buya, seperti halnya Buya Syafi’i Ma’arif dan Buya Yahya, rasanya ini tak cukup mengobati rinduku pada sesosok Buya Hamka.