Jauh, sebelum NU dan Muhammadiyah lahir, atau HTI dan Wahhabi muncul, Rasulullah sudah meramalkan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Beliau bersabda “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.”

Lalu para sahabatnya pun bertanya; “siapakah yang selamat itu wahai Rasul?”, beliau menjawab: “yaitu orang-orang yang berpegang teguh pada sunnahku dan sahabat-sahabatku.”

Berawal dari riwayat hadits inilah kemudian muncul istilah “Ahlussunnah wal Jama’ah”, yang diklaim sebagai satu-satunya golongan selamat (al-firqah an-najiyah). Sabda Nabi di atas dianggap sebagai bentuk peresmian sekaligus penamaan bagi aliran yang bernama “Ahlussunnah wal Jama’ah ”.

Pemahaman seperti ini tentu saja berakibat pada apa yang disebut dengan “truth claim”, klaim kebenaran. Masing-masing kelompok dalam tubuh Islam mendaku sebagai kelompok yang paling benar.

Muhammad ibn Hasan at-Thusiy misalnya, –sebagaimana dikutip Imam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyah mengatakan bahwa yang dimaksud “al-firqah an-najiyah” (aliran yang selamat) dalam hadis tersebut adalah “firqah al-imamiyah” (Syi’ah Imamiyah). Imam ibnu Taimiyah sendiri –yang kerap menjadi rujukan kelompok Wahhabi- tentu juga mempunyai versi yang lain.

Betapapun, dalam perkembangan selanjutnya yang paling sukses mengklaim sebagai kelompok Ahlussunnah wal Jama’ah adalah sekte Asy’ariyah dan Maturidiyah. Ini semua membuktikan bahwa hampir semua sekte di dalam Islam mendeklarasikan diri sebagai kelompok istimewa Ahlussunnah wal Jama’ah yang dijamin masuk surga itu.

Akan lain ceritanya bila hadis tentang perpecahan umat di atas dipahami secara normatif. Artinya, teks sakral Nabi itu dianggap sebagai pesan universal pada seluruh umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh pada al-Qur’an, as-Sunnah dan sahabat-sahabat Nabi. Sebab, sesungguhnya dalam riwayat itu Rasulullah hanya menyebut “ma ana ‘alayhi wa ashabiy”, bukan “ahlussunnah wal jama’ah”.

Jadi, jelas bahwa saat itu beliau tidak sedang meresmikan nama untuk sekte tertentu. Cara pandang seperti ini tentunya terasa lebih fair. Dengan begitu, seluruh umat Islam---apa pun aliran dan kelompoknya---akan berbondong-bondong dan bersaing secara sehat menuju “Islam” yang betul-betul damai dan selamat.

Toleransi dan Persatuan

Berdasarkan data yang didapat  dari Religious Population, disebutkan bahwa jumlah pemeluk Islam pada 2012 adalah 2,1 milyar. Sedangkan jumlah pemeluk Kristen dan Protestan adalah 2 milyar. Jadi, sebetulnya saat ini Islam sudah menjadi agama terbesar pertama di dunia.

Jumlah 2,1 milyar tentu saja sangat fantastis. Jumlah sebanyak itu tentu juga punya isi kepala yang berbeda-beda. Jadi, perbedaan itu lumrah dan biasa. Meski demikian, bukan berarti tak ada jalan untuk mempertemukan.

Kenyataan bahwa Muhammadiyah dan HTI memiliki perbedaan itu betul, bahwa Wahhabi dan NU juga mempunyai pandangan yang berbeda juga benar dan bahwa keduanya memiliki perbedaan yang amat tajam adalah hal yang juga tak bisa dipungkiri. Betapapun demikian, tak berarti tak ada titik temu.

Imam-imam besar pun sudah mengajarkan pada pengikutnya untuk bisa bersikap saling toleransi dan menghormati antar mazhab atau golongan. Sejarah pernah mencatat bahwa suatu ketika imam Syafi’i berkunjung ke kediaman imam Malik yang tak lain adalah gurunya sendiri. Saat itu imam Malik memberi kehormatan kepada imam Syafi’i untuk menjadi imam salat Subuh.

Dalam salat tersebut imam Syafi’i tidak membaca doa qunut dengan alasan di belakang ada makmum (imam Malik) yang anti qunut. Kisah lainnya berasal dari dua tokoh nasional, Buya Hamka dan KH. Abdullah Syafi’i. Diceritakan bahwa suatu ketika KH. Abdullah Syafi’i didaulat oleh Buya Hamka untuk menjadi khatib shalat Jum’at di masjid al-Azhar yang biasa mengumandangkan adzan satu kali.

Tetapi, pada saat itu adzan ternyata dilakukan dua kali sebab menghormati sang khatib. Sikap tokoh-tokoh seperti inilah yang harus diteladani. Sikap para pemberani yang menempatkan etika di atas fiqh dan perbedaan.

Terakhir, bahwa untuk dapat menemukan titik temu memang harus dicari persamaannya. Dalam hal ini, titik kesamaan berada pada dogma utama agama. Mereka yang bukan saudara dalam mazhab adalah saudara dalam iman. Mereka yang bukan saudara dalam hal keimanan adalah saudara dalam konteks kemanusiaan. Dus, tak ada lagi alasan untuk tidak saling bertemu dan bersatu.

Jika tetap bersikeras menampilkan perbedaan lalu saling memojokkan, maka yang ada hanya semakin memperkeruh suasana, dan semboyan “wihdatul ummah” (persatuan umat) yang menjadi cita-cita bersama tentu akan berhenti pada tataran wacana saja. Wallahu a’lam