Masyarakat urban dalam pengertian umum, merupakan sekumpulan manusia atau orang dari latar belakang yang berbeda. Perbedaannya macam-macam, perbedaan suku, etnis, agama dan pendidikan formalnya. Kemudian, mereka berkumpul dalam suatu wilayah (perkotaan atau sejenisnya).

Memang ada yang menyebut masyarakat urban dengan sebutan hanya dilingkungan perkotaan (urban community) dan sering dibandingkan dengan masyarakat perdesaan (rural community).

Namun, saya menyebutnya masyarakat perumahan dan perkampungan, saya tidak menyebutnya masyarakat perdesaan, karena wilayah Pamulang (tempat penelitian ini) sudah cukup modern, yang dimaksud masyarakat perkampungan lebih kepada kebiasaan tradisional dan pemikiran yang semi-konservatif. Misalnya, cara hidup yang bergotong royong, berkumpul dalam tradisi keagamaan maupun sejenisnya.

Sedangkan masyarakat perumahan, lebih pada sikap individualitasnya. Bukan berarti mereka tidak mempunyai solidaritas, namun mayoritas lebih memilih hidup secara individual. Tetapi, saya tidak dapat menyamaratakan semuanya, ada juga masyarakat perumahan yang tidak individualis.

Dengan perbedaan yang beraneka ragam itu, akan membentuk pendidikan lingkungan sosial dan budaya yang baru. Apa pendidikan budaya baru tersebut, bagaimana budaya baru tersebut dapat terbentuk, mengapa dapat terjadi?

Dalam disiplin ilmu filsafat, kita akan menemui teori sebab-akibat. Sebab adanya budaya baru, karena ada suatu titik atau tempat yang mendasari, akibatnya kedua kelompok dapat bertemu. Lalu, di mana titik pusat bertemunya kedua kelompok tersebut?

Titik Pusat

Titik pusat pertemuan mereka ada di musala. Musala itu tempat saya tinggal dan saya sudah mengamati secara detail setiap interaksi. Letak geografis musala ini berada ditengah-tengah masyarakat perumahan dan perkampungan yang menjadi daya tarik tersendiri untuk saya.

Keunikan tersebut, yang menjadi adanya pendidikan budaya baru. Budaya dapat berarti kehidupan sosial atau nilai-nilai etis yang berakar dengan sendirinya, walaupun perbedaan pendapat tetap ada.

Dalam konteks perbedaan pendapat, misalnya kebijakan pemerintah tentang penutupan rumah ibadah di awal penyebaran COVID-19 di Indonesia, menimbulkan polemik antara dua kelompok masyarakat itu.

Masyarakat perkampungan, sebagian menolak dengan alasan keimanan dan masyarakat perumahan mendukung dengan alasan demi kebaikan bersama.

Kontradiksi pendapat tidak dapat dihindari dalam suatu persoalan sensitif, seperti ritual keagamaan. Namun, melonjaknya kasus COVID-19 pada bulan Maret-April memaksa pengurus musala menutup sementara tempat ibadah secara sepihak (mayoritas pengurus adalah warga perumahan) dan memberhentikan kegiatan yang bersifat komunal.

Saya sebagai marbot yang tinggal dan menetap di musala tersebut, mendengarkan pendapat dari kedua pihak. Jika ditanya saya setuju dengan pendapat yang mana, saya menjawab “pendapat yang lebih mengutamakan kemanusiaan”.

Masyarakat perumahan memang beragam tingkah laku beragamanya, hanya saja lebih dominan pada tingkah laku yang moderat. Prinsip moderasi atau modernisasi menurut Lukman Hakim, ialah yang mengutamakan keadilan dan keseimbangan. 

Bukan agama yang di moderasi, namun cara seseorang dalam beragama harus didorong jalan tengah agar tidak tumbuh sikap fanatisme agama.

Tetapi, seiringan dengan berjalannya waktu dan kerja sama dari berbagai pihak, situasi bulan Oktober-Desember 2021 dapat dibilang sudah cukup kondusif. Berbagai kegiatan warga sudah mulai dilaksanakan kembali dan tetap konsisten menerapkan protokol kesehatan.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah pengajian keliling. Setiap Rukun Tetangga (RT) setempat akan kebagian jadwal menjadi tuan rumah. Musala ini juga menjadi tempat temu dan interaksi masyarakat urban.

Pendidikan Budaya Baru

Pendidikan dalam kerangka pemikiran saya, tidak terpaku pada sistem-sistem yang sudah ada, seperti sekolah maupun universitas, namun pada lingkungan sosial masyarakat yang berdasarkan pada budaya setempat.

Pendidikan budaya baru yang dimaksudkan, lebih mengarah pada nilai-nilai sosial di tengah perbedaan yang cukup banyak. Pada hal ini, di lingkungan masyarakat urban.

Siapakah sosok yang menjadi terciptanya budaya baru ini dimasyarakat urban? Jawabannya ialah semua masyarakat urban yang melawan sikap individualisme dan egoisme dalam bersosial.

Yang mana di era digitalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan sikap individualisme semakin terlihat, mau tidak mau kita harus menciptakan suatu budaya baru yang dapat menangkal itu. Sampai detik ini, berkumpul atau berinteraksi secara langsung, tidak dapat tergantikan oleh teknologi.

Walaupun teknologi sudah membuat inovasi untuk berinteraksi dengan mudah secara online via aplikasi, namun tidak menjadikan hubungan lebih akrab, justru sering kali menjauhkan yang dekat. Misalnya bermain handphone saat sedang berbicara langsung dengan orang lain.

Masyarakat urban yang merasakan fenomena tersebut, mencoba menata ulang hubungan sosial yang sudah hilang sejak pandemi awal hingga pertengahan. Karena pembatasan mobilitas sosial dan larangan berkumpul di segala bentuk kegiatan.

Faktor itulah yang menjadi sebab munculnya budaya baru pasca pandemi nanti. Misalnya, penerapan hidup sehat seperti cuci tangan untuk menghindari bakteri dan memakai masker untuk menjaga pernapasan dari polusi udara yang lebih beracun daripada COVID-19.

Selain itu, kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan mulai di tata lagi secara perlahan. Dampak dari itu ialah kesenjangan sosial-keagamaan mulai meredam. Yang melandasi itu semua salah satunya ada ruang dialog melalui kegiatan-kegiatan sosial maupun kegiatan keagamaan.

Kegiatan-kegiatan sosial yang diadakan untuk memperkuat hubungan sosial pasca pandemi ini, diantaranya mungkin sapa tetangga atau melakukan kumpul sederhana seperti bakar-bakar ikan dan ayam yang dipelopori oleh Pak RT setempat, ini secara tidak langsung berdampak untuk meningkatkan keakraban yang sudah lama tidak berkumpul dikarenakan pandemi.

Selain itu, skala yang lebih besar yang sudah saya sampaikan sebelumnya yaitu, “Pengajian Keliling” yang dipelopori oleh pengurus Rukun Warga (RW).

Kegiatan-kegiatan yang di desain secara sederhana, namun berdampak tidak sederhana. Dengan adanya kegiatan tersebut, terjadi dialog antar warga, dari yang sudah kenal sebelumnya sampai yang belum dikenal.

Semua saling menyapa dan berinteraksi dengan cukup akrab. Terlihat tawa dan canda antar bapak-bapak maupun ibu-ibu, setelah pengajian berlangsung, namun sayangnya saya tidak sempat mendokumentasikannya.

Selain itu, ada pengajian khusus anak-anak yang sudah lama tidak dilakukan, mungkin sudah dua tahun diliburkan. Kini mulai dilaksanakan lagi.

Semua berperan dalam memperbaiki kondisi pasca pandemi ini. Misalnya dilingkungan sekitar kita, ternyata banyak sekali orang yang berperan sebagai superhero dikondisi pandemi COVID-19. Superhero dalam bidang pendidikan, budaya dan sosial keagamaan.

Harapan saya, budaya baru ini harus tetap ada, guna menjaga kita dari virus-virus lainnya yang kita tidak ketahui, menjadi lebih sehat. Dalam hubungan sosial, kita harus selalu #MeyakiniMenghargai apapun perbedaan dalam lingkungan kita.