Di atas ketinggian sekira 2000 mdpl berjajar ancala indah nan memesona. Berdiri tegak seperti benteng-benteng dalam roman peperangan abad ke-19. Di tempat sejuk itu ternyata menyimpan jejak kemelud peristiwa bersejarah.

Dahulu wilayah tersebut menjadi basis pertahanan prajurit Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Namun akibat keberadaan pos pertahanan tersebut diketahui oleh Belanda. Maka, prajurit Diponegoro dan pribumi memutuskan pergi dengan membiarkan pos tersebut menjadi kosong. Tak ayal jika lokasi tersebut dikenal dengan nama Posong, yang memiliki arti “Pos Kosong.”

Meskipun pada akhirnya Pangeran Diponegoro bersama pasukannya harus menemui kegagalan. Perjuangan yang dilakukan sangat mengesankan dan membanggakan. Terlebih beliau berani mempertaruhkan kehidupan mewah sebagai anak raja, dan memilih berjuang bersama rakyat untuk menghilangkan penindasan dan pengkhianatan oleh penjajah.

Penulis tidak ingin lebih jauh menceritakan peristiwa sejarah tersebut, karena keterbatasan wawasan dan pengetahuan yang dimiliki. Namun, saat mendengar peristiwa tersebut, penulis merasa mendapat pembenaran terhadap ucapan filsuf legendaris: akan tetapi hidupnya berakhir tragis.

Hak untuk hidup yang dimilikinya harus dipersingkat dengan meminum hemlock sebagai hukuman. Atas tuduhan hasutan dan ujaran kebencian beliau didakwa bersalah. Walaupun terdapat manipulasi saat pengambilan keputusan, beliau tetap kukuh melaksanakannya—demi menjaga marwah kebenaran etika dan moral.

Pria tersebut adalah Socrates, dikenal sebagai orang yang sangat sederhana, gemar berkeliling tanpa alas kaki untuk sekadar mendatangi masyarakat Athena—dengan tujuan mengajak diskusi seputar filsafat.

Berawal dari satu premis yang kali pertama dinyatakan oleh Socrates (470-399 SM), bahwa kehidupan yang tidak diuji adalah kehidupan yang tidak berharga. Sehingga, manusia harus siap menerima segala konsekuensi dalam menjalani setiap ujian hidup agar dapat menjadi bernilai.

Keberanian Hidup

Hidup bagi Socrates merupakan pilihan untuk berani menentukan serta menjalankannya. Hidup manusia harus tetap berada dijalur kebajikan moral dan etika, meskipun harus berhadapan dengan jalan yang berseberangan dengan mayoritas atau “melawan arus.”

Prioritas hidup bukan terletak pada kemewahan, pemuasan nafsu jasadi, bersenang-senang atau segala sesuatu yang dapat hilang secara sekejap. Akan tetapi preferensi dalam mengarungi behtera kehidupan adalah dengan mengutamakan kebenaran, melakukan kebajikan, serta bertumpu pada pemikiran dan pengetahuan.

Idealisme hidup yang didambakan Socrates untuk diimplementasikan manusia secara universal, nampaknya sudah hilang—terbang terbawa badai. Manusia kontemporer lebih tertarik dan berambisi memiliki kekayaan dan memeroleh kemapanan hidup dengan menggunakan cara tercala.

Sebenarnya sifat manusia kontemporer ini sudah ada sejak dulu. Tak terkecuali di zaman Socrates. Golongan tersebut disebut kaum Sofis. Mereka tidak percaya dengan kebaradaan kebenaran dan kebijakan secara absolut. Karena, kebenaran dan kebajikan bagi kaum Sofis dapat berubah sewaktu-waktu dan tidak akan menemukan titik akhir.

Sepertinya Kaum Sofis sudah menjadi panutan bagi manusia kontemporer saat ini. Dengan mengagungkan kemahiran dalam beretorika, mereka berhasil menutupi kebohongan demi melancarkan kepentingan pribadi belaka.

Ironisnya masyarakat seakan terhipnosis tanpa usaha mencari kebenaran lebih mendalam. Sehingga mereka terjebak dalam rutinitas perjalanan hidup monoton dan tidak teruji sama sekali.

Tidak bisa dimungkiri, di tengah arus post-truth ini kebaradaan kebenaran, kebajikan, dan keutamaan universal dalam kehidupan menjadi sangat relatif. Hal tersebut didasarkan oleh situasi dan kondisi, serta strategi apa yang telah dan sedang dijalankan.

Kebenaran dan Keraguan 

Kebenaran dan kebohongan merupakan sesuatu yang nisbi. Terkadang kebenaran tidak selalu disertai dengan keyakinan, bahkan kebohongan juga tidak serta merta bebarengan dengan perasaan ragu. Sebaliknya, keduanya dapat saja diliputi rasa yang berbeda.

Namun, apabila kita mengetahui kebenaran yang tidak sesuai dengan sebelumnya, tentu tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi perubahan tatanan kehidupan; baik sacara gradual atau radikal. Konflik dan pertumpahan darah sudah pasti akan membersamainya.

Seperti tragedi akibat teori penemuan Nicholaus Copernicus. Beliau membuktikan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari dengan aksisnya sendiri, bersama planet-planet lainnya. Sehingga, teori tersebut berhasil mengalahkan teori geosentris milik Ptolemeus.

Dengan adanya teori tersebut justru memicu revolusi pemikiran masyarakat secara radikal. Teori tersebut dianggap oleh gereja sebagai bentuk pembangkangan, karena bertentangan dengan doktrin gereja bahwa penciptaan bumi oleh surga adalah sebagai pusat semesta. Maka, tanggapan gereja terhadap teori heliosentris sangat keras.

Para ilmuwan pendukung teori heliosentris dikucilkan oleh gereja bahkan dikutuk masuk neraka abadi. Pembunuhan brutal pun terjadi dengan dalih bahwa mereka yang menerima teori heliosentris merupakan penganut ateis.

Termasuk Galileo, beliau sangat mendukung teori Copernicus dan menolak teori Ptolemous. Dukungan atas teori tersebut ditulis dalam karya berjudul Dialogue Concerning the Two Chief System of the World. Akibat perbuatannya tersebut, Galileo dihukum seumur hidup dalam tahanan rumah.

Berbeda hal dengan sikap yang diambil oleh Descartes. Beliau ikut andil dalam mendukung hipotesis Copernicus dalam karya astronominya yang berjudul Treastis of The World pada tahun 1622Akan tetapi enggan untuk mempublikasikannya dan lebih memilih menunda penyampaian kebenaran tersebut.

Descartes berkata: “Tidaklah bijaksana mengorbankan satu nyawa jika masih bisa menyelamatkan nyawa sendiri tanpa celaan.” Kemudian, muncul pertanyaan seputar penundaan tersebut didasarkan atas kebaikan atau kepura-puraan? Beliau kembali mengatakan: “Aku harus menemukan cara untuk mengatakan kebenaran tanpa mengejutkan imajinasi seseorang atau mengagetkan opini yang biasa diterima.”

Descartes memang terkenal sebagai sesorang yang skeptis dan memiliki pemikiran jauh ke depan. Tak ayal jika beliau dijuluki sebagai bapak filsafat modern, pendapatnya yang revolusioner adalah semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang berpikir. Maka, munculah rumusan cogito ergo sum (Aku berpikir maka aku ada).

Titik Puncak 

Lantas, bagaimana mendapat serta menentukan kebenaran? Apakah kebenaran dan kebohongan adalah sesuatu yang sama di waktu berbeda? Atau mengapa kebenaran menjadi pionir untuk menuntun kebajikan hidup? Meskipun semuanya dapat dijawab oleh pendapat masing-masing, namun tetap saja: Segalanya patut diragukan untuk dapat diyakini!

Kebenaran akan tetap menjadi benar. Sejarah sudah membuktikan melalui perjuangan Pangeran Diponegoro yang harus menjalani hukuman; Socrates dipaksa mempersingkat hidupnya dengan meminum racun; Galileo dan pengikut teori heliosentris yang berhadapan dengan hukuman gereja; atau memilih moderat seperti Descartes yang melawan arus secara senyap namun, tetap pada pencarian kebenaran.

Mereka telah menguji hidup untuk dapat menjadi bernilai. Tidak hanya mengikuti kemauan mayoritas yang cenderung mementingkan kehidupan pribadi masing-masing. Namun, memberikan tauladan bahwa kebenaran, kebajikan, moral, dan keutamaan universal merupakan sesuatu yang nyata dan harus diperjuangkan.

Referensi :

Lavine T.Z. 1948. From Socrates too Sartre; the Philosophy Quest. Iswanto, Andi dan Deddy Andrian Utama. Immortal Publishing dan Octupus: Yogyakarta, Indonesia.

Faiz, Fahrudin. 2020. Filosof Juga Manusia . MJS Press: Yogyakarta, Indonesia.