Kepada kamu yang hingga hari ini masih menjadi muara rinduku. Aku tak tahu, dengan cara apalagi aku harus mengutarakan kasih yang hingga hari ini masih kurawat jernih. 

Aku tak kuasa menolak rasayang kadarnya hampir menua. Aku bahkan terlampau sekarat memendam rindu yang tak pernah jemu bertamu. Itu semua, kamulah tuannya.

Sudah lebih dari empat kali pergantian siklus musim aku dan perasaanku tak bersuara. Sifatku yang tertutup mendorongku untuk bersikap acuh tak acuh. 

Namun, semakin dilawan malah semakin memberontak. Makin dipendam malah makin berpotensi meledak. Iya, rasa ini sama saja halnya dengan vulkanisme.

Aku sudah malakukan konsep melawan lupa seperti yang kebanyakan orang-orang yang sama tragisnya dengan kulakukan. Tetap saja wujudmu makin deras dalam ingatan. Aku juga sudah memaksimalkan diri untuk bermeditasi, malakukan praktisi pemulihan batin serta terapi energi. Namun, tetap saja namamu terpatri rapi di hati.

Tak ingin dicap pengecut oleh logika sendiri, aku lantas mengutarakan apa yang yang selama ini tertahan. 

Ketahuilah bahwa aku sudah mempelajari aneka jenis rasa malu dan mengumpulkan ribuan keberanian hanya untuk memaksimalkan usaha dalam merealisasikan momen beberapa detik yang bagiku akan berlangsung seumur hidup dalam ingatan. Tak ada basalan. Kamu benar-benar tak tergoyah dalam hal tak mau berbelas kasihan. Aku bersyukur dan juga bersedih dalam waktu yang bersamaan. 

Iya, aku bersyukur karena estimasiku yang berujung malu sudah kusiapkan dengan begitu matang. Sementara kesedihan menyusul setelahnya. Bukan sebentar, tak berkesudahan.

Kamu memang tipe orang yang teguh dalam pendirian. Sikapmu yang acuh tak acuh jika sudah tak mau tahu akan suatu hal yang tak kau suka membuat kagumku makin menjadi-jadi. Itu pula yang membuat harapku lumpuh seketika. Diammu sudah cukup memporak-porandakan kokohnya fondasi rasa yang selama ini kubangun kuat.

Hingga aku tiba pada sebuah rasa sadar. Sadar bahwa aku memang terlalu tinggi berkhayal. Aku terlalu melampaui akal sehatku. Aku sudah berprasangka yang tidak-tidak tentang hatimu yang sebenarnya tak pernah ada aku di dalamnya. Ambisiku telah menjebakku begitu dalam hingga berujung hinaan dan penyesalan.

Aku terlalu lembek dalam hal luluh. Sedikit saja kamu beri perhatian, aku sudah rapuh. Padahal, kamu sama sekali tak bermaksud lebih, hanya menghormati orang-orang baik yang memang perlu diberi belas kasih. 

Dan itu kamu lakukan kepada siapa saja yang kamu anggap memiliki perangai baik, termasuk aku dan bukan hanya aku.

Selama ini kamu memang tak bisa memberi kepastian lewat ucapan, jadi kusimpulkan saja dari sikap yang kamu tampilkan. 

Kini aku sadar, kadang lebih baik menyakiti diri sendiri dengan tidak memilikimu sama sekali. Daripada berbahagia karena telah mengutarakan rasa suka, namun hanya berbuah jarak dan penolakan pada akhirnya.

Aku sudah berhenti mengenal apa itu harap. Demi apa pun itu. Segala yang terjadi pada hidup beserta diriku ke depan hari, adalah sebaik-baik cara Tuhan mengasihiku. Aku biarkan semesta bekerja untukku.

Pada titik jenuh, firasatku tumbuh. Sayangnya, baru-baru ini aku bisa memahaminya. Padahal, hal tersebut adalah sebuah teori dasar yang telah lama aku pelajari dalam ilmu sains tentang keterkaitan antara manusia dengan alam. Saat masih satu kelas denganmu. Saat pertama kali aku mencintaimu.

Pada titik jenuh, firasatku tumbuh. Enam tahun yang lalu, aku telah mencintaimu secara lahir dan batin. Memberimu bahagia melebihi definisi bahagia itu sendiri. Dan pada titik jenuh, aku berhenti mencintaimu. Dalam kurun waktu setengah lusin tahun, aku terbebani secara fikiran dan mental.

Pada waktu yang begitu sakral, di titik alfa pikiran, aku memutuskan untuk berhenti berharap. Hal ini sudah aku rundingkan dengan alam. Dengan mengambil keputusan yang sebaik-baiknya, berdasar pada alam bawah sadar, aku menyerah.

Ini bukan salahmu. Aku saja yang mengada-ada, tak terima kenyataan bahwa kau memang tak bisa dipaksa, atau terpaksa. Aku lantas menyalah-nyalahkan keadaan, padahal itu sama sekali tak pula menjadikan diriku benar. 

Kau tak salah, aku menyikapi wajar pada sikapmu yang berubah dingin di akhir-akhir masa ada kita.

Mungkin karena aku yang tak mampu menjaga rasaku tetap asri. Dan ketika apa-apa yang aku pendam purna, meledaklah! Tercerai berai! Musthahil disatukan dari kepingan. Kalau pun nanti kau lebih dahulu menemukan pengganti, sedangkan aku masih sibuk mengobati hati, itu juga bukan salahmu.

Kau layak dicintai banyak orang. Perangaimu pantas membuat orang banyak jatuh cinta. Aku sudah terlalu lelah memarahi kondisi. Kau pun sepertinya sudah muak meladeni. Hanya maaf, karena terlalu lama sadar, hingga terlanjur banyak menguras energi.

Kita hanya dua orang yang sama-sama menyerah. Terlepas dari siapa yang lebih dahulu menyerah, salah satunya tak akan mampu bertahan sendirian. Hingga akhirnya menyerah juga. 

Ingatanku yang panjang akan selalu menjangkaumu, ketika lenganku yang pendek tak pernah mampu memelukmu. Hal-hal baik darimu akan kukenang. Semoga kau juga.

Teruntuk diriku. Terima kasih sudah mau berjuang dan bertahan hingga hari ini. Maaf, aku masih belum bisa berdamai dengan diri sendiri. Dan pada titik jenuh, aku tak mampu bertahan. Aku relakan semesta bekerja untukku.