Membicarakan manusia, tidak akan ada habisnya. Sebab manusia selalu bergerak menuju suatu titik peradaban yang terus bergerak. Manusia sebagai homo sapiens (meminjam kata Harari) memiliki sifat yang individualistic dan egosentris

Perkembangan ilmu pengetahuan menjadikan manusia, sebagai makhluk yang buas dalam balutan makhluk yang paling mulia dalam perspektif agama. tanpa kita sadari, kehebatan pengetahuan yang di miliki oleh manusia membawa kepada naluri untuk saling mengeksploitasi hidup manusia lainnya.

Dalam banyak teori sosial, yang menjelaskan manusia secara konfrehensif yang di ukur dari pola tingkah lakunya, manusia merupakan makhluk yang tidak bisa hidup sendirian. Dengan kata lain manusia sangat membutuhkan sesuatu hal untuk tempat bergantung (makhluk sosial). 

Dalam perspektif sosial, manusia seyogyanya menjadi makhluk yang terbaik, saling bahu-membahu, bergotong-royong dan sebagainya. Begitu pun dalam perspektif agama, manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (wakil Allah di bumi) untuk mengatur segala sesuatu yang ada di bumi ini.

Perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu massif, teknologi yang sudah tidak bisa terbendung lagi, menjadikan manusia menemukan titik balik peradaban manusia yang kacau balau. 

Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Fritjop Capra seorang filsuf barat yang mengatakan kekacauan bumi hari ini disebabkan titik balik peradaban manusia yang telah menyalahgunakan pengetahuan untuk menghabisi peradaban umat manusia.

Hilangnya keseimbangan hidup manusia, disebabkan pemahaman manusia terhadap alam semesta tidak dipahami secara menyeluruh. 

Jika meminjam konsep filosofi hidup orang China, maka kita akan menemukan konsep keseimbangan hidup yang disebut Yin dan Yang keduanya merupakan konsep hidup secara filosofi di China. 

Dimana Yin menjadi penyeimbang dari Yang untuk menghasilkan kualitas kehidupan yang baik. Yin dapat diartikan sebagai kehidupan yang mengikuti tata kehidupan yang telah di gariskan oleh leluhur ataupun Tuhan dalam China, sedangkan yang kebalikan dari yin yang tentunya banyak menghadirkan keburukan dalam hidup.

Kata Fritjop Capra manusia saat ini, sedang memerankan konsep kehidupan yang. Konsep kehidupan yang kemudian disebut sebagai kehidupan agresif banyak menuntut dan sebagainya. 

Jika dihubungkan dalam Islam maka manusia saat ini sedang memerankan gen Qabil sebagai manusia pertama yang melakukan pembunuhan kepada saudaranya yaitu Habil. 

Walaupun demikian kejadian tersebut di hubungkan dengan gen Qabil yang menjadi perusak tatanan dari kehidupan umat manusia. Jadi, gen qabil dan kehidupan yang dalam China saat ini sedang di praktikkan dalam kehidupan manusia.

Manusia Sebagai Makhluk Berpikir

Manusia yang dibekali otak tentunya menjadi kesempurnaan penciptaannya. Dengan otak tersebut, bisa digunakan untuk melakukan perbuatan buruk dan baik. Penggunaan otak atau akal sangatlah penting untuk menjadi bahan perbincangan. 

Jika melihat realitas banyaknya persoalan hari ini, semua dilakukan oleh orang-orang yang mempergunakan akalnya dengan baik. Orang mampu mengetahui sesuatu hal, tentunya ia menggunakan otaknya dengan baik untuk berpikir. 

Majunya teknologi, rusaknya alam raya, eksploitasi dan sebagainya, mereka semua merupakan manusia yang tentunya menggunakan otak dan akalnya dengan baik. Hanya saja otak atau akal itu tidak, di damping dengan hati sebagai pengontrol dari akal tersebut.

Masalah kehidupan saat ini semakin parah, hal itu terbukti dengan dilakukannya kegiatan COP 26 atau Conference of the Parties (pertemuan para pihak) yang membicarakan tentang cara menanggulangi isu perubahan iklim global. 

Hal ini semakin menghawatirkan karena adanya peningkatan suhu bumi yang semakin panas akibat perubahan iklim dunia. 

Menurut lembaga swadaya masyarakat yang konsen pada pemerhati lingkungan, Greenpeace mengemukakan apa yang menjadi laporan pemerintah Indonesia di pertemuan tersebut tidak sesuai dengan realitas yang terjadi di lapangan. 

Justru masih banyak ketimpangan lingkungan yang di lakukan oleh korporasi. Justru kegiatan COP 26 terlihat seperti formalitas saja yang dilakukan.

Tentunya hal ini akan terjadi, jika adanya kesadaran seluruh manusia untuk tidak berlebihan dalam mengeksploitasi hutan, menebang pohon yang tidak dibarengi dengan kegiatan konservasi hutan dan sebagainya.

Persoalan yang ada saat ini, tentunya tidak terjadi dengan begitu saja pasti ada perencanaan yang begitu matang untuk melakukan hal demikian. Korupsi, merusak alam, dan sebagainya semua itu dilakukan secara sadar dan terorganisir. 

Sehingga menurut Ibnu Qayyim Al Jauziah pengetahuan seharusnya berasal dari hati. Hati yang menggerakkan otak untuk berpikir demikian. Hati menjadi pengontrol perilaku otak, sebab jika hatinya sudah baik pasti otaknya juga ikut baik. 

Namun realitasnya penggunaan hati tersebut tidak menjadi penting. Yang terpenting adalah bagaimana menghasilkan keuntungan dari itu semua. Sehingga manusia harus benar-benar memikirkan dampak yang berkepanjangan akibat dari penggunaan akal yang tidak dikontrol oleh hati. 

Selain itu manusia yang berpikir harus menghadirkan keseimbangan kehidupan di muka bumi, menghubungkan yin dan yang, serta menggunakan gen Habil yang dalam kehidupan ini. Sehingga kita akan mendapatkan keseimbangan hidup yang terarah.