Penggila Bola
4 minggu lalu · 116 view · 7 min baca · Olahraga 41603_83446.jpg
AP News

Tite dan Fondasi Kejayaan Brazil

Mimpi Brazil bersinar di Piala Dunia 2018 sirna. Lajunya terhenti di babak perempat final akibat gagal menaklukkan Belgia. Tim favorit juara itu harus menelan pil pahit. Tiket masuk ke semifinal dicaplok Belgia yang sukses mengantongi kemenangan 2-1.

Meskipun Brazil harus angkat koper, saya terobati dengan kinerja Adenor Leonardo Bacchi mengarsiteki tim Samba. Pelatih dengan panggilan akrab Tite ini berhasil membangun kembali fondasi kejayaan timnas Brazil yang porak-poranda pasca tragedi Mineirazo. Tragedi Mineirazo tidak lain adalah hujan tangis suporter tuan rumah yang menggenangi Stadion Mineirao.

Di depan publiknya sendiri, gawang yang dijaga Julio Cesar kebobolan lebih dari setengah lusin. Melakoni partai semifinal Piala Dunia 2014, Selecao dibantai Jerman dengan skor telak 7-1. Kekalahan memalukan ini merupakan rekor terburuk sepanjang sejarah sepak bola brazil.

Tragedi Mineirazo seolah tidak bisa ditebus dengan lima tropi Piala Dunia yang dikoleksi tim Samba. Inilah tragedi yang dalam taraf akut sampai merusak fondasi kejayaan Brazil sebagai tim adidaya. 

Dua tahun usai Piala Dunia 2014, punggawa Samba belum bisa bangkit. Mereka kembali terpuruk dalam keikusertaannya menjadi kontestan di ajang Copa America Centenario 2016. Tergabung dalam grup ringan bersama Peru, Ekuador, dan Haiti, Brazil cuma menempati peringkat ketiga dan gagal melaju ke perempat final.

Membangun Fondasi

Adenor Leonardo Bacchi secara resmi diperkenalkan sebagai nakhoda baru tim nasional Brazil pada 20 Juni 2016. Teka-teki siapa suksesor Dunga akhirya terjawab setelah Tite membubuhkan tanda tangan kontrak yang disodorkan Federasi Sepakbola Brazil (CBF).

Menerima pinangan CBF, Tite berpikir keras dari mana harus memulai membenahi tim Samba yang sudah telanjur melaju di jalur yang salah. 


Pria kelahiran 25 Mei 1961 ini memiliki keyakinan kuat bahwa sektor belakang merupakan titik utama kelemahan Brazil. Lini pertahanan tidak boleh dibiarkan menjadi lubang menganga sehingga arus serangan masuk dengan mudah.

Tite tidak mau main-main dengan taktik pertahanan yang diusungnya. Organisasi pasukan belakang Brazil harus terstruktur dengan rapi. Sehebat apa pun lini pertahanan, area ini memang tidak akan steril dari serangan. Tapi bagi Tite, anak asuhnya harus sanggup menutup celah sekecil apa pun dari peluang lawan menyarangkan gol.

Saya menilai, konsentrasi penuh membenahi sektor belakang ini merupakan langkah sang pelatih membangun kembali  kejayaan timnas Brazil. Dia tidak ingin lagi menyaksikan Brazil jadi bulan-bulanan kubu lawan sebagaimana tersaji dalam semifinal Piala Dunia 2014. 

Kekalahan memalukan 7-1 dari Jerman menandakan betapa bobroknya Selecao dalam bertahan.

Dia juga tidak mau mewarisi gaya kepelatihan Dunga yang mendapat rapor merah di ajang Copa America Centenario 2016 dan mencatat hasil mengecewakan di laga-laga awal kualifikasi Piala Dunia 2018. Gawang Brazil terlalu mudah dibobol, bahkan oleh lawan tidak sepadan sekalipun. 

Ini sebuah pertanda Dunga tidak bisa mengatasi problem krusial yang melilit lini pertahanan. Terpuruknya skuad besutan Dunga makin mempertebal keyakinan Tite bahwa untuk membangun kembali fondasi kejayaan tim Samba harus dimulai dari bawah, dari membangun struktur pertahanan yang kuat dan terorganisasi.

Kesimpulan itu terbukti menjadi resep taktikal yang mujarab. Brazil yang sempat terseok-seok di pra-Piala Dunia 2018 bisa melejit dengan cepat. Brazil bahkan menjadi negara pertama yang lolos dan berhak meraih tiket ke Rusia. Trend positif yang menaungi tim raksasa dunia ini terus berlanjut hingga ke pentas Piala Dunia 2018.

Brazil sukses bertengger sebagai pemuncak klasemen Grup E dan memastikan langkah ke perempat final setelah menumbangkan Meksiko. Lajunya kemudian dihentikan Belgia. 

Anak asuh Tite tunduk 2-1 dari generasi emas Belgia, dan ini sekaligus menghadirkan kekalahan perdana bagi Brazil. Dari 21 pertandingan di semua ajang, mereka cuma menelan satu kekalahan dan imbang tiga kali.

Ketika ambisi tim Samba menembus semifinal kandas, saya harap-harap cemas dengan masa depan Tite. Apakah pria berusia 58 ini akan tetap menduduki takhta kepelatihan atau nasibnya akan dilengserkan? 

Kenapa harap-harap cemas? Karena ada dua alasan untuk mendepak Tite.

Pertama, capaian prestasi Tite tidak lebih mentereng dari torehan Luiz Felipe Scolari. Di perhelatan akbar Piala Dunia 2014, Scolari berhasil mengantarkan Brazil lolos ke semifinal. Sementara pada ajang yang sama empat tahun berikutnya, pasukan racikan Tite hanya finis di babak perempat final.

Kedua, reaksi pendukung Brazil yang memberikan sambutan tidak respek kepada Neymar dan rekan-rekan. Bus yang membawa pasukan juara lima kali piala dunia itu dihadang, dilempari dengan batu dan telur. Para suporter melampiaskan kekecewaannya lantaran tim kebangggaannya gagal mewujudkan impian meraih tropi piala dunia.


Tapi Federasi Sepak Bola Brazil (CBF) memilih tidak bersikap gegabah. Mereka mempertimbangkan secara objektif sepak terjang Tite selama mengemban tugas menakhodai tim Samba. CBF melihat visi dan taktik yang dikembangkan Tite telah berpengaruh siginifikan terhadap peningkatan performa Brazil. 

Memang dia tidak bisa menebus kegagalan timnas Brazil di Piala Dunia 2014, tapi kinerja sosok pelatih pengganti Dunga ini telah mengembalikan Selecao ke jalur yang benar, dengan meraih serentetan kemenangan dan jumlah kebobolan yang sangat minim.

Saya sendiri sangat senang Tite masih dipercaya melanjutkan karier kepelatihannya bersama tim Samba. Amat disayangkan jika Tite dipecat. Sebab menurut saya tugas dia membangun kembali fondasi kejayaan Brazil belum sepenuhnya tuntas.

Sentuhan Perbaikan 

Meski tidak sedikit yang terpesona dengan kualitas ketangguhan back line Brazil, Tite tetap merasa belum puas. Di mata Tite, lini belakang yang dikomandoi Thiago Silva belum mencapai level sempurna. Sisi-sisi kelemahan di sektor pertahanan masih perlu sentuhan perbaikan.

Sentuhan perbaikan dilakukan Tite dengan mengubah komposisi pemain belakang. Kepala pasukan pertahanan tetap diemban oleh Thiago Silva. Hanya saja mantan pemain AC Milan ini tidak dilagi dipasangkan dengan Joao Miranda. 

Performa Miranda yang mulai melempem menjadi alasannya. Dalam musim 2018-2019, Miranda hanya menjadi penghias bangku cadangan di Intermilan.

Pilihan jatuh kepada Marquinhos. Kerja sama yang sudah terbangun sejak lama antara Marquinhos dan Silva di PSG merupakan modal utama dalam menjalin koordinasi dan komunikasi. Marquinhos tahu luar dalam cara bermain Silva, begitu pun sebaliknya. 

Bagaimanapun koordinasi dalam bertahan tidak bisa dipandang remeh. Sehebat apa pun materi center back, kalau tidak ada koordinasi yang bagus, pertahanan akan mudah kocar-kacir.

Marquinhos sendiri di klubnya tidak didaulat penuh sebagai center back. Kadang ditugaskan mengisi gelandang bertahan. Dengan kemampuan serbabisa ini, Marquinhos memiliki mental baja dan keuletan dalam bertahan. 

Sedangkan posisi full back kanan diisi oleh Dani Alves. Alves merupakan pemain paling veteran. Usianya sudah 36 tahun, tapi tetap saja Tite memberikan tempat prioritas. 

Selain Alves, ada Fagner dan Eder Militao yang berebut pos di bek kanan, Fagner gagal menaklukkan hati sang pelatih akibat penampilannya di Piala Dunia 2018 yang tidak mengesankan. Sementara Eder Militao merupakan wajah baru. Dia masih minim jam terbang bersama timnas senior.

Alves tidak saja menjadi pilihan utama, Tite bahkan memberikan kepercayaan untuk memegang ban kapten. Dalam pandangan Tite, Alves termasuk salah satu pemain gaek yang berhasil “melawan usia”. 


Meski umurnya memasuki masa pensiun, Tite tidak khawatir sektor pertahanan kanan yang dikawal Alves akan menjadi sasaran empuk serangan kubu lawan. Mantan pemain Barcelona ini justru bisa membuktikan dirinya sanggup berkontribusi dalam menyerang. 

Proses terciptanya gol pertama ke gawang Argentina di semifinal Copa America 2019 berawal dari gocekan Alves yang membuat pemain lawan mati langkah. Meniru gaya unik Ronaldinho (tidak melihat siapa yang akan diumpan), bola kemudian disodorkan ke Firmino. Firmino meneruskan dengan memberikan asis datar ke tengah lalu disambut oleh Gabriel Jesus. 

Untuk posisi bek kiri, Tite memberikan kejutan. Marcelo tidak dipanggil. Namanya tidak tercantum dalam daftar skuad Brazil. 

Tedepaknya punggawa Madrid ini membuat Tite lebih leluasa memilih pemain berkarakter bertahan. Dia bisa menurunkan Filipe Luis atau Alex Sandro. Filipe Luis bermain sejak dari fase grup hingga babak pertama perempat final, selebihnya Alex Sandro yang mengambil alih peran hingga ke partai pamungkas.

Keduanya punya level kualitas yang setara. Alex Sandro bukan pemain pelapis dari Filipe Luis, sebaliknya Filipe Luis tidak lebih bagus ketimbang Alex Sandro. Ketika Filipe Luis ditarik keluar dan digantikan Alex Sandro, sektor kiri pertahanan Brazil tidak lantas berubah drastis menjadi goyah dan mudah ditembus.

Felipe Luis maupun Alex Sandro tidak seagresif Marcelo melakukan tusukan ke depan. Keduanya lebih disipin dalam bertahan. 

Tipikal permainan disiplin inilah yang sangat dibutuhkan Tite untuk memberikan keseimbangan pada lini pertahahan. Bek tengah ataupun gelandang bertahan tidak perlu harus menutup lubang pertahanan sektor kiri hanya gara-gara Felipe Luis maupun Alex Sandro keasyikan menyerang.

Selain itu, Tite juga menemukan sosok baru yang sangat tepat mendampingi Casemiro. Dalam meracik tim Samba, Tite menerapkan formasi favoritnya; 4 2 3 1. 

Menggunakan pola double pivot, Casemiro harus punya tandem. Di Piala Dunia 2018 pilihannya adalah Paulinho. Di Copa America 2019, siapa yang dipilih mengingat Paulinho tidak dipanggil lagi membela tim Samba.

Tite sangat terpikat dengan Arthur Melo. Saking terpikatnya, sampai dia mendapat hak paten berduet dengan Casemiro. Gaya mainnya yang tenang membuat Casemiro tidak mudah kehilangan kendali ketika Brazil terus-menerus berada dalam tekanan. 

Kolaborasi Arhtur dan Casemiro di posisi jangkar memberikan perlindungan ekstra pada lini pertahanan. Kolabarasi ini juga menghadirkan kekuatan yang sanggup bertarung di lini tengah untuk merusak skema serangan yang dirancang lawan.  

Sisi lain kelebihan Arthur yang bikin Tite makin kesengsem adalah kemampuan passing dan kontrol bolanya yang bagus. Umpan-umpan pendek pun meluncur deras dari kakinya. 

Skill individu ini sangat menunjang daya kreatifnya dalam menyerang. Tidak heran jika eks pemain Gremio ini mampu membalikkan timnya dari kondisi tertekan ke posisi menekan. Dalam dirinya mengalir darah seorang play maker sekaligus gelandang bertahan.

Inilah sentuhan penyempurnaan lini pertahanan yang mengantarkan Brazil menjadi kampiun di ajang Copa America 2019. Skuad besutan Tite hampir mencatatkan nir-bobol (clean sheet). Melakoni pertandingan sejak dari mulai fase grup hingga semifinal, gawang kesebelasan Selecao masih tetap perawan. 

Pecah telur akhirnya terjadi juga. Di partai final menghadapi Peru, Alisson Becker dipaksa memungut bola dari jalanya. Tapi telur pecah itu tidak sampai menyebabkan Brazil menelan kekalahan.

Artikel Terkait