Pada era ini, untuk memenuhi sebuah kebutuhan, ada saja bahan yang dilakukan demi mencapai kebutuhan tersebut. Saat ini, indonesia melanda krisis kepercayaan. Dimana, segala kebutuhan tergantung kepada produk-produk yang merusak alam. Seperti halnya tisu. Kita sering melihat tisu ini digunakan oleh sebagian besar kalangan cewek. Banyak cara untuk menggunakan benda ini. 

Ada untuk pajangan dalam mobil, ada untuk alat pembersih di meja makan. Namun, ada pula yang menggunakannya tiap hari untuk menjaga kebersihan diri. Itulah yang tiap hari digunakan oleh wanita. Bahkan, tisu tersebut selalu dibawahnhya kemanapun ia pergi. Untuk menghapus keringat, ataupun untuk membersihakan suatu yang kotor dari sekitarnya.

Namun herannya, kebutuhan tisu yang ia ciptakan melebihi tumpukan kertas yang ia hasilkan. Melebihi pembelian buku yang ia beli. Bahkan, menjadi agenda rutin untuk membeli tisu. Terlebih perusahaan tisu dengan berbagai merek telah muncul di Indoensia. Kini dengan mudah kita dapat menjumpai penjual tisu. Di pinggiran lampu lalu lintas atau traffick light. 

Di tempat pengisian bahan bakar seperti SPBU pertamina. Semua bisa kita dapat dengan mudah. Bahkan mirisnya, kini ada usaha yang hampir menyerupai penjualan barang dengan merelakan jasa untuk berjualan tisu. Berkeliling dikampus dengan membawa lapaknya. Ya, targetnya benar. Kebanyakan kalangan mahasiswa banyak menggunakan tisu. Utamanya kaum mahasiswi.

Fakta yang terjadi bahwa, dalam seminggu wanita membeli 1 pack tisu berisi 40 sheet. Ini membuktikan dalam seminggu 1 wanita membeli 1 pack tisu, yang artinya menebang 1 pohon yang berusia 6 tahun. Terlebih, dalam satu tarikan tisu, dia dapat mencabut hingga 3 lembar tisu hanya untuk membersihkan keringat di wajahnya. Bukan kah ini artinya, keringat yang ia cipatakan malah membuat alam semakin rusak.

Kita pasti pernah mendengar pada zaman dahulu, dimana wanita di trendkan dengan sapu tangan. Mengapa hal itu tidak dilaksanakan sampai sekarang. Jawabannya, 3 dari 5 wanita yang saya tanyakan menjawab malas untuk mencuci dan tidak efektif dalam pembersihan kuman. Sebagian menjawab itu zaman dahulu. Artinya, wanita pembersih mulai terlilit dengan kebutuhan miris di sekitarnya. Bukan menjadi hal lumrah ketika wanita menggunakan tisu. Itu artinya dia akan menjadi wanita yang super pembersih.

Padahal, tindakan yang ia lakukan selalu merelakan hutan indonesia untuk di tebang. Mirisnya, permasalahan ini mereka pahami. Tapi, karena adanya gengsi dan tekanan di sekitarnya lah yang menyebabkan mereka untuk tetap menggunakan tisu. Indahnya alam zaman dahulu. Saat wanita tidak tergantung dengan tisu. Dimana wanita tidak mempedulikan keadaan sekitar. Walaupun trend, tapi inilah trend yang bermanfaat. Bukan malah membanggakan sebuah tindakan yang jelas jelas merusak alam.

Saat kita berada di sekitaran cewek pembersih. Isi dalam tas yang paling utama adalah tisu. Setumpuk tisu yang ia keluarkan terlebih dahulu untuk menghindari wajahnya terkena keringat. Membersihkan kursi dan meja yang ia duduki dengan menggunakan tisu. 

Debu berada di sekitarnya artinya ia berjalan dengan menutupi hidung dan mulut menggunakan tisu. Saat tisu jatuh, maka di situlah tisu sudah menjadi sampah. Terpakai atau tidak, kalau sudah jatuh yah menjadi sampah. Jika hal ini terus dilaksanakan, maka ini akan menjadi hal yang sangat buruk dalam menangani kasus lingkungan.

Bukan saatnya kita meremehkan atau bahkan merendahkan kaum wanita. Tapi, sewajarnya lah ketika kita denngan baik memberitahukan. Sepenting apa tisu bagi dirimu dan sepenting apa hutan bagi dirimu. Untuk menghindari tindakan diskriminasi terhadap kaum wanita, maka sebaiknya mulailah sadar. Penggunaan tisu bukan semata-mata hanya untuk menghemat biaya anda. 

Tapi benar-benar untuk menjaga kelestarian hutan kita. Tisu bukan sebagai wadah untuk membersihkan wajah kita. Bukan hanya sebagai pemnolong saat debu itu datang. Dan bukan pula sebagai alat pembersih tempat duduk kita. Tapi, tisu akan menjadi musuh besar kita saat hutan mulai menipis.

Bayangkan untuk 1 pack tisu berisi 40 sheet habis dalam satu minggu. Pohon di tebang 1 pohon, untuk 1 pack tisu berisi 40 sheet. Mirisnya pohon tersebut berusia 6 tahun. Belum tumbuh pohonnya, kita malah semakin banyak membeli tisu. 

Tisu yang kita gunakan tidak sebanding dengan jumlah pohon yang kita tebang. Bayangkan jika 1000 wanita berhenti menggunakan tisu dalam sebulan. Bukankah akan banyak pohon yang terselamtkan. Bukankah kita semakin menjaga hutan kita. Lebih baik kita mengeluarkan tenaga kita untuk membersihkan sapu tangan dibandingkan harus selalu menggunakan tisu.

Sehebat apapun rayuan sang pemilik modal untuk menjualkan tisu. Semakin percayalah bahwa merka menipumu. Kalian telah tertipu dengan kegunaan benda tersebut. Sehingga kita mulai lupa dari mana semua benda ini berasal. Tisu bagi cewek pembersih merupakan hal yang menjadi biasa saja. Tapi sadarkah, hal biasa ini akan menjadi binasa jika kita mulai tidak mencari tahu. 

Hal ini akan menjadi binasa saat pohon-pohon di hutan mulai ditebang karena industri tisu ini. Apakah kita akan menutup mata, apakah kita akan terus menutup telinga. Sedangkan pemilik tisu terus merayu kalian untuk membeli prodaknya. Setidaknya, kita sudah mulai sedikit sadar.

Kesadaran ini akan menjadi lawan kita ketika kita hanya menganggapnya hal biasa. Ketika kita menganggap remeh semua informasi penting seperti ini. Bukan saatnya untuk mempertahankan ego pribadi. 

Tapi saatnya untuk mementingkan kehidupan kita kedepannya. Tisu, tidak dapat menolong kita saat kita membutuhkan oksigen. Dan tisu tidak dapat menolong kita saat krisis air akan menerjang indonesia. Karena tisu hanya mampu menolong kamu saat kamu berkeringat,  dan saat debu ada di sekitarmu.

Ingat, itu semua bukan menjadi hal yang baik untuk lingkungan kita. Tisu cewek pembersih mungkin bisa saja hilang saat ia mulai menyadari akan keerugian yang ia ciptakan. Saat cewek pembersih mulai tahu bahwa beralih dari tisu adalah hal yang sangat baik. 

Beralih dari tisu itu menyelamtakan hutan indonesia. Kini sekarang, tinggal langkah yang di ambil oleh si cewek pembersih. Tinggal tindakan yang harus ia ciptakan. Apakah ia harus bertahan, atau akan terus berlanjut untuk menggunakannya.

Melalui berbagai macam gambaran di atas, seharusnya kita semua sudah mulai sadar. Karena tisu bukan hanya menjadi lawan bagi kita, tapi tisu sudah menjadi  musuh buat kita. Jangan biarkan tisu menjadi kawan kita. Kita tidak perlu bahagia dengan janji-janji pemilik modal yang selalu menutupi diri dari kebenaran yang ada. Kita hanya perlu tahu bahwa saat ini, benda ini tak begitu penting untuk kita. 

Yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga hutan kita. Agar, apa yang selama ini saudara kita dalam menjaga ekosistem hutan tetap terus terjalin. Sehingga apa yang kita butuhkan saat ini, dan kedepannya terus berlanjut. Karena tisu, hanya menyenangkan kita sesaat saja. Saya rasa kenikmatan yang sesaat itu tidak ada baiknya untuk diri kita.