"Kita tulis itu karena kita murka. Murka tiada terhingga, marah besar, karena bangsa kita, si seperempat manusia diperlakukan seenaknya oleh pemerintah yang semestinya menjaga keselamatan si seperempat manusia yang lemah dan tidak berdaya itu!" tutur Tirto saat ia berhasil menerbitkan sebuah artikel yang menyinggung perlakuan bangsa kolonial terhadap pribumi berjudul 'monyet ingusan yang masih suka menyusu".

Ia menulis itu tatkala Mas Soerodimedjo mengadukan persoalan di Desa Bapangan, Distrik Cangkep, Purworejo. Calon lurah yang diusung pejabat pemerintah di desa itu tidak disukai oleh warga, sementara calon lurah yang disukai oleh warga, yaitu Mas Soerodimedjo sendiri, justru ditangkap dan dihukum krakal atau kerja paksa, dengan tuduhan berusaha mengacaukan proses pemilihan kepala desa.

Artikel itu merupakan salah satu bentuk aksi pembelaan lewat media yang dilakukan Tirto, dan itu merupakan bentuk jurnalisme advokasi, semangat menyebarkan rasa merdeka disemayangkan dalam dua tradisi sekaligus; pemberitaan dan advokasi yang dilakukan Tirto melalui Medan Prijaji, merupakan awal sejarah pers Nasional Indonesia.

N.V Medan Prijaji merupakan pers yang sejak pertama terbit diawaki pribumi, Tirto Adhi Soerjo juga yang mendirikan Medan Prijaji. 

Menurut Rahzen, tahun 2007 adalah seabad pers nasional terhitung saat Medan Prijaji terbit pertama kali pada Januari 1907. 150 tahun sebelum Medan Prijaji terbit, sebenarnya di kawasan Hindia-Belanda media massa telah berkembang pesat.

Jika kita tidak menggunakan lebel 'pribumi' atau 'Indonesia', maka Bataviasche Nouvelles merupakan media massa yang paling pertama berkembang di Indonesia yang melakukan aktivitas penerbitan sejak tahun1744-1746.  Bataviasche Nouvelles merupakan media massa yang didirikan oleh orang Belanda dan produk jurnalistiknya pun menggunakan bahasa belanda.

Selain Bataviasche Nouvelles, ada beberapa media massa yang juga aktif dalam aktifitas penerbitan sebelum Medan Prijaji, seperti Bromartani (1865) yang terbit di Solo, Tjahaja Sijang di Minahasa (1868) dan Bintang Timur di Padang (1858). Namun, sederet koran itu bukanlah milik pribumi meskipun dalam memberitakan sudah menggunakan bahasa lokal.

Tahun 1907 Tirto hadir sebagai penggagas N.V Medan Prijanji dan mengawali sejarah Pers indonesia. Karier jurnalistik Tirto bermula ketika ia menjadi penulis lepas pada surat kabar Chabar Hindia Oalanda, di Batavia yang terbit dalam kurun 1888-1897. Setelah surat kabar ini bangkrut, ia kemudian pindah menjadi penulis kembali pada surat kabar Pewarta Priangan yang terbit dibandung.

1902 Pewarta Priangan bangkrut akhirnya Tirto kembali ke Pemberita Betawi dan menjabat sebagai redaktur. Pemberitaan Betawi banyak mengangkat penderitaan rakyat bahkan melalui media massa cakrawala Tirto semakin luas akan tanah kolonial dan mampu menyimpulkan pola-pola penjajah di Hindia-Belanda.

Dalam pandangannya itu ia mulai melihat pers sebagai peluang untuk melakukan perlawanan dan mulai berpikir untuk mendirikan penerbitan sendiri. 9 Februari 1903, cita-cita luhurnya itu akhirnya terealisasikan atas berdirinya Sunda Berita.

Namun sunda berita tidak bertahan lama dan harus gulung tikar karena mengalami kerugian yang besar. Akhirnya Tirto melakukan perjalanan keseluruh penjuru Negeri untuk mengumpulkan dana demi mendirikan kembali perusaahan penerbitan.

Akhirnya, setelah menemui beberapa bangsawan di seluruh wilayah Indonesia, tanggal 1 Januari 1907, berdirilah Medan Prijaji. Melalui perusahaan penerbitan ini Tirto lebih gencar mengritisi perlakuan bangsa kolonial terhadap rakyat.

Medan Prijaji terus mengalami perkembangan dan satu-satunya di masa itu lembaga penerbitan yang berbentuk perusahaan karya anak bangsa yang memiliki badan hukum dengan nama Naamloze Vennotschap (NV) Medan Prijaji, dan mengawali sejarah pers Nasional.