Salah seorang pemikir kontemporer yang cukup saya kagumi adalah Muhammad Syahrur (lahir 1938). Seorang pemikir Syiria yang cukup kontroversial, yang buku-bukunya sempat dilarang beredar di toko-toko buku di Timur Tengah. Terlepas pro-kontra terhadap beliau, gagasan-gagasannya dalam melihat persoalan-persoalan yang dialami umat Islam, cukup bisa membuat dahaga kehausan intelektual saya terobati.

Salah satu dari sekian banyak gagasan Syahrur yang cemerlang itu terkait dengan pertanyaan besar ini: mengapa Islam belum bisa maju? Mengapa perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam selalu stagnan?

Syahrur menyatakan, penyebab dunia Islam seperti sekarang ini –stagnan, bejalan di tempat, tidak bisa bersaing, dan selalu melihat sesuatu ke belakang– disebabkan masih adanya praktek“istibdad” dalam Islam. Istibdad ini kalau diterjamahkan secara letterlek ke dalam bahasa Indonesia adalah “tirani”.

Akan tetapi pengertian “tirani” versi Syahrur tidaklah sama persis seperti pengertian tirani dalam KBBI. Dalam KBBI, tirani dimaknai sebagai: “Kekuasaan yang dipergunakan sewenang-wenang” atau “Suatu negara yang diperintahkan oleh seorang raja atau penguasa yang suka bertindak sekehendak hatinya.”

Syahrur memaknai kata “tirani” sebagai bentuk pembebekan dan pengekoran terhadap produk-produk keilmuan masa lalu yang dalam banyak hal, tingkat relevansinya tidak ada lagi.

Lebih lanjut Syahrur meyebutkan, pada hakikatnya, apa yang dikonsumsi umat Islam saat ini merupakan bentukan dari masa lalu, yang anehnya, kita tidak bisa keluar dari sana, malah menikmati dan merasa nyaman dengan keadaaan tersebut.

Dari hasil ekplorasinya, Syahrur melihat tirani terjadi dalam enam ranah: akidah, pemikiran, pengetahuan, sosial, ekonomi-politik, dan tirani ekonomi (Qudsy Saifuddin Zuhri: 2007, xi).

Pertama, tirani akidah. Tirani akidah ini bisa dilihat dari sikap pasrah umat Muslim, sebagai sikap warisan masa lalu, yang meyakini bahwa pekerjaan, rizki, dan umur telah ditetapkan semenjak zaman azali.

Sikap ini menurut Syahrur, harus diberangus--karena tidak lagi releven dengan konteks sekarang, di mana dalam setiap aspek dan lini kehidupan penuh dengan persaingan– diganti dengan konsep akidah yang lebih progresif dan membebasakan.

Kedua, tirani pemikiran. Ini termanifestasikan dari pola relasi antara guru dan murid dalam Islam. Syahrur melihat, bahwa dalam Islam sorang murid menyerahkan pada gurunya untuk berpikir tentang dirinya. Sikap seperti ini akan berdampak tidak tumbuhnya sikap kritis dalam generasi muda Muslim. Bahka telah terjadi, apa yang disebut Syahrur dengan istilah taklid buta atas nama “penghormatan”.

Ketiga, tirani pengetahuan. Tirani jenis ini merupakan lanjutan dari tirani pemikiran. Tirani ini menekankan pada aspek kesalahan berpikir para ulama sekarang atas al-Qur’an.

Dalam mengkaji isi al-Qura’an, banyak ulama yang hanya melihat aspek ritual, ibadah, dan spritualnya saja tanpa mengeksplorasi lebih jauh tentang sains, teknologi, dan persoalan-persolan kontemporer lainnya. Akibatnya peradaban umat Islam belum bisa naik ke level peradaban ilmu, masih berkutat di perdaban fikih.

Keempat, tirani sosial. Ini bisa dilihat dari sikap umat Islam yang selalu mengidealkan masyarakat Muslim yang terdahulu. Seolah-olah generasi terbaik adalah generasi Islam awal. Padahal dalam al-Quran, kualitas seseoang tidak diukur dari kapan dan di mana dia berada, melainkan sesuai dengan tingkat kesadarannya terhadap Tuhan dan kemanusian.

Kelima, tirani sosial-politik. Jenis tirani ini digambarkan Syahrur melalu tiga tokoh yang disebukan dalam al-Quran, yaitu Fir’aun, Haman, dan Qarun. Fir’aun sebagai simbol Pengusa politik, Haman sebagai simbol penguasa agama, sementara Qarun penguasa modal. Perselingkhan ketiga tokoh inilah yang menyebabkan dunia Islam belum bisa maju-maju. Di beberapa negara muslim sekarang ini, perselingkuhan seperti ini sering terjadi.

Keenam, tirani ekonomi. Tirani ini tergambar dari adanya fonemena Qarun di dunia Muslim, yang menguasai korporasi-korporasi. Di dunia Arab, masih terjadi praktik monopoli yang dilakukan kalangan keluaga raja terhadap petrolium, minyak, dan lainnya. Bagi Syahrur, Qarunisme sama dengan kapitalisme.

Dari hasil eksplorasinya di atas, Syahrur kemudian memberikan tawaran perlunya sebuah dekonstruksi atas pemahaman dan pola pikir umat Islam selama ini.

Pertama, pemahaman terhadap Islam sebagai agama yang hanif, Syahrur memaknainya dengan “elastisitas Islam sesuai dengan ruang dan waktu.” Kedua, Syahrur membayangkan bahwa al-Quran itu turun saat ini dan untuk masyarakat yang ada pada saat ini dan harus dipahami pada konteks dan dengan metodologi sekarang ini juga.

Ketiga, konstruksi konsep negara Islam perlu dibenahi (Syarur tidak setuju dengan konsep negara Islam versi Arab Saudi). Keempat, perlunya pengganti institusi tiran yang selama ini telah menggurita pada hampir seluruh negara Islam (Qudsi Saifuddin Zuhri, 2007: xvii)

Dengan tawaran yang dibuatnya, Syahrur berkeyakinan bahwa Islam akan menikmati kejayaannya, sepeti yang dulu pernah dicicipinya.